
Uzone.id - Samsung Galaxy S25 FE itu emang jadi opsi paling bener deh, terutama buat kalian yang maunya punya ponsel dengan pengalaman flagship khas Galaxy S terbaru, tapi tanpa merogoh kocek lebih dalam. Ya, Samsung Galaxy S25 FE jadi S Series dengan harga termurah, tapi tetap kasih experience mahal selama kami memakainya sebagai daily driver.
Samsung Galaxy S25 FE dibanderol dengan harga mulai Rp8.999.000 untuk model 128 GB, Rp9.999.000 untuk versi 256 GB, dan Rp10.999.000 untuk varian 512 GB. Berikut ini review lengkap Samsung Galaxy S25 FE, setelah menggunakannya sebagai perangkat harian.Desainnya sama, tapi ikonik
Memang berasa deja vu saat melihat Samsung Galaxy S25 FE. Bahasa desainnya memang terlihat identik dengan pendahulunya, bak pakai casing lama dengan jeroan yang dibuat berbeda.
Meski sama, sebenarnya tak ada yang salah dengan desain Samsung Galaxy S25 FE. Desainnya bersih, ramping, minimalis, tanpa akses berlebihan di area kamera. Sejujurnya, ini salah satu desain yang pas, dan justru memberikan identitas yang kuat kalau “ini lho desain ponsel Galaxy’, atau bisa disebut ‘Galaxy Identity’.
Lagian sebenarnya, kalau dilihat lebih teliti lagi, Samsung Galaxy S25 FE memiliki bodi yang lebih ramping dan ringan dibanding sebelumnya.
Samsung Galaxy S25 FE memiliki ketebalan 7,4 mm dengan berat 190 gram, sementara Galaxy S24 FE ketebalannya 8 mm dengan berat 213 gram. Lumayan terasa perbedaan 23 gram ini saat menggenggam kedua smartphone bersebelahan.
S25 FE juga sedikit lebih pendek dan tidak selebar pendahulunya, dengan bezel layar yang sedikit menipis (rasio layar-ke-bodi 89,2 persen vs 88 persen). Samsung juga menyebut materialnya kini menggunakan ‘Enhanced Armor Aluminum’ yang menjanjikan durabilitas lebih baik dari sebelumnya, lengkap dengan IP68 tahan air dan juga debu.
Selain itu, Samsung Galaxy S25 FE juga tampil dalam balutan warna yang lebih cakep. Ada IcyBlue, Jetblack, Navy, dan White, beda dari sebelumnya yang cuma Blue, Graphite, dan Gray.
Seluruh warnanya dibuat matte dengan tekstur yang halus dan tak mudah kotor karena jejak sidik jari yang menempel. Dengan bobot yang lebih ringan, perpaduan ini membuat Samsung Galaxy S25 FE lebih nyaman digenggam dan dioperasikan dengan satu tangan.
Ya, seperti tulisan kami di awal, tak ada yang salah dengan desain Samsung Galaxy S25 FE. Semuanya pas, perfect!
Begitu juga dengan layar, Samsung Galaxy S25 FE masih mempertahankan ukuran 6,7 inci dengan panel Dynamic AMOLED yang sudah beresolusi Full HD+ dengan refresh rate 120Hz, juga dengan dukungan HDR10+.
Kualitasnya, tidak ada keluhan sama sekali. Refresh rate yang tinggi kasih pengalaman yang mulus, terlebih ada mode Adaptive yang akan aktif secara default.
Artinya, saat kalian membuka aplikasi yang mendukung refresh rate tinggi, maka mode 120Hz pun menyala otomatis. Namun saat layar dalam kondisi idle, refresh rate bisa turun hingga 1Hz untuk menghemat daya.
Berkat sertifikasi HDR10+ pun, kalian sudah bisa nonton YouTube di resolusi tinggi dengan mode HDR yang aktif. Nonton Netflix berkualitas HDR juga bisa. Satu lagi, layar Samsung Galaxy S25 FE sudah mendukung Android Ultra HDR, sehingga foto-foto yang tampil di galeri tampak punya warna yang lebih kaya.
One UI 8 pertama
Samsung Galaxy S25 FE jadi smartphone Samsung pertama di Indonesia yang sudah terpasang One UI 8 berbasis Android 16 langsung, saat pembeli membuka boksnya. Dengan OS yang baru, Samsung Galaxy S25 FE sudah mendukung beberapa fitur, termasuk Now Bar dan Now Brief.
“Galaxy AI bagaimana?” Tenang, Samsung Galaxy S25 FE dapat Galaxy AI full version, tanpa ada pengurangan fitur apapun. Ada Audio Eraser, fitur yang hebat untuk mengisolasi suara noise saat kalian merekam video di kondisi yang berisik.
Ada juga Generative Edit seperti fungsi untuk menghapus objek yang tak diinginkan. Ada juga Browsing Assist untuk memberikan rangkuman atau menerjemahkan informasi di internet saat mengaksesnya via Samsung Internet.
Samsung Galaxy S25 FE juga mendukung Writing Assist untuk membantu pengguna saat membuat frasa, entah untuk pesan, email, maupun catatan. Yang sering kami gunakan adalah fitur transkrip pada recorder, yang mendukung banyak bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, dan mengenali siapa yang berbicara (Speaker).
Bonusnya, kalian yang beli Samsung Galaxy S25 FE juga berhak mendapatkan Google AI Pro selama 6 bulan secara gratis.
Kencang, tapi…
Sektor performa mendapatkan upgrade yang lumayan, meski tidak signifikan. Kalau Samsung Galaxy S24 FE tahun lalu menggunakan chipset Exynos 2400e, Samsung Galaxy S25 FE ditenagai oleh Exynos 2400. Chipset ini sama persis dengan Galaxy S24 dan S24+ tahun lalu.
Secara teknis, perbedaan utamanya terletak pada clock-speed di prime-core. Exynos 2400 pada S25 FE memiliki prime core Cortex-X4 yang berjalan di 3,2 GHz, sementara Exynos 2400e pada S24 FE sedikit lebih rendah di 3,1 GHz.
Sisanya, ada 2x performance-core Cortex A720 pada kecepatan 2,9 GHz, 3x performance-core Cortex A720 pada kecepatan 2,6 GHz, dan 4x efficiency-core Cortex A720 pada kecepatan 1,95 GHz.
Dengan clock-speed puncak yang lebih tinggi, ini berarti memberikan performa mentah yang lebih unggul. Sementara untuk grafis, chipset 4nm ini mengandalkan GPU Xclipse 940 yang berbasis arsitektur RDNA 3 dari AMD.
Kombinasi RAM dan penyimpanan masih sama seperti sebelumnya, yakni 8/128 GB, 8/256 GB, dan 8/512 GB. Unit Samsung Galaxy S25 FE yang kami review adalah varian tengah dengan penyimpanan 256 GB yang sudah menggunakan memori UFS 4.0.
Bagaimana semburan performanya? Dites menggunakan beberapa skenario benchmark, Samsung Galaxy S25 FE jelas kasih kinerja yang mumpuni. Di AnTuTu Benchmark saja, beberapa pengujian yang kami lakukan, skornya berada di rentang 1,9 juta - 2 juta poin.
Cuma, performa kencang ini punya satu masalah menurut kami, yakni stabilitas. Walau katanya vapor chamber ponsel ini 10 persen lebih besar, namun ponsel ini tampak kewalahan saat menjalankan beban kerja yang berat.
Dalam 3DMark Wild Life Stress test misalnya, performa jangka panjangnya kurang impresif dengan stabilitas 53 persen di ruangan ber-AC, sementara saat dites pada ruangan tanpa AC, stabilitasnya bisa anjlok di bawah 50 persen.
Boleh dibilang, performanya terus turun signifikan sejak looping ke-2 hingga ke-7, namun agak landai penurunannya sampai looping terakhir (20).
Bicara soal daya, Samsung Galaxy S25 FE juga ditopang baterai dengan kapasitas 200 mAh lebih besar dari sebelumnya, tepatnya menjadi 4.900 mAh. Soal daya tahannya, ponsel ini bisa bertahan hingga 12 jam untuk pengujian menggunakan PCMark, dengan koneksi WiFi yang aktif.
Samsung Galaxy S25 FE juga sekarang mendukung fast charging 45W, sehingga setara dengan Galaxy S25+. Untuk mengisi baterainya, sebenarnya tidak terlalu impresif. Butuh lebih dari satu jam untuk mengisi baterai dengan adaptor power delivery Samsung 25W, tepatnya hampir 70 menit.
Kenapa kameranya masih sama sih, Samsung?
Di sektor kamera, sejujurnya kami cukup kecewa. Tak ada ubahan yang berarti untuk spesifikasi kamera Samsung Galaxy S25 FE, terutama di bagian belakang.
Konfigurasinya masih sama persis dengan Galaxy S24 FE. Sebagai kamera utama, Samsung Galaxy S25 FE masih menggunakan sensor 50 MP dengan bukaan f/1.8 dan sudah dilengkapi OIS. Lalu, ada kamera ultrawide 12 MP dan kamera telephoto 8 MP dengan OIS yang mampu melakukan 3x optical-zoom.
Satu-satunya upgrade ada di kamera depan yang menggunakan sensor yang sama dengan Galaxy S25, yakni 12 MP. Dengan bukaan lensa f/2.2, harusnya hasil gambar kamera ini lebih tajam dan terang dari sebelumnya.
Satu-satunya upgrade sesungguhnya di sektor ini ada di bagian depan. Kamera selfie-nya kini 'dipinjam' dari seri Galaxy S25 reguler, menggunakan sensor 12 MP (f/2.2) yang menggantikan sensor 10MP di S24 FE.
Sejujurnya, kamera utama 50 MP ponsel ini berhasil memberikan gambar yang memanjakan mata. Karakter warnanya vibrant, namun tetap kelihatan natural. Punchy-nya warna gambar yang kami dapatkan, akan sangat terlihat saat memotret makanan atau objek dengan warna yang terang.
Soal detail, S25 FE juga tidak mengecewakan. Dalam kondisi cahaya ideal, ketajamannya patut diacungi jempol.
Pada foto-foto close-up, sensor 50MP ini mampu merekam tekstur-tekstur kecil dengan sangat jelas dan tajam. Bahkan di foto objek dalam ruangan, detail dan tekstur permukaannya masih bisa tersaji dengan baik.
Cuma, kelemahan kamera ini ada pada performa dynamic range-nya. Memotret di skenario yang tricky seperti menghadapkan kamera ke langit—skenario high-contrast yang ekstrem, kamera terlihat kewalahan. Langitnya tampak blown-out atau putih total untuk mengimbangi eksposur pada objek pohon yang lebih gelap.
Sekarang membahas kamera telephoto-nya, kamera 8 MP juga bisa diandalkan, terutama untuk foto-foto close-up. Detailnya sangat baik, karakter warnanya juga konsisten seperti kamera utama—tetap vibrant namun terlihat natural.
Kalau memotret objek agak dekat lagi, fotonya pun menghasilkan latar yang agak buram atau bokeh yang terlihat natural dan juga rapi. Namun, lantaran sensornya yang cuma 8 MP, saat gambar diperbesar, ketajamannya berkurang dan terlihat sedikit lembut.
Untuk kamera ultrawide, hasil yang diberikan terbilang standar. Khas Samsung, tak ada distorsi pada tepian gambar, ini yang jadi nilai plus-nya.
Namun untuk warna, konsistensinya agak berbeda dengan kamera utama. Lensa ini justru menghasilkan gambar yang kurang ‘nendang’. Detailnya pun tidak setajam kamera utama, terlihat efek lembut pada foto saat diperbesar dengan mengetuknya dua kali.
Peningkatan ke sensor 12MP di kamera depan, ternyata bukan sekadar angka. Kualitasnya langsung terasa, menghasilkan foto yang tajam dengan detail wajah yang sangat baik.
Kami puas dengan cara kamera ini mereproduksi warna kulit, yang terlihat sangat natural dan akurat, baik saat di dalam ruangan maupun di luar. Kemampuan dynamic range-nya juga patut diacungi jempol. Kamera juga mampu menyeimbangkan eksposur wajah dengan latar belakang secara apik.
Kesimpulan
Dengan harga mulai Rp8,9 jutaan, Samsung Galaxy S25 FE sukses mempertahankan posisinya sebagai opsi paling masuk akal buat kalian yang ingin coba-coba ekosistem Galaxy S Series dengan harga yang jauh lebih murah.
Kelebihan utama Samsung Galaxy S25 FE jelas, pengguna mendapatkan pengalaman premium, khas Samsung Galaxy S25 Series.
Layar Dynamic AMOLED-nya kasih kualitas yang tidak perlu diragukan lagi. Selain itu, bodi yang kini lebih ringan dan ramping, serta hadirnya paket penuh One UI 8 dan Galaxy AI, jadi nilai tambah yang sangat besar. Peningkatan kamera selfie 12MP-nya juga terbukti signifikan dan bukan sekadar angka di atas kertas.
Namun, harus ada kompromi yang perlu kalian sebagai pengguna mengerti. Embel-embel ‘FE’ berarti ada beberapa hal yang dikorting, dan harus diterima.
Kekecewaan terbesar jelas ada di sektor kamera belakang yang terasa daur ulang dan tidak mendapat upgrade sama sekali. Sensor 50 MP utama masih mumpuni, tapi ultrawide dan telephoto 8 MP-nya terasa standar dan inkonsisten.
Masalah krusial kedua adalah soal stabilitas. Meski di atas kertas kencang, Exynos 2400 ternyata gampang "ngos-ngosan" dan throttling saat diajak kerja berat.
Namun pada akhirnya, Samsung Galaxy S25 FE adalah pilihan menarik jika kalian memburu ponsel ‘rasa flagship’ dengan harga yang lebih reasonable.