
Kepolisian Filipina melaporkan telah menembak mati 15 orang terduga kriminal narkoba, termasuk Wali Kota Ozamiz Reynaldo Parojinog Sr dan istrinya.
Parojinog merupakan salah satu politikus yang diduga terlibat kartel narkoba oleh Presiden Rodrigo Duterte secara publik.
"Parojinog adalah tersangka kartel obat-obatan terlarang yang paling dicari. Kami menegakkan hukum untuk melindungi orang-orang yang inginkan perdamaian di negara ini. Bagaimana kita bisa meneggakkan hukum jika kita takut pada kartel narkoba?" ucap kepala kepolisian Ozamiz, Jovie Espenido, Senin (31/7).
Kepolisian mendapat surat perintah penggeledahan kediaman Parojinog yang diduga menyimpan senjata api secara ilegal. Saat razia dilakukan, penjaga rumah melepaskan serangkaian tembakan kepada polisi yang akhirnya memicu bentrokan hingga menewaskan belasan orang termasuk Parojinog sendiri.
Diberitakan The Independent, para penjaga rumah juga menabrak kendaraan polisi hingga melukai seorang petugas keamanan. Seorang pengawal Parojinog juga membawa granat dan meledakkannya saat bentrokan terjadi di dalam rumah.
Perang melawan narkoba menjadi kampanye utama yang terus digaungkan Duterte sejak memenangi kursi kepresidenan pada pertengahan tahun lalu.
Sejak itu pun, kampanye ini mengundangkan kritikan hingga kecaman dunia internasional lantaran dianggap tak memedulikan HAM.
Dalam perang anti-narkoba ini, Duterte memberi kewenangan polisi untuk membunuh setiap anggota kriminal dan pengguna narkoba. Sejak digencarkan, setidaknya 8000 pengedar narkoba tewas tanpa proses peradilan jelas di tangan polisi dan badan penegak hukum.
Polisi mengatakan mereka terpaksa menembak mati tersangka hanya untuk mempertahankan diri. Duterte pun membela aparatnya, menganggap para kritikus tidak tepat jika menyalahkan polisi terhadap kasus kematian itu.