icon-category Film

Review: ‘LIMA’ Ajak Penonton Dalami Makna Pancasila Pakai Hati

  • 01 Jun 2018 WIB
  • Bagikan :

    Uzone.id -- Sejatinya manusia itu punya panca indra dengan fungsi masing-masing. Panca yang berarti lima, menandakan ada lima fungsi sensor yang ada di dalam tubuh kita, yaitu mata (penglihatan), hidung (penciuman), telinga (pendengaran), lidah (pengecapan), dan kulit (perasa).

    Tenang, ‘LIMA’ bukan film tentang kedokteran yang membahas tentang panca indra. Kalau soal ini sih, kamu bisa baca sendiri di RPAL atau Buku Pintar. Di Wikipedia juga ada, kalau mau praktis.

    Hal yang mau gue tekankan adalah, ‘LIMA’ mengajak penonton untuk mengasah indra perasa lainnya, yakni hati. Tanpa hati, bisa-bisa kamu cuma memasang muka datar sepanjang film.

    Sesuai judulnya, ‘LIMA’ memiliki elemen serba lima. Digarap oleh lima sutradara, film ini memanfaatkan dasar Pancasila untuk membangun premis dari lima karakter inti.

    Kenapa tiba-tiba Pancasila? Film ini memang sengaja digarap untuk memeriahkan Hari Kelahiran Pancasila yang jatuh pada 1 Juni. Meski terdengar berat banget, film ini justru menggunakan senjata drama penuh konflik yang membumi untuk merangkai metafora Pancasila itu sendiri.

    Secara garis besar, ‘LIMA’ mengisahkan kehidupan tiga kakak-beradik, Fara (Prisia Nasution), Aryo (Yoga Pratama), dan Adi (Baskara Mahendra) yang harus melanjutkan hidup pasca kematian sang ibu (Tri Yudiman). Tak hanya mereka bertiga, namun asisten rumah tangga mereka, Bi Ijah (Dewi Pakis) juga merasa kehilangan.

    Kalau kamu penasaran, lima sutradara yang menggarapnya adalah Lola Amaria, Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo.

    Ada dua poin yang mau gue bahas tentang ‘LIMA’.

    Pertama, soal karakter.

    Gue harus akui, para pemeran di film ini sangatlah apik. Mereka berhasil membawakan karakter yang dilakoni dengan begitu natural, nggak terlihat scripted alias menggunakan bahasa ringan yang biasa kita pakai sehari-hari. Nggak ada kesan menggurui.

    Sang ibu memang nggak muncul lama, namun karakternya dapat terasa begitu bijaksana dan mengayomi anak-anaknya. Hal ini terlihat dari ragam emosi yang ditunjukkan oleh anak-anak dan keluarga dekatnya saat dia meninggal.

    Karakter Aryo yang bekerja sebagai entrepreneur distro, digambarkan nggak terlalu peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya sendiri, berprinsip, dan penyayang terhadap keluarga. Melihat dari struktur wajah Yoga sendiri, dia menambah kesan akan karakter yang tough untuk seorang Aryo.

    Sementara Adi si bungsu yang masih duduk di bangku SMA, Baskara berhasil melakoni karakter introvert, butuh motivasi hidup, dan anak yang begitu sayang dengan sang ibu. Karakter Adi semakin terasa kuat dengan hadirnya Bi Ijah, asisten rumah tangga yang sangat disayang Adi.

    Lalu, karakter Fara yang bekerja sebagai pelatih renang, digambarkan sebagai individu yang tangguh, disiplin, berprinsip namun tetap realistis, dan berkepala dingin. Sebagai anak sulung, Fara sangat tahu bahwa dirinya perlu bersikap dewasa serta kuat untuk adik-adiknya.

    Gue pribadi mengagumi Prisia yang sangat cocok memerankan Fara. Sejak awal karakter Fara muncul, dia membuat gue terhanyut ke dalam karakternya yang begitu dalam, serta gesture yang terasa sangat tulus. Entah kenapa, apapun yang dilakukan dan diucapkan Fara, berhasil membuat gue ikut merasakan dan secara langsung merasa sepihak dengannya.

    Kedua, plot dan metafora lima sila Pancasila.

    Film ini menggunakan alur maju, dengan sedikit adegan flashback yang berlangsung hanya beberapa menit saja. Baskara, pemeran Adi, mengungkapkan, awalnya sempat ada rencana bahwa film akan dibagi per-chapter sesuai sila dari Pancasila.

    “Iya, rencana awalnya itu dibagi per bab gitu, supaya lebih jelas tentang makna tiap sila dari Pancasila. Tapi setelah para sutradara itu berunding, akhirnya tiap sekuens yang mengandung makna tiap sila tetap intertwined, terjalin secara utuh sebagai satu cerita utuh tanpa dipisah-pisah,” kata Baskara kepada Uzone.id, Kamis (31/5) di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

    Setelah mendengar penjelasan Baskara tersebut, gue diam-diam menghela nafas lega. Bukan apa-apa, menurut gue dengan plot linear seperti ini justru membuat ‘LIMA’ terasa begitu universal dan dapat mendulang ragam interpretasi. Di satu sisi, ‘LIMA’ dianggap cocok masuk kategori film keluarga, lalu ada juga yang menilainya sebagai film filosofis penuh alegori, hingga film melodrama tentang realita kehidupan.

    Menurut gue, hal itu yang membuatnya istimewa. Gue beri contohnya, ya.

    Dilihat dari sisi plot dan alur cerita, ‘LIMA’ dibuka dengan adegan sederhana namun sarat makna, yakni sang ibu yang sedang dirawat di rumah sakit dan ada Adi yang tengah menemaninya sembari mewarnai kuku sang ibu dengan kuteks warna merah.

    Soal dialog, ‘LIMA’ nggak mendayu-dayu atau sok puitis -- seperti yang gue jabarkan di atas, semuanya terasa natural tanpa efek lebay.

    Adegan pembuka di kamar rumah sakit itu bisa langsung menyampaikan pesan bahwa Adi sangatlah dekat dengan sang ibu. Tak hanya itu, penonton juga sempat ‘dikelabui’ bahwa sang ibu dan anaknya adalah penganut agama Katolik.

    Masuk ke adegan selanjutnya saat sang ibu meninggal dunia di rumahnya, muncul berbagai percakapan dari kakak-beradik tersebut. Ternyata, mereka adalah keluarga dengan kepercayaan agama berbeda-beda. Sang ibu adalah seorang Muslim sejak lahir, namun sempat masuk Katolik karena menikahi suaminya. Kendati begitu, dia tutup usia dalam kondisi seorang Muslim. Fara menganut agama Islam, sementara Aryo dan Adi adalah Katolik.

    Mereka memang akur sebagai kakak-beradik, namun di bagian awal yang ingin menunjukan metafora sila ke-1 Pancasila tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, sempat diperlihatkan mereka adu argumen mengenai kepercayaan masing-masing untuk menjalani proses pemakaman. Hebatnya, semua dialog sama sekali nggak provokatif. Semua murni tentang seni dan rasa.

    Seperti yang gue tekankan, menonton ‘LIMA’ harus menajamkan indra perasa melalui hati. Metafora sila ke-1 ini menurut gue cukup dalam dan ngena. Terlepas sarat akan makna sila ke-1, semua elemen di adegan ini sangat vivid, menguras rasa simpati dan… air mata. Heu.

    Setelah melewati adegan penuh duka tersebut, plot bergulir kembali ke rutinitas sehari-hari. Di sini, ‘LIMA’ berusaha memperkenalkan lebih jauh lagi mengenai tiap karakternya yang memiliki konflik masing-masing. Tak lupa, tiap sekuens mengandung tiap sila dari Pancasila.

    Sila ke-2 Pancasila digambarkan di adegan yang menimpa Adi, si bungsu yang begitu tertutup, mudah murung, namun jago main piano ala Ryan Gosling di ‘La La Land’ (laaah…). Dia beberapa kali sempat di-bully oleh teman sekolahnya, namun adegan ini tidak diperlihatkan secara intens.

    Di balik sifat tertutupnya itu, Adi diam-diam merasa gerah terhadap fenomena suka main hakim sendiri yang dilakukan kebanyakan orang. Mereka itu adalah orang biadab, begitu yang diucapkan lawan bicara Adi saat sedang berbincang tentang isu sosial ini.

    Beberapa saat kemudian, Adi nggak sengaja terlibat di dalam aksi kejar-kejaran seorang pemuda yang diteriaki maling oleh masyarakat setempat yang berniat menghabisinya. Karena ingin melakukan sesuatu ketimbang berdiam diri saja, Adi berusaha menyetop mereka. Sayangnya, Adi turut menjadi korban. Untungnya dia masih bisa selamat.

    Kemudian, Sila ke-3 Pancasila tersirat di dalam alur cerita milik Fara yang dihadapkan pada bos yang rasis terhadap pemilihan calon atlet profesional. Karakter Fara diperlihatkan tetap mempertahankan prinsipnya meski harus kehilangan pekerjaannya.

    Sila ke-4 diperlihatkan dari sudut pandang Aryo, namun melibatkan semua anggota saudara kandungnya saat sedang berunding dan adu argumen mengenai warisan yang ditinggalkan sang ibu. Lalu, Sila ke-5 menunjukkan ketimpangan keadilan yang kerap dialami oleh masyarakat kelas bawah. Konflik singkat ini diperlihatkan dari perspektif Bi Ijah dan keluarganya di kampung.

    Lagi-lagi, jika kamu ingin lebih bisa memahami makna yang terkandung dari tiap adegan dan konflik film ini dari metafora Pancasila, kamu harus meresapinya menggunakan hati. Meski ada beberapa hal yang sempat terlihat ‘maksa’ di bagian Sila ke-5, secara keseluruhan ‘LIMA’ berhasil menciptakan suasana yang sendu, realistis, nggak membosankan karena tetap dibumbui komedi ringan di dalamnya.

    Mentang-mentang sejak awal selalu digembar-gemborkan sebagai film yang bertema Pancasila, ‘LIMA’ bukan film yang ingin pamer dan menggurui penonton dengan ideologi Pancasila dengan begitu kaku, penuh pidato macam-macam yang membosankan. Enggak.

    Kalau kamu penasaran namun masih ragu menontonnya, cukup pikirkan saja bahwa ‘LIMA’ adalah film drama keluarga yang sarat akan makna hidup. Sesederhana itu.

    Cek informasi menarik lainnya di Google News

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini