icon-category Gadget

Review Asus VivoBook 13 Slate OLED: Layarnya Ajib, Enak Buat Ngetik

Asus VivoBook 13 Slate OLED (Foto: Muhammad Faisal/Uzone.id)

Uzone.id - Kebiasaan masyarakat saat ini telah berubah gegara pandemi, khususnya bekerja. Kini, bekerja gak harus ke kantor saja, tapi juga bisa mobile dimanapun. 

Asus melihat dengan jeli kebiasaan ini sebagai kesempatan yang baru dengan merilis laptop terbaru VivoBook 13 Slate OLED yang juga berfungsi sebagai tablet.

Biasanya, karyawan kantoran (termasuk kami) bekerja di luar menggunakan tablet dengan keyboard bluetooth atau laptop tipis yang mudah dibawa kemana-mana. 

Mungkin Asus berpikir "Gimana kalau meluncurkan perangkat yang berfungsi sebagai laptop dan juga tablet?", lalu jadilah Asus VivoBook 13 Slate OLED.

Laptop ini memang punya rasa seperti tablet. Keyboard-nya bisa dilepas, dan dioperasikan layaknya tablet Android pada umumnya. 

Nah, berikut ini review dari laptop terbaru Asus VivoBook 13 Slate OLED yang resmi masuk ke Indonesia dengan harga Rp9 jutaan.

Desain Ringkas, Bisa Berubah jadi Tablet 

Secara form factor, laptop ini betul-betul ringkas. Kalau tak dipasangkan dengan keyboard-nya, ketebalannya hanya 0,79cm saja, dengan berat 0,78 kg yang bahkan menyerupai berat tablet Android berlayar besar saat ini. 

Hebatnya, laptop ini masih berfungsi dengan begitu baik walau tak dipasangkan dengan keyboard-nya. Berlaku sebagai tablet, pengguna dapat memakainya pada orientasi portrait maupun landscape.

Menariknya, tablet… hmmm laptop ini juga mendukung inputan dari pulpen pintar atau stylus Asus Pen 2.0. Dijual terpisah memang, tapi berguna banget buat kalian yang ingin mengubah VivoBook 13 Slate OLED sebagai 'alat gambar'.

Asua Pen 2.0 mendukung 4.096 level sensitivitas tekanan, sehingga pas banget buat pengguna yang suka gambar atau corat-coret idenya di atas layar. Latensinya juga rendah hingga 36ms, sehingga respon inputnya lumayan cepat.

Layaknya tablet Android, stylus ini dapat terhubung melalui bluetooth rendah daya, memungkinkan pengguna melakukan screenshot, bisa berguna sebagai pointer ketika persentasi, dan tugas-tugas lainnya.

Di bagian atas, terdapat tombol power yang juga berfungsi ganda sebagai alat sensor sidik jari untuk membuka kunci layar via Windows Hello. 

Sementara di kanan, ada tombol volume dan dua speaker di bawahnya. Di kiri, ada jack audio 3,5mm, dua USB-C 3.2 Gen 2 yang dukung DisplayPort dan Power Delivery, serta microSD reader. Di bawah, ada Pogo Pin untuk menghubungkan laptop dengan keyboard.

Detachable Keyboard yang Enak Buat Ngetik

Keyboard laptop ini bisa dilepas pasang, mirip seperti tablet. Kalian ingat Samsung Galaxy Tab S Series terbaru yang bisa dipasang dengan keyboard melalui Pogo Pin? Nah, Asus VivoBook 13 Slate OLED juga punya kebolehan yang sama.

Daripada menggunakan bluetooth yang latensinya tinggi sehingga ada delay, koneksi lewat Pogo Pin bikin apa yang kita ketikkan muncul di layar pada saat yang sama.

Keyboard Asus VivoBook 13 Slate OLED berjenis full-sized. Area keyboard-nya besar dengan gap antar tombol yang cukup lega, sehingga jarang sekali bagi kami ngetik typo saat bekerja. Bahaya kan, laporan atau proposal penting kalau kata-katanya banyak typo?

Soal pengalaman ngetik, enak banget! Tombolnya clicky, walau tak cetak-cetek seperti keyboard mekanik. Yang kami apresiasi, ukuran touchpad juga lumayan besar.

Cuma ada kekurangan yang kerap kami rasakan. Bug mungkin ya, semoga ada perbaikannya lewat update OS.

Masalah tersebut adalah, keyboard sering tak terdeteksi saat laptop dinyalakan pertama kali. Problem serupa juga terjadi saat laptop ditutup atau dalam kondisi sleep. Untuk mengatasinya, laptop harus direstart agar keyboard kembali terdeteksi.

Layar OLED Berkualitas

Layar laptop rasa tablet ini kualitasnya ajib. Panel OLED-nya berukuran luas 13,3 inci dengan resolusi Full HD (1.920 x 1.080) piksel. 

Layar ini mampu menayangkan konten HDR, punya rasio kontras hingga 1.000.000:1, response time 0,2 ms, cakupan warna sampai 1 miliar warna, intensitas cahaya hingga 500 nits, lalu sertifikasi PANTONE, TUV Rheinland low-blue light, anti-flicker, dan Dolby Vision.

Secara kualitas, tipikal OLED banget sih sepertinya ponsel berlayar sama yang biasa tersedia di pasaran. Namun karena cakupan warnanya yang luas serta intensitas cahaya yang tinggi, visualisasi yang tampil sangat luar biasa.

Nonton YouTube dan Netflix di resolusi tertinggi ditampilkan dengan amat baik. Detailnya mantap, warnanya pun bisa dinikmati.

Tipikal OLED juga, warna hitam yang tampil juga begitu gelap, pas nih kalau kalian suka mengaktifkan Dark Mode di pengaturan.

Multitasking Agak Kepayahan, Baterai Awet

Spesifikasi Asus VivoBook 13 Slate OLED sebenarnya asyik untuk kerja dan sekadar nonton film saja. Tapi untuk tugas lain apalagi membuka banyak aplikasi dalam satu waktu bersamaan, cukup keteteran.

Laptop ini ditenagai prosesor Intel Pentium Silver N6000 dengan kecepatan standar 1,1 GHz dan clock-speed tertingginya menyentuh 3,3 GHz. Prosesor tersebut mengusung CPU 4-core.

Chipset ini dipadukan dengan RAM 8 GB LPDDR4X dan memori penyimpanan 256 GB berjenis SSD PCIe Gen3. Adapun kartu grafisnya terintegrasi saja Intel UHD Graphics.

Kurang ngigit-nya performa laptop ini sudah terasa ketika laptop akan dinyalakan. Waktu booting-nya cukup lama sampai masuk ke halaman kunci layar.

Paling malas kalau bug keyboard tak terdeteksi muncul. Proses restart-nya juga lumayan lama, cukup menghabiskan waktu lah walaupun tak sampai 5 menit.

Yang kami apresiasi adalah kemampuan baterainya. Baterai Asus VivoBook 13 Slate OLED bisa tahan dipakai kerja dan nonton film sampai 8 jam lebih dengan baterai tersisa 2 persen. Sementara untuk kecepatan ngecas, kurang lebih sejam sudah penuh. 

Daya tahan baterai
Proses charging

Sektor baterai memang jadi kelebihan laptop ini dan seolah 'menutupi' kekurangan dari Asus VivoBook 13 Slate OLED terkait kinerjanya. 

Kesimpulan

Laptop rasa tablet, memang jadi ciri khas Asus VivoBook 13 Slate OLED. Kami yang seringnya kerja mobile di luar seperti liputan, dimudahkan saat memakai produk ini.

Dibawanya ringan dan ga bikin ribet, bisa dipakai layaknya sebuah tablet, dan punya baterai yang awet. Memang secara kinerja, gak boleh memaksanya untuk bekerja terlalu berat.

Buka banyak aplikasi atau tab di browser Google Chrome terlalu banyak, bakal membebani laptop ini. Namun kalau kerja biasa di Microsoft Office, Google Docs, atau sekadar browsing di Microsoft Edge, sudah lebih dari cukup.

Laptop ini tak cuma enak buat kerja aja, nonton serial atau film favorit di Netflix juga nikmat banget. Layar HDR-nya beneran bisa menampilkan tayangan yang detail dan berkualitas tinggi. Nonton YouTube pun apalagi kalau HDR, beuh mantap banget.

Well, laptop ini memang cocok buat pengguna yang ingin perangkat dengan form factor yang ringkas, mudah dibawa kemanapun, bahkan bisa diubah wujudnya menjadi sebuah tablet berlayar super luas dan berkualitas. 

Namun melihat harganya yang mencapai Rp9 jutaan, cukup berat bagi Asus untuk membuatnya terlihat menonjol di segmen ini. Apalagi, laptop ini berarti harus bersaing langsung dengan tablet berbasis Android dari Samsung, HarmonyOS besutan Huawei, dan iPadOS buatan Apple.

Tablet-tablet tersebut memiliki spesifikasi yang jauh lebih kencang, dan pastinya punya harga yang oke di kelasnya. Malah beberapa seri pun punya harga yang lebih murah ketimbang Asus VivoBook 13 Slate OLED.

Cek informasi menarik lainnya di Google News

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini