Review iPhone 18 Pro Max: Nggak Cuma Cantik, tapi Upgrade-nya Terasa
Review iPhone 18 Pro Max: mengusung chip A20 Pro 2nm, kamera variable aperture, dan daya tahan baterai luar biasa meski ukurannya terasa lebih berat.
Highlight Artikel
- iPhone 18 Pro Max ditenagai chip Apple A20 Pro berfabrikasi 2nm pertama di dunia dengan Neural Engine 32-core.
- Dynamic Island tampil 35 persen lebih kecil berkat pemindahan sensor Face ID ke bawah layar.
- Kamera utama 48 MP kini dilengkapi fitur variable aperture dengan empat pilihan bukaan lensa (f/1.48 hingga f/4).
- Daya tahan baterai ekstra awet dengan peningkatan kecepatan fast charging hingga 54W.
Uzone.id - Sudah semingguan pakai iPhone 18 Pro Max buat perangkat utama. Tentu ada plus minus-nya yang saya alami selama menggunakan smartphone ini, dan akan saya ungkap dalam review iPhone 18 Pro Max kali ini.
Info aja, sebelum pakai iPhone 18 Pro Max, saya gunakan iPhone Air sebagai daily driver. Nggak usah ditanya deh perbedaan pengalaman menggunakan keduanya, beda banget!
Selama seminggu, iPhone 18 Pro Max benar-benar dijadikan perangkat andalan buat kerja, ngonten, maupun menikmati hiburan, termasuk main game.
Soal performa sih memang ‘rata kanan’, peningkatannya benar-benar terasa selama saya menggunakan smartphone ini. Desainnya juga oke, apalagi warna Burgundy yang menarik perhatian. Tapi, apakah dengan harga mulai Rp29 jutaan benar-benar sepadan dengan peningkatannya? Berikut review lengkap iPhone 18 Pro Max.
Burgundy memang cantik, tapi gampang kotor
Kalau sudah pernah pegang iPhone 17 Pro Max, desain iPhone 18 Pro Max bakal terasa familier. Bentuk bodinya, ukuran, sampai tata letak tombolnya masih sama. Materialnya juga masih sama, bagian depan dilindungi Ceramic Shield 2, sedangkan rangkanya menggunakan aluminium yang menyatu dengan modul kamera belakang.
iPhone 18 Pro Max juga masih mengantongi rating IP68 tahan air dan debu. Fun fact, saking miripnya, casing resmi Apple maupun beberapa casing pihak ketiga untuk iPhone 17 Pro Max, bisa dipakai di iPhone 18 Pro Max.
Cuma beda cerita kalau sebelumnya pakai iPhone Air seperti saya. Sensasi menggenggamnya bak langit dan bumi—sebelumnya pakai iPhone enteng, sekarang justru pakai iPhone yang lumayan bulky.
iPhone 18 Pro Max punya ketebalan bodi 8,8 mm dengan bobot 249 gram, naik 15 gram dibanding iPhone 17 Pro Max. Bandingkan dengan iPhone Air, smartphone ini tebalnya cuma 5,6 mm dengan bobot 165 gram, atau 84 gram lebih enteng.
Ingat, bobot itu belum termasuk pakai casing. iPhone 18 Pro Max yang saya gunakan dipasangkan casing dari UAG model Plyo yang bobotnya sekitar 49 gram.
Kenapa harus pakai casing? Bodi iPhone 18 Pro Max lumayan licin ketika digenggam. Daripada kenapa-kenapa, mending dipasang casing aja, kan?nbsp;
Tapi otomatis, menggunakan smartphone ini dengan satu tangan dalam waktu lama, lumayan bikin pegal. Meski untungnya, distribusi bobot di iPhone terbaru ini cukup merata, sehingga bagian atasnya tidak terasa terlalu berat.
Lagian, bobot yang berat juga bukan tanpa alasan. Apple membenamkan baterai lebih besar dengan pelindung berbahan baja, ditambah sistem pendingin vapor chamber berukuran lebih luas di bagian dalamnya.
Bicara soal warna, iPhone 18 Pro Max hadir dalam empat warna, Black, Silver, Glacier, dan Burgundy. Warna terakhir boleh dibilang jadi hero color iPhone model Pro tahun ini, menggantikan Cosmic Orange pada seri tahun lalu.
Harus diakui, warna Burgundy memang cantik dan mewah, kesan elegannya juga dapet banget. Hanya saja, entah kenapa, penampang belakang iPhone 18 Pro dan 18 Pro Max gampang banget kotor karena bekas tangan atau sidik jari, terutama di area modul kamera belakang.
Debu juga gampang banget menempel di sela-sela cincin kameranya, jadinya lumayan sering saya lap biar tampilannya agak bersih. Untungnya, saya cuma ngelap bagian modul kameranya saja, karena sebagian besar bodi belakangnya sudah tertutup casing.
Dari depan, iPhone 18 Pro Max masih membawa layar 6,9 inci dengan bezel tipis dan rata di setiap sisinya. Dynamic Island-nya kini 35 persen lebih kecil setelah Apple memindahkan kamera inframerah ke bawah layar—posisinya ada di sudut kiri atas layar.
Posisi tombolnya juga tidak berubah. Tombol Action dan pengaturan volume berada di sisi kiri, sedangkan tombol daya dan Camera Control ditempatkan di sebelah kanan. Di bagian bawah terdapat port USB-C yang diapit lubang mikrofon dan speaker.
Intip layar kiri atasnya deh, ada Face ID di dalamnya
Peningkatan paling kentara pada layar iPhone 18 Pro Max adalah ukuran Dynamic Island yang sekarang 35 persen lebih kecil. Bentuknya masih kayak pil, tapi tidak lagi memanjang seperti sebelumnya.
Apple berhasil mengecilkan ukuran Dynamic Island setelah memindahkan kamera inframerah untuk Face ID ke dalam layar. Posisinya dipindah ke sudut kiri atas layar, bakal kelihatan kalau layarnya mati dan diarahkan ke sinar lampu atau matahari.
Dynamic Island yang lebih kecil bikin areanya terasa lega. Di iOS 27 sendiri, area mungil ini dapat menampilkan tiga Live Activities sekaligus.
Soal spesifikasi layarnya, iPhone 18 Pro Max bawa panel LTPO Super Retina XDR OLED seluas 6,9 inci dengan resolusi 1.320 x 2.826 piksel dan kerapatan 460 ppi. Artinya, konten yang ditampilkan punya warna yang memanjakan mata, baik untuk nonton film, scrolling medsos, atau main berbagai judul game yang kebanyakan AAA.
Layarnya juga mendukung ProMotion 120Hz yang adaptif dari 1Hz ke 120Hz. Ketika menampilkan gambar statis atau mengaktifkan Always-on Display, refresh rate-nya dapat diturunkan sampai 1 Hz. Sementara saat buka aplikasi yang mendukung, refresh rate-nya akan disesuaikan secara otomatis sampai 120Hz.
Layar ini punya tingkat kecerahan mencapai 1.000 nits untuk penggunaan normal, naik menjadi 1.600 nits dalam mode otomatis, dan bisa menyentuh 3.000 nits pada kondisi tertentu. Di luar ruangan dan di bawah sinar matahari, konten pada layar masih bisa dilihat dengan jelas.
Dukungan HDR10 dan Dolby Vision juga tersedia. Platform streaming yang mendukung format tersebut dapat langsung mengenali kemampuan HDR pada iPhone 18 Pro Max, sehingga bagian terang dan gelap pada film terlihat lebih detail.
Spesialnya AI di iOS 27
Pertama kali nyobain iOS 27 saat event WWDC 2026 pada Juni lalu, bikin saya nggak sabar nyobain iOS 27 versi stabil di iPhone 18 Pro Max.
Dan setelah menggunakannya langsung, ada beberapa hal yang saya suka peningkatannya ketimbang iOS 26. Kalian yang awalnya pusing dan nggak terbiasa dengan tampilan Liquid Glass, di iOS 27 dihadirkan slider khusus untuk mengatur tingkat transparansinya.
Selain itu, sistem juga jadi lebih pintar buat mengenali konten yang ada di belakang menu atau toolbar, kemudian memberikan pemisah agar tulisan dan ikon tetap mudah dibaca.
Seperti yang saya bilang di awal, Dynamic Island pada iPhone 18 Pro Max juga bisa menampilkan tiga Live Activities sekaligus. Caranya, tinggal swipe saja untuk beralih antar aktivitas aplikasi, misal notifikasi pengiriman atau perjalanan di aplikasi ride hailing, musik yang sedang didengar, atau navigasi yang lagi dinyalakan.
Upgrade yang paling saya suka adalah kemampuan Apple Intelligence terbaru. Kini, Siri AI lebih pintar, bisa diajak ngobrol, dan ngerti konteks, walau belum mendukung Bahasa Indonesia.
Pemrosesannya juga dibuat lebih pintar. Ketika permintaan pengguna lebih ringan, pemrosesannya dilakukan langsung secara on-device, sementara permintaan yang lebih kompleks akan diteruskan ke Private Cloud Compute.
Siri AI juga bisa diakses via aplikasi terpisah, dan dapat mengingat percakapan terdahulu, jadi lebih mirip aplikasi chatbot AI seperti ChatGPT, Gemini, atau Perplexity.
Siri AI juga bisa paham konteks personal dari pesan, email, foto, sampai informasi yang ada di iPhone 18 Pro Max. Misal, cari foto tertentu tanpa harus buka aplikasi Photos, tinggal minta saja ke Siri. AI ini juga paham konteks yang sedang tampil di layar, jadi bisa langsung bertanya ke Siri AI berkat broad world knowledge.
Tapi hal terbaiknya ada pada aplikasi Photos. Ada tiga fitur, pertama Extend buat memperluas area foto, kemudian Reframe untuk mengatur ulang komposisi gambar, serta Cleanup yang lebih baik dalam menghapus objek mengganggu.
Selain itu, Apple juga menghadirkan mode Siri di aplikasi Camera. Nantinya, kamera dapat diarahkan ke suatu objek, kemudian pengguna bisa bertanya langsung mengenai benda yang sedang dilihat.
A20 Pro jagoan, baterainya luar biasa
Urusan performa, iPhone 18 Pro Max memang susah dicari salahnya. Smartphone ini ditenagai A20 Pro terbaru, chip pertama Apple yang dibuat menggunakan proses fabrikasi 2nm—bahkan pertama di dunia sebelum Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6 tiba.
Apple A20 Pro membawa CPU 6-core yang terdiri dari 2x super-core pada kecepatan 4,93 GHz dan 4x efficiency-core dengan kecepatan 2,64 GHz. Di sektor GPU, A20 Pro punya 7-core dengan peningkatan yang diklaim 40 persen lebih tinggi dari A19 Pro.
Sementara untuk Neural Engine-nya, naik dua kali lipat dari 16-core menjadi 32-core untuk menangani berbagai pemrosesan AI secara on-device.
A20 Pro dipasangkan dengan RAM LPDDR5X 12 GB dengan bandwidth memori yang diklaim naik 50 persen dibanding generasi sebelumnya, sehingga pertukaran data antara CPU, GPU, dan Neural Engine bisa berlangsung lebih cepat.
Apple juga menerapkan arsitektur memori baru dengan posisi DRAM yang ditempatkan berdampingan dengan prosesor.
Selain mempersingkat jalur data, rancangan ini membantu pelepasan panas dan menjaga performa saat digunakan dalam waktu yang lama. Ditambah, ukuran vapor chamber pada iPhone 18 Pro Max juga lebih luas dibanding iPhone 17 Pro Max.
Bagaimana dengan hasil benchmark-nya?
Saya menguji iPhone 18 Pro Max yang sudah menjalankan iOS 27.2 menggunakan AnTuTu Benchmark versi 11. Skor yang diraih smartphone ini mencapai 3.351.381 poin.
Kemudian pada Geekbench 7, skor CPU-nya mencapai 4.022 poin untuk single-core dan 11.245 poin pada multi-core. Sementara pengujian GPU-nya menghasilkan skor 59.500 poin.
Nah untuk menguji kemampuan AI-nya, saya menggunakan Geekbench AI dengan tiga jalur pemrosesan berbeda, berikut hasil lengkapnya:
- CPU: 6.950 poin untuk single precision, 12.331 poin pada half precision, dan 9.171 poin untuk quantized.
- GPU: 12.873 poin untuk single precision, 24.453 poin pada half precision, dan 27.326 poin untuk quantized.
- Neural Engine: 6.958 poin untuk single precision, 54.686 poin pada half precision, dan 73.706 poin untuk quantized.
Sementara untuk mengetahui stabilitas performanya, saya menjalankan dua stress test di 3DMark. Pada skema Wild Life Stress Test, iPhone 18 Pro Max mencatat skor terbaik pada 10.017 poin dan terendah di 9.984 poin dengan stabilitas mencapai 99,7 persen dan frame rate berada di rentang 45-64 FPS.
Dari 20 putaran pengujian, performa grafisnya nyaris tidak turun sama sekali. Baterainya juga cuma berkurang 5 persen, dari 90 persen menjadi 85 persen.
Barulah ketika menjalankan Wild Life Extreme Stress Test, A20 Pro mulai kelihatan kewalahan. Skor tertingginya mencapai 8.130 poin, kemudian turun menjadi 5.685 poin pada putaran terendah dengan stabilitas 69,9 persen.
Sementara rentang frame rate-nya berada antara 22-60 FPS, sedangkan baterainya berkurang 10 persen dari 80 persen ke 70 persen.
Soal daya, iPhone 18 Pro Max ditopang baterai 5.391 mAh untuk versi dengan slot nano-SIM seperti yang saya review saat ini. Info saja, untuk model eSIM, kapasitas baterainya lebih besar, yakni 5.567 mAh.
Selama menggunakan iPhone 18 Pro Max, rata-rata screen on-time yang saya dapat berada di atas 5 jam sampai lebih dari 6 jam. Pola pemakaiannya juga campur-campur, mulai dari chatting dan komunikasi, buka medsos, motret, nonton Netflix atau Apple TV, main game juga lumayan sering.
Baterai iPhone 18 Pro Max ini bisa bertahan seharian penuh, seringnya saya ngecas malam sebelum tidur agar smartphone bisa segera dipakai keesokan harinya, dan ngecas lagi pada malam harinya. Jadi sekitar 20-24 jam untuk sekali pengisian daya baterai.
Bicara soal pengecasan, kemampuan fast charging iPhone 18 Pro Max juga naik ke 54W dari 42W pada iPhone 17 Pro Max. Klaimnya Apple, ngecas pakai adaptor 60W selama 15 menit saja, baterainya sudah terisi 50 persen.
Saya sendiri mengujinya menggunakan charger GaN 65W dengan kabel USB-C ke USB-C. Dari kondisi baterai 10 persen, hasil pengisiannya sebagai berikut:
- 10 menit: 40 persen
- 20 menit: 62 persen
- 30 menit: 80 persen
- 40 menit: 87 persen
- 44 menit: 90 persen
- 60 menit: 100 persen
Ya, kecepatan pengisiannya mulai melambat setelah baterai mencapai 80 persen, hal yang wajar untuk menjaga suhu dan kesehatan baterai. Namun, waktu satu jam dari 10 persen sampai penuh sudah tergolong cepat, apalagi daya tahannya bisa mencukupi pemakaian seharian.
Variable aperture jadi pembeda
Apple memang tidak banyak mengubah spesifikasi kamera iPhone 18 Pro Max. Upgrade terbesarnya ada pada kamera utama yang sekarang punya fitur variable aperture.
Kamera utamanya menggunakan sensor Sony IMX905 beresolusi 48 MP dengan ukuran 1/1,28 inci, lensa dengan focal length setara 24 mm, dual-pixel PDAF, dan sensor-shift stabilization. Kamera ini turut mendukung perekaman video sampai 4K pada 120 FPS.
Apple memasang mekanisme iris enam bilah yang bisa beralih ke empat pilihan bukaan lensa, yakni f/1.48, f/1.8, f/2.8, dan f/4.
Kemudian ada kamera ultrawide 48 MP dengan sensor Sony IMX972 berukuran 1/2,55 inci. Kamera 13 mm ini sudah mendukung PDAF, sehingga dapat memotret makro atau objek dari dekat.
Kamera telephoto-nya masih sama seperti iPhone 17 Pro Max, yakni Sony IMX973 48 MP berukuran 1/2,55 inci dengan focal length setara 100 mm, bukaan f/2.8, PDAF, dan sensor-shift stabilization. Kamera ini sanggup melakukan optical-zoom sebanyak 4 kali.
Di depan, terdapat kamera 18 MP Sony IMX914 dengan bukaan f/1.9 dan sudah PDAF. Bentuk sensornya memungkinkan saya mengambil foto vertikal atau horizontal tanpa perlu mengubah orientasi iPhone, fitur menarik yang berguna banget semenjak saya menggunakan iPhone Air.
Bicara hasil kameranya, mulai dari kamera ultrawide 48 MP-nya. Dalam kondisi cahaya yang pas, hasil fotonya punya detail yang bagus dengan rentang dinamis cukup luas.
Langit tetap terjaga, sementara detail pepohonan dan area bayangan masih terlihat. Distorsi di tepian pun cukup terkontrol, walau ketajamannya memang sedikit menurun dibanding bagian tengah gambar.
Pada foto belalang yang saya ambil dari jarak dekat, autofocus-nya masih bisa mengunci objek kecil dengan baik. Plus, saya juga bisa memilih Photographic Style di aplikasi Camera maupun saat proses editing di Photos.
Foto belalang ini saya ambil dengan Photographic Style Vibrant yang membuat warna hijau pada tubuh belalang, birunya langit, dan warna latar terlihat lebih pekat. Sementara Style Standard memberikan warna yang lebih natural, tapi terlihat sedikit pucat ketika keduanya dibandingkan secara langsung.
Kualitasnya mulai turun saat digunakan pada malam hari. Detail bangunan dan pepohonan masih bisa ditampilkan, tapi noise cukup kentara pada langit serta area gelap. Beberapa teksturnya juga terlihat lebih halus akibat pemrosesan gambar.
Untuk kamera utama, hasilnya memang konsisten. Di kondisi terang, detail bulu hewan, tekstur kayu, sampai wajah dapat ditangkap dengan tajam. Rentang dinamisnya juga luas, area yang terkena matahari tidak langsung overexposed, sementara detail di bagian bayangan masih dipertahankan.
Autofocus-nya cepat mengunci objek, termasuk ketika memotret hewan yang terus bergerak atau ada pagar di depan kamera.
Efek depth-nya pun natural tanpa perlu mengaktifkan Portrait Mode. Pembesaran 2x dari kamera utama juga masih menghasilkan detail yang bagus.
Saat malam, kamera utama mampu menjaga detail bangunan dan menahan sorotan lampu agar tidak terlalu melebar.
Area gelap memang dibuat cukup pekat, tapi noise-nya lebih terkontrol dibanding kamera ultrawide. Pada sumber cahaya yang sangat terang masih muncul sedikit flare dan efek kabut, terutama pada foto kereta, tapi secara keseluruhan hasil low-light-nya tetap solid.
Sementara untuk variable aperture, bukaan f/1.48 paling pas buat memotret satu subjek atau kondisi minim cahaya karena menghasilkan latar paling lembut.
Bukaan f/1.8 terasa lebih seimbang, sedangkan f/2.8 dan f/4 cocok ketika ingin mempertahankan lebih banyak detail latar, memotret kelompok, bangunan, atau menghasilkan semburat bintang pada sumber cahaya.
Cuma, f/2.8 dan f/4 lebih ideal digunakan saat cahaya memadai karena kamera akan menaikkan ISO pada kondisi gelap, yang bisa membuat noise makin kentara. Kalian bisa lihat review lengkap variable aperture di iPhone 18 Pro Max pada artikel di bawah ini:
Kamera telephoto iPhone 18 Pro Max menawarkan optical-zoom 4 kali dan in-sensor zoom sebanyak 8 kali.
Pada kondisi cahaya yang pas, kualitas kamera telephoto-nya memang bagus. Tekstur bulu burung, rambut sapi, sampai detail bangunan dan ramainya jalan dari kejauhan masih terekam tajam.
Warnanya pun konsisten dengan kamera utama, sementara rentang dinamisnya sanggup menjaga area terang dan bayangan agar tetap menyimpan detail. Photographic Style Vibrant membuat dedaunan terlihat lebih pekat, sedangkan Natural dan Standard memberikan warna yang lebih mendekati kondisi aslinya.
Hasil pada perbesaran 8x juga masih layak dipakai selama cahayanya cukup, meski detail halus mulai terlihat lebih lembut dan pemrosesan gambarnya lebih kentara.
Keterbatasannya makin terasa pada malam hari, di mana tekstur bangunan mulai kehilangan ketajaman, noise lebih mudah terlihat, dan cahaya lampu memunculkan sedikit efek berpendar. Untungnya, stabilisasi bekerja cukup baik sehingga hasil 4x pada malam hari masih tergolong bagus.
Sementara untuk selfie, bidang pandangnya cukup luas sehingga saya dan anak tetap masuk ke dalam bingkai tanpa perlu memegang iPhone terlalu jauh.
Detail wajah terlihat tajam dengan warna kulit yang natural, sementara HDR mampu menyeimbangkan wajah yang berada di bawah atap dengan latar belakang yang lebih terang. Distorsi khas lensa lebar masih terlihat di bagian tepi, tetapi tidak sampai membuat proporsi wajah tampak aneh.
Kesimpulan
Setelah semingguan pakai iPhone 18 Pro Max, peningkatannya memang berasa lumayan jauh, apalagi buat saya yang sebelumnya pakai iPhone Air.
Performa jauh lebih kencang, baterainya lebih awet, layarnya lebih nyaman, dan sistem kameranya lebih lengkap. Cuma konsekuensinya, bodinya jadi jauh lebih berat dan lumayan bikin pegal kalau digunakan dengan satu tangan.
Upgrade yang paling terasa ada pada A20 Pro, daya tahan baterai, Siri AI, dan kamera utama dengan variable aperture.
Kameranya memang bukan berubah total, apalagi kamera ultrawide dan telephoto-nya masih mirip iPhone 17 Pro Max. Tapi setidaknya, pengguna punya kontrol lebih luas saat memotret, terutama buat mengatur kedalaman fokus atau mengambil gambar dalam kondisi minim cahaya.
Pertanyaannya sekarang, sepadan membeli iPhone 18 Pro Max dengan harga mulai Rp29 jutaan?nbsp;
Kalau sekarang sudah pakai iPhone 17 Pro Max, rasanya belum perlu buru-buru upgrade. Tapi buat pengguna iPhone generasi lama, iPhone Air, atau mereka yang butuh iPhone paling kencang dengan baterai awet dan kamera fleksibel, iPhone 18 Pro Max jelas menarik buat dipertimbangkan. Mahal memang, tapi peningkatannya kali ini benar-benar terasa.
FAQ Artikel
Berapa harga iPhone 18 Pro Max?
iPhone 18 Pro Max dijual dengan harga mulai dari Rp29 jutaan di Indonesia.
Apa prosesor yang digunakan pada iPhone 18 Pro Max?
iPhone 18 Pro Max menggunakan chip Apple A20 Pro berfabrikasi 2nm dengan CPU 6-core, GPU 7-core, dan Neural Engine 32-core.
Berapa kapasitas baterai dan daya fast charging iPhone 18 Pro Max?
Versi nano-SIM memiliki kapasitas baterai 5.391 mAh (versi eSIM 5.567 mAh) dan mendukung fast charging 54W yang bisa terisi penuh dalam waktu 60 menit.
Apa pembaruan utama pada kamera iPhone 18 Pro Max?
Pembaruan terbesarnya terletak pada kamera utama 48 MP yang mendukung fitur variable aperture dengan empat pilihan bukaan lensa, yaitu f/1.48, f/1.8, f/2.8, dan f/4.
Muhammad Faisal Hadi Putra
Jurnalis









