Home
/
Gadget

Review Performa Samsung Galaxy Z Fold8: Kencang, AI-nya Pintar

Samsung Galaxy Z Fold8 menawarkan performa kencang dengan Snapdragon 8 Elite for Galaxy dan fitur AI inovatif, meski stabilitasnya menurun saat suhu panas.

Review Performa Samsung Galaxy Z Fold8: Kencang, AI-nya Pintar

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Samsung Galaxy Z Fold8 ditenagai prosesor kustom Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy yang memiliki clock-speed lebih cepat.
  • Hasil pengujian benchmark AnTuTu mencatatkan skor fantastis hingga menembus angka 3,2 juta poin.
  • Desain bodi tipis tanpa vapor chamber membuat stabilitas performa grafis menurun hingga 50,8 persen saat suhu panas.
  • Menghadirkan fitur baru berbasis AI bernama My FanCam untuk pelacakan dan pembingkaian objek otomatis pada video.

Uzone.id - Berbeda dengan Oppo Find N6 yang ditenagai prosesor Snapdragon 8 Elite Gen 5 versi 7-core, ’si anak baru’ Samsung Galaxy Z Fold8 malah disokong oleh prosesor Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy yang punya clock-speed lebih kencang dari chip non-for Galaxy. 

Bicara spek, Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy punya 2x prime-core Oryon V3 Phoenix L dengan kecepatan 4,74 GHz, kemudian dipadukan dengan 6x performance-core Oryon V3 Phoenix M pada kecepatan 3,62 GHz. 

Di atas kertas, jelas prosesor ini menjanjikan performa yang lebih tinggi buat berbagai hal, dari multitasking, mengakses rangkaian fitur di Galaxy AI, sampai main game kompetitif. 

Namun pertanyaannya sekarang, memang seberapa kencang performa Samsung Galaxy Z Fold8?nbsp;

Untuk mengetahuinya, kami menjalankan sejumlah aplikasi benchmark pada Samsung Galaxy Z Fold8, mulai dari AnTuTu Benchmark, Geekbench 6, Geekbench AI, PCMark, sampai 3DMark Wild Life Stress Test. Berikut hasil dan analisa lengkapnya.

AnTuTu tembus 3,2 juta poin!


Pengujian AnTuTu Benchmark versi 11, Samsung Galaxy Z Fold8 mencatatkan skor 3.264.600 poin, yang otomatis menempatkannya sebagai salah satu smartphone lipat paling kencang yang pernah kami coba. 

Meski begitu, skor ini memang belum setinggi smartphone lain dengan prosesor serupa. Justru, kalau dibandingkan smartphone bertenaga Snapdragon 8 Elite Gen 5 biasa, skornya jauh tertinggi. 

Kami berasumsi, performa Samsung Galaxy Z Fold8 memang tidak diatur terlalu agresif oleh sistem. Alasannya karena form factor smartphone ini yang begitu tipis dan kompak. Info saja, Samsung Galaxy Z Fold8 tak punya vapor chamber, melainkan struktur pendinginan grafit demi mempertahankan profil perangkat lipat yang ramping. 

Selain AnTuTu, berikut ini hasil benchmark Samsung Galaxy Z Fold8:

  • Geekbench 6 single-core: 3.557 poin
  • Geekbench 6 multi-core: 10.931 poin
  • Geekbench 6 GPU OpenCL: 22.954 poin
  • PCMark Work 3.1: 19.822 poin
  • 3DMark Wild Life Stress Test: 22.335 poin (best loop), 11.355 poin (lowest loop), stability: 50,8 persen, frame rate: 46-197 FPS

Kelihatan dari aplikasi AnTuTu, suhu baterai smartphone ini embus 40,5 derajat Celcius, sedangkan temperatur CPU menyentuh 51,2 derajat Celcius. Saat digenggam pun, bodinya terasa hangat, terutama di area belakang bagian atas dekat kamera. 


Dari Geekbench 6, kemampuan CPU-nya juga tinggi. Samsung Galaxy Z Fold8 meraih skor 3.557 poin untuk single-core dan 10.931 poin untuk multi-core.

Skor single-core yang tinggi berpengaruh pada respons smartphone saat membuka aplikasi, berpindah menu, sampai menjalankan tugas yang lebih bergantung pada satu inti prosesor. Sementara skor multi-core menggambarkan kemampuannya ketika menangani banyak proses sekaligus.

Kemampuan GPU-nya juga kami uji lewat Geekbench 6 OpenCL. Hasilnya, Samsung Galaxy Z Fold8 mendapatkan skor 22.954 poin. 


Kemudian, Samsung Galaxy Z Fold8 meraih skor 19.822 poin pada PCMark Work 3.1. Benchmark ini mensimulasikan aktivitas yang lebih dekat dengan penggunaan sehari-hari, seperti browsing, mengedit video, mengolah dokumen, memproses data, sampai mengedit foto.

Hal ini sejalan dengan fungsi utamanya sebagai smartphone untuk menunjang produktivitas. Bila membuka layar bagian dalamnya yang seluas 7,6 inci, kami bisa membuka dua aplikasi atau lebih—seperti membuka dokumen dan baca referensi di layar Dynamic LTPO AMOLED 2X yang beresolusi 1.828 x 2.448 piksel. 

Catatan penting justru terlihat ketika kami menguji Samsung Galaxy Z Fold8 pada aplikasi 3DMark untuk skema Wild Life Stress Test.

Berbeda dari benchmark grafis biasa, pengujian ini menjalankan beban GPU berulang sebanyak 20 loop. Tujuannya untuk melihat seberapa konsisten performa perangkat ketika suhu terus meningkat.

Pada loop pertama, Samsung Galaxy Z Fold8 mencatatkan skor terbaik 22.335 poin. Namun, skornya perlahan turun hingga menyentuh titik terendah 11.355 poin.

Stabilitasnya pun hanya mencapai 50,8 persen. Artinya, performa GPU terendahnya berada di kisaran sebermula dari kemampuan maksimal pada awal pengujian.

Penurunan performa terlihat cukup cepat. Setelah mencatatkan 22.335 poin pada loop pertama, skornya turun menjadi 19.168 poin di loop kedua, 17.544 poin pada loop ketiga, dan 16.206 poin di loop keempat.

Memasuki pertengahan pengujian, performanya cenderung bertahan di kisaran 12 ribu sampai 13 ribuan poin.

Selama stress test berlangsung, frame rate bergerak dari 46 FPS sampai 197 FPS. Suhu perangkat juga meningkat dari 33 derajat Celsius menjadi 41 derajat Celsius. Sementara baterainya turun 9 persen, dari 60 persen menjadi 51 persen setelah pengujian selesai.


Hasil ini menunjukkan kalau Samsung Galaxy Z Fold8 mampu memberikan performa grafis yang sangat tinggi dalam waktu singkat. Namun, ketika diberi beban berat terus-menerus, sistem mulai menurunkan performa demi menjaga suhu perangkat.

Kondisi ini sebenarnya masih bisa kami maklumi. Samsung Galaxy Z Fold8 punya bodi yang tipis, sementara ruang internalnya terbagi ke dua sisi karena mekanisme layar lipat.

Tanpa vapor chamber, sistem pendinginan grafit yang digunakan tentu punya keterbatasan ketika harus membuang panas dari prosesor Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy dalam waktu lama.

Efeknya mungkin akan terasa ketika memainkan game berat dalam durasi panjang. Frame rate bisa tinggi pada awal permainan, kemudian perlahan turun setelah perangkat mulai panas.

Namun, untuk game kompetitif yang bebannya tidak terlalu berat atau sesi bermain yang lebih singkat, penurunan performa ini kemungkinan tidak terlalu mengganggu.

Kemampuan AI Samsung Galaxy Z Fold8


Selain tes performanya, kami juga menguji kemampuan AI-nya menggunakan Geekbench AI. Pengujian dilakukan menggunakan beberapa backend, yakni CPU, GPU, Neural Networks API atau NNAPI, dan Qualcomm Neural Network atau QNN.

Saat menggunakan CPU, Samsung Galaxy Z Fold8 meraih skor 2.519 poin untuk single precision, 4.168 poin untuk half precision, dan 6.447 poin pada pengujian quantized. Sedangkan ketika pengujian dialihkan ke GPU, skornya menjadi 2.883 poin untuk single precision, 4.612 poin untuk half precision, dan 3.891 poin untuk quantized.

Untuk diketahui, single precision memberi gambaran kemampuan smartphone ketika menjalankan model AI yang mengutamakan ketelitian perhitungan. Sementara half precision, pemrosesannya berjalan lebih ringan dan cepat dengan penggunaan memori yang lebih kecil, tapi tetap menawarkan ketelitian yang cukup baik.


Sedangkan quantized biasanya lebih ringan, hemat memori, dan dapat diproses lebih cepat oleh NPU atau akselerator khusus. Nah, berikut hasil lengkap kemampuan AI dari Samsung Galaxy Z Fold8:

CPU

  • Single precision: 2.519 poin
  • Half precision: 4.168 poin
  • Quantized: 6.447 poin

GPU

  • Single precision: 2.883 poin
  • Half precision: 4.612 poin
  • Quantized: 3.891 poin

NNAPI

  • Single precision: 669 poin
  • Half precision: 630 poin
  • Quantized: 1.218 poin

QNN

  • Single precision: 533 poin
  • Half precision: 27.575 poin
  • Quantized: 69.116 poin

Skor paling mencolok terjadi pada pengujian QNN. Backend ini merupakan framework milik Qualcomm yang memungkinkan beban AI diarahkan ke akselerator khusus pada chipset.

Dari pengujian, skor QNN mencapai 27.575 poin pada half precision dan 69.116 poin pada quantized. Hal ini menunjukkan Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy lebih optimal saat menangani model AI dengan format data yang lebih ringan.

Kemampuan AI yang tinggi memang sejalan dengan fitur-fitur AI yang dihadirkan Samsung pada Galaxy Z Fold8 lewat One UI 9 berbasis Android 17. Ada sejumlah fitur yang sudah familier di smartphone ini, seperti Circle to Search, Interpreter, Note Assist, Browsing Assist, Transcript Assist, Generative Edit, sampai Live Translate.

Fitur-fitur tadi memang lebih ke soal merangkum teks, menerjemahkan percakapan, sampai mengedit foto. Nah, Samsung bawa satu fitur baru di Galaxy AI buat pengguna yang sering mengedit video—kreator konten, yakni My FanCam.

Fitur ini secara otomatis mendeteksi orang di dalam video, mengikuti subjek yang dipilih, kemudian mengatur ulang framing agar orang tersebut tetap berada di dalam frame. Jadi, video yang awalnya menampilkan banyak orang bisa diubah menjadi konten yang hanya berfokus pada satu subjek saja. 

My FanCam sendiri bisa diakses melalui aplikasi Gallery. Untuk mengaksesnya, tinggal pilih video yang ingin diedit, kemudian tekan ikon Galaxy AI, lalu masuk ke menu My FanCam. Otomatis, sistem akan menganalisis orang yang ada di dalam video, dan memberikan pilihan subjek yang akan menjadi fokusnya. 


Setelah itu, tinggal tentukan aspek rasio videonya, seperti 1:1 atau 3:4, pilih sesuai kebutuhan saja. Galaxy AI kemudian akan mengikuti pergerakan orang tersebut dan menyesuaikan crop pada video secara otomatis. Canggih kan?

Nah, dalam konteks My FanCam ini, Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy punya tugas yang tidak ringan. Sistem perlu mendeteksi orang di setiap frame, membaca pergerakannya, lalu mengatur framing tanpa membuat perpindahannya terlihat patah-patah.

Hasil Geekbench AI tadi memang tidak secara khusus mengukur My FanCam, tapi setidaknya memberikan gambaran bahwa chipset ini punya akselerator yang kuat untuk menjalankan tugas deteksi dan pelacakan objek berbasis AI.

Kesimpulan


No debat memang, Samsung Galaxy Z Fold8 punya performa ‘rata kanan’ di segmennya. Skor AnTuTu yang tembus 3,2 juta poin, Geekbench multi-core di atas 10 ribu poin, dan PCMark hampir 20 ribu poin, menunjukkan smartphone ini punya tenaga besar untuk multitasking, produktivitas, sampai menjalankan game berat.

Kemampuan AI-nya juga terlihat menjanjikan. Fitur seperti My FanCam misalnya, menunjukkan kemampuan AI pada smartphone ini hanya dimanfaatkan untuk produktivitas, tapi kreativitas di level editing video. 

Cuma yang jadi catatannya, bodi tipis Samsung Galaxy Z Fold8 membuatnya mudah hangat ketika dipaksa bekerja berat dalam waktu yang lama. Performa GPU-nya pun bisa turun ke 50,8 persen—hampir setengahnya. 

Jadi, Samsung Galaxy Z Fold8 memang sangat kencang untuk penggunaan sehari-hari maupun beban berat dalam durasi singkat. Namun, performanya tidak bisa terus bertahan di titik tertinggi ketika suhu perangkat mulai meningkat.

FAQ Artikel

Apa tipe prosesor yang digunakan oleh Samsung Galaxy Z Fold8?

Samsung Galaxy Z Fold8 menggunakan prosesor Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy yang memiliki kecepatan clock-speed lebih tinggi dibandingkan versi standar.

Berapa skor benchmark AnTuTu yang dicapai Galaxy Z Fold8?

Dalam pengujian menggunakan AnTuTu Benchmark versi 11, Samsung Galaxy Z Fold8 berhasil meraih skor impresif sebesar 3.264.600 poin.

Mengapa performa grafis Galaxy Z Fold8 mengalami penurunan saat stress test?

Stabilitas grafis menurun hingga 50,8 persen karena bodi perangkat yang tipis menggunakan sistem pendingin grafit tanpa dukungan vapor chamber, sehingga performa dibatasi demi meredam panas.

Apa keunggulan fitur My FanCam di Galaxy Z Fold8?

My FanCam merupakan fitur bertenaga AI yang secara cerdas mampu mendeteksi serta mengikuti subjek tertentu di dalam video, kemudian otomatis mengatur framing agar subjek tetap berada di tengah layar.

populerRelated Article