
Uzone.id - Salah satu smartphone kelas menengah yang patut diperhitungkan adalah Vivo V70. Smartphone terbaru Vivo ini punya desain yang lebih elegan, dimensinya pun pas dalam genggaman, punya baterai besar, dan tentu saja, Vivo V70 juga bawa sistem kamera yang mumpuni untuk memotret jarak jauh.
Kali ini, kami akan memberikan review lengkap Vivo V70 setelah penggunaan selama kurang lebih dua minggu. Tentu ada kelebihan dan kekurangan dari Vivo V70 yang kami rasakan. Untuk lebih lengkapnya, berikut ulasan lengkap ponsel terbaru Vivo ini.Lebih mewah, lebih pas digenggam
Memegang ponsel ini seperti menggenggam Vivo X300, meski faktanya smartphone flagship Vivo tersebut memang lebih kecil. Kesannya mewah, tepian bodinya pun dibuat agak menyiku dengan bodi yang datar.
Sebenarnya, dibandingkan dengan generasi sebelumnya, perubahan paling kentara ada pada bagian layar. Plus minus memang perubahan ini.
Subjektif saja, layar datar yang kini diusung Vivo V70 memang gamer-friendly, karena minim mengalami mistouch ketimbang layar melengkung di generasi sebelumnya. Cuma minus-nya, bentangan layar yang kini mengerucut menjadi 6,59 inci dari 6,77 inci.
Cuma, lagi-lagi ini kelebihannya, dengan layar yang lebih kecil, maka dimensi ponsel pun jadi lebih ramah dalam genggaman.
Vivo V70 sedikit lebih pendek dengan tinggi 157,5 mm, dengan ketebalan 7,4 mm atau 7,6 mm dan bobot 187 gram atau 194 gram, tergantung varian warna yang kalian pilih. Bandingkan dengan Vivo V60 yang tingginya 163,5 mm dengan ketebalan 7,5 mm atau 7,8 mm dan bobot mencapai 201 gram.
Nah, bicara layar, panel AMOLED-nya tampilkan resolusi yang tajam mencapai 1.260 x 2.750 piksel dan sudah mendukung refresh rate 120Hz.
Layarnya pun suguhkan kedalaman warna 10-bit, serta kalian sebagai pengguna tak perlu khawatir konten di layar kurang maksimal terlihat saat di bawah terik matahari, karena tingkat kecerahannya tembus 5.000 nits pada peak mode.
Ada satu peningkatan yang signifikan, yakni sensor sidik jari di dalam layarnya. Bukan lagi optical, melainkan menggunakan teknologi ultrasonik yang lebih responsif. Fitur ini sudah setara flagship-nya Vivo, yakni X300 Series.
Nah ini yang kami suka. Sudah sering dikeluhkan selalu pakai bodi plastik, akhirnya Vivo beralih menggunakan aluminium seri-6 untuk V70. Desainnya kian kelihatan premium, karena bingkainya dibuat datar dengan sentuhan akhir yang dipoles rapi, sukses memberikan feel genggaman yang solid.
Berbekal bodi dari aluminium, Vivo V70 juga diklaim lolos uji jatuh dari ketinggian 1,8 meter. Dan masih soal ketahanan, layarnya sudah diproteksi lapisan kaca Schott Xensation Core yang lebih tahan gores.
Terakhir untuk urusan ketahanan air dan debu, Vivo V70 sudah mengantongi rating IP68 dan IP69, yang berarti sudah tahan semprotan air bertekanan dan bersuhu tinggi.
Serba AI di OriginOS 6
OriginOS 6 berbasis Android 16 pun sudah disematkan pada Vivo V70. Di era yang serba AI seperti sekarang, Vivo berhasil catch up dengan hadirkan serangkaian fitur AI pada smartphone ini.
Di Vivo V70, ada asisten AI yang berguna banget pas lagi mentok ide ketika menulis. Fitur ini bisa bantu mengecek ejaan atau proofreading, menulis ulang kalimat, sampai merangkum teks panjang secara otomatis.
Selain itu, hadir juga AI Captions yang tertanam langsung di level sistem. Fitur ini jago mengubah suara menjadi teks, termasuk transkripsi dan terjemahan bahasa secara real-time. Fitur ini sering kami gunakan ketika doorstop narasumber, atau mengikuti agenda redaksional lainnya.
Kalau untuk urusan produktivitas kerja, Vivo V70 punya editor dokumen bawaan bernama Vivo DocMaster. Fitur ini juga membawa banyak fitur AI di dalamnya, seperti merangkum isi dokumen, membuatnya kembali dengan gaya bahasa yang berbeda, mengubahnya menjadi listicle tugas yang harus dikerjakan, translate, dan sebagainya.
Sementara buat kalian yang hobi edit foto, semua tools editing berbasis AI juga tersedia pada Albums bawaan. Tinggal tap Edit, kemudian tekan AI Retouch, dan tersedia banyak fitur di sana. Kalian bisa menghapus objek yang tak diinginkan, menaikkan resolusinya, memperbesar rasio gambar, hingga melakukan penyesuaian warnanya.
Sebagai fitur tambahan, OriginOS 6 juga hadirkan Dynamic Island di area punch hole, yang menampilkan info kontekstual seperti sisa waktu timer, Google Maps, hingga kontrol pemutar musik.
Dengan OriginOS 6 juga, Vivo V70 sudah dukung fitur transfer file dengan iPhone, asalkan iPhone yang akan terhubung sudah terpasang aplikasi Vivo EasyShare terlebih dahulu. Terhubung ke PC pun bisa melalui Vivo Connection Center.
Oh ya, Vivo juga memberikan jaminan pembaruan yang sangat panjang, yakni dukungan update OS dan patch keamanan hingga 6 tahun ke depan.
Masih Snapdragon 7 Gen 4 nih!
Kalau boleh positive thinking, mungkin Vivo berpikir, “Kalau masih oke, ngapain diganti?”
Ya, masih sama seperti sebelumnya, Vivo V70 ditenagai Snapdragon 7 Gen 4. Memang, chipset ini tak boleh dipandang sebelah mata.
Prosesor ini punya performa yang efisien dengan dukungan konektivitas modern. Di atas kertas, CPU-nya mengandalkan konfigurasi octa-core, terdiri dari 1-core pada kecepatan 2,8 GHz Cortex-720, 4-core pada kecepatan 2,4 GHz Cortex-720, dan 3-core pada kecepatan 1,8 GHz Cortex-520, yang ditandemkan bersama pengolah grafis GPU Adreno 722.
Kebetulan, unit Vivo V70 yang kami review adalah varian tertinggi dengan RAM 12 GB dan memori internal 512 GB, di mana Vivo juga menyediakan opsi 8/256 GB dan 12/256 GB. Nah, upgrade yang paling patut diapresiasi dari Vivo V70 tahun ini adalah peralihan dari memori penyimpanan jadul UFS 2.2 ke UFS 4.1 yang jauh lebih kencang.
Lonjakan performa dari memori ini sangat terasa. Bukan sekadar bikin skor benchmark melesat, tapi pengalaman scrolling antarmuka, loading saat buka aplikasi atau main game, hingga proses buka-tutup aplikasi terasa lebih responsif.
Bicara soal benchmark, pada AnTuTu Benchmark v11, Vivo V70 sukses mencetak skor di angka 1.441.443 poin. Selama tes berjalan, manajemen suhunya juga terbilang aman, cuma naik sekitar 7,5 derajat Celcius dan mentok di 38,4 derajat Celcius, dengan konsumsi baterai yang hanya berkurang 5 persen.
Lanjut ke Geekbench 6, ponsel ini menorehkan skor 1.331 poin untuk single-core dan 4.175 poin pada pengujian multi-core. Sementara untuk kemampuan olah grafis, skor GPU OpenCL tercatat di angka 4.865 poin.
Kami juga menyiksa performanya lewat 3DMark Wild Life Stress Test untuk melihat seberapa stabil kinerja HP ini kalau dihajar pemakaian berat terus-menerus. Hasilnya, skor best loop menyentuh angka 7.690 poin dan lowest loop di 4.995 poin.
Tingkat kestabilannya terbilang lumayan oke di 65 persen, dengan penurunan kinerja tepat pada pemutaran ke-10.
Suhu perangkat pun melonjak dari 34 derajat menjadi 44 derajat Celcius selama pengujian, di mana baterainya juga terkuras sekitar 7 persen. Adapun, tingkat frame rate terendah berada di level 19 FPS dan tertinggi pada 59 FPS.
Soal daya, Vivo V70 ditopang baterai 6.500 mAh yang bisa bertahan hingga hampir 15 jam pemakaian. Baterai yang tahan lama, diimbangi juga oleh pengisian baterai yang mumpuni berkat 90W FlashCharge. Dari pengujian kami, mengisi baterai sampai penuh cuma butuh waktu 58 menit saja.
Kameranya emang jempolan
Sebenarnya, konfigurasi kamera Vivo V70 tidak bawa banyak ubahan yang signifikan. Tapi satu kata yang cocok buat menggambarkan kualitas kamera smartphone ini secara keseluruhan, yakni bagus.
Komposisi kameranya seimbang, dua kamera belakangnya (utama dan telephoto) bagus, kamera ultrawide-nya memang standar, dan kemampuan kamera depan terbilang mumpuni.
Sebagai kamera utama, Vivo menyematkan sensor 50 MP Sony IMX 766 berukuran 1/1.56 inci dengan bukaan f/1.88 dan dukungan OIS. Kamera ini suguhkan hasil yang memuaskan, kontrasnya dapet, rentang dinamisnya juga luas untuk menangani area terang dan gelap secara bersamaan.
Dan, karakter warnanya juga khas Vivo yang sedikit punchy dan ready to post. Enak dilihat dan langsung dibagikan, karena warnanya cenderung tidak lebay atau terlalu artifisial.
Tangkapan detailnya juga sangat baik. Memang, kalau fotonya di-zoom atau dilihat ekstra teliti, masih ada sedikit efek sharpening digital dan grain tipis, tapi ini sama sekali tidak merusak kualitas fotonya secara keseluruhan.
Sementara untuk kemampuan kamera periscope telephoto, Vivo V70 gunakan sensor 50 MP Sony IMX 882 atau sering disebut Sony LYT-600. Lensa ini punya jangkauan perbesaran 3x optical-zoom dengan bukaan lensa f/2.65 dan dibekali OIS.
Dari pengalaman kami, lagi-lagi kamera ini hasilkan gambar yang bersih dan bebas noise, walah perbesarannya ditarik lebih ekstrem ke 10x zoom. Warnanya juga tajam dan dibuat agak terang, tak berlebihan memang, namun bisa dianggap siap untuk dibagikan ke media sosial kapan saja.
Untuk memotret manusia, racikan bokeh khas Zeiss pada rentang optik 3x-nya juga memberikan foto yang berkesan lebih sinematik dan mahal.
Hanya saja, ada satu catatan. Lensa telephoto ini butuh jarak fokus yang lumayan jauh. Artinya, lensa ini tak bisa diajak memotret makro dari jarak dekat.
Lalu bagaimana dengan ultrawide-nya? Lensa ini jadi bagian yang paling standar. Resolusinya cuma 8 MP menggunakan sensor OmniVision OV08F dan sifatnya fixed focus.
Hasil jepretannya biasa saja, bahkan cenderung soft dan kurang tajam. Reproduksi warna dan dynamic range-nya sih masih bisa ditoleransi, tapi kalau dipakai untuk foto objek dengan tekstur yang rumit, kualitasnya secara keseluruhan lebih layak disebut sekadar pelengkap saja.
Ini yang kami bilang seimbang. Meski kamera ultrawide amat sangat standar, kamera depannya punya konfigurasi yang tak main-main. Resolusi 50 MP dan pakai sensor Samsung ISOCELL JN1 dengan bukaan f/2.0 dan sudah mendukung autofokus.
Detail wajah tertangkap sempurna, fokusnya cepat, dan secara keseluruhan sangat memanjakan buat kalian yang hobi vlogging atau selfie.
Kurangnya dari pemrosesan warna, terutama saat selfie di luar ruangan dengan sinar matahari yang langsung menyorot ke arah kamera depan. Detail wajah, warna pakaian dan latar belakang memang tertangkap dengan baik.
Tapi, ada glitch yang mengganggu. Sistem HDR-nya kelihatan agak kewalahan buat menangani backlight ekstrem. Kalau kalian perhatikan, muncul semacam efek berupa garis putih terang yang tidak natural di sekitar area rambut, kepala, sampai ke pundak.
Efek ini lumayan merusak estetika foto dan bikin hasilnya kelihatan jelas kalau over-processed. Sepertinya AI di kameranya terlalu agresif memaksakan keseimbangan exposure antara wajah subjek dan latar belakang yang telanjur kelewat terang. Alhasil, separasi atau batas potongan antara subjek dan background malah jadi terlihat kasar.
Hasil foto Vivo V70
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Vivo V70 punya nilai jual utama yang kuat, yakni desain premium berbahan aluminium dengan ketahanan IP69, layar datar yang nyaman, hingga baterai badak 6.500 mAh dengan dukungan fast charging 90W.
Walaupun masih setia dengan Snapdragon 7 Gen 4, keputusan Vivo untuk upgrade ke memori UFS 4.1 terbilang sukses mendongkrak performa hariannya jadi jauh lebih responsif. Belum lagi, deretan fitur AI di OriginOS 6 yang dibawanya benar-benar fungsional untuk menunjang produktivitas dan kreativitas.
Tentu saja smartphone ini tidak sempurna. Titik lemahnya paling terasa di kamera ultrawide yang terbilang pas-pasan, serta lensa telephoto yang kurang ramah untuk jepretan makro.
Namun, kalau kalian bisa mentoleransi dua hal tersebut dan lebih mencari ponsel dengan hasil kamera utama dan selfie yang jempolan, suhu performa yang stabil, serta desain tangguh nan mewah, Vivo V70 jelas sangat layak untuk dipinang.