
Para pemain Atletico Madrid berjalan sambil menundukkan kepala di tengah pesta pora para penggemar Juventus di Stadion Allianz, Turin, 13 Maret 2019. Penyebabnya: tiga gol Cristiano Ronaldo, penyerang Juventus, menghentikan langkah mereka di Liga Champions musim 2018-2019.
Di tempat angker bagi lawan-lawan Juventus itu, Atletico bahkan tidak hanya kalah 3-0. Mereka sama sekali tak memberikan perlawanan, dipermainkan, dan menurut Fran Guillen, jurnalis asal Madrid, bermain "sangat ketakutan".
"Mereka seharusnya bertarung seperti harimau, tetapi beberapa pemain Atletico justru tampak punya mental yang amat jauh daripada harapan itu," kata Guillen.
Guillen lantas mengkritik lebih jauh para pemain Atletico. Sebagian dari mereka, kata dia, sebetulnya mulai tidak cocok dengan gaya Simeone, sebagian lainnya sudah tidak memiliki rasa lapar kemenangan, dan seterusnya.
Ia mengakhiri kritiknya itu dengan pedas: jika Atletico masih ingin kompetitif di semua kompetisi, Simeone harus segera membangun ulang skuatnya.
Namun, saat musim 2018-2019 berakhir, Guillen barangkali tak menyangka kalau Simeone bakal berbuat lebih nekat dari dugannya. Sebab, pelatih asal Argentina itu tidak hanya melego satu-dua pemain saja, melainkan berani melepas sebagian besar pemain bintang yang dimilikinya.
Diego Godin, Filipe Luis, dan Juanfran, tiga pilar utama lini belakang Atletico Madrid saat menjadi juara La Liga musim 2013-2014, dibiarkan pergi begitu saja. Lucas Hernandez, bek muda penuh talenta, bergabung bersama Bayern Munchen. Rodri, yang digadang sebagai pengganti sepadan Sergio Busquets di lini tengah timnas Spanyol, terbang ke Manchester City. Terakhir, Antoine Griezmann, adibintang asal Perancis, merapat ke Barcelona.
Sebagai gantinya, Simeone menghabiskan dana sekitar 243 juta euro untuk mendatangkan Joao Felix (126 juta euro), Marcos Llorente (30 juta eruo), Kieran Trippier (22 juta euro), hingga Felipe (20 juta euro). Saat melihat pergerakan Atletico di bursa transfer tersebut, revolusi skuat yang dilakukan Simeone jelas tak boleh dipandang sebelah mata.
Meski sejauh ini berhasil, pendekatan Simeone dalam bertahan bukannya tak punya konsekuensi. Para pemain Atletico dituntut disiplin dan terorgansir dalam bertahan sehingga mereka hanya punya satu cara buat menyerang: mengandalkan Antoine Griezmann.
Alhasil, Atletico pun sering kali kesulitan membobol gawang lawan. Meski Griezmann bisa mencetak 15 gol dan mencatatkan 9 assist, Los Rojiblancos hanya mampu mencetak 55 gol di La Liga musim lalu, jauh di bawah Barcelona (90 gol), Real Madrid (63 gol). Selain itu, expected goals Atletico juga sangat rendah, tak mencapai 40 kali, berada di peringkat ke-11 di antara tim-tim La Liga lainnya.
Pada musim 2017-2018, Simeone sebetulnya sadar dirinya tak bisa hanya mengandalkan Griezmann. Ia terlihat beberapa kali mencoba racikan baru, misalnya membuat Atletico bermain dengan garis pertahanan lebih tinggi daripada sebelumnya. Namun, pendekatan itu malah mengganggu keseimbangan permainan mereka.
Setelah itu, Simeone kembali menjajal cara baru: ia mendatangkan sejumlah gelandang kreatif untuk mendukung peran Griezmann. Sayangnya, cara baru itu juga bisa dibilang gagal. Thomas Lemar, Vitolo, hingga Gelson Martin ternyata tak cocok dengan filosofi Simeone.
Menariknya, saat Griezmann hijrah ke Barcelona, Simeone lantas mencoba mengatasi masalah pelik itu hanya dengan mendatangkan Joao Felix. Melihat kiprahnya sejauh ini, Felix barangkali jadi solusi yang pas untuk bikin Atletico lebih menggigit di musim depan.
Seperti Griezmann, Felix adalah seorang kreator sekaligus penuntas serangan kelas satu. Bersama Benfica musim lalu, ia mampu mencetak 15 gol dan mencatatkan 9 assist. Meski begitu, berbeda dengan Griezmann dan pemain-pemain kreatif Atletico di bawah asuhan Simeone lainnya, Felix lebih berkarakter sebagai seorang playmaker.
Abdullah Abdulla dalam salah satu analisisnya di Total Football Analysis menyebut Felix punya visi yang luar biasa. Di mana pun ia dimainkan--sayap kiri, pemain nomor 10, maupun penyerang tengah--visi itu memungkinkan Felix selalu bergerak ke mana saja, sehingga ia bisa terlibat dalam setiap serangan yang dibangun timnya.
Secara kasat mata, gaya bermainnya itu memang tak cocok dengan pendekatan Simeone yang kaku dan penuh kedisiplinan. Namun, masih menurut Abdulla, Felix punya nilai tawar yang menguntungkan: ia punya jangkauan passing yang luas. Itu artinya, Felix tak perlu meninggalkan posisinya untuk mengatur tempo permainan timnya pada saat-saat tertentu.
Dengan karakter seperti itu, Felix diharapkan mampu memancing kreativitas pemain-pemain tengah Atletico. Umpan-umpannya akan memberikan ide segar, dan serangan Atletico akan semakin susah untuk ditebak oleh lawan.
Harapan ini setidaknya tampak saat Atletico Madrid berhasil membabat Real Madrid 7-3 pada akhir Juli 2019.
Kala itu, tidak hanya mencetak 1 gol dan mencatatkan 2 assist, pergerakan dan umpan-umpan Felix mampu memantik kreativitas lini tengah Atletico. Dalam laga yang digelar di Amerika Serikat tersebut, Koke dan Saul, dua gelandang tengah Atletico, bahkan terlibat langsung dalam proses dua gol Atletico.
Koke mencatatkan 1 assist, sedangkan Saul berhasil mencatatkan 2 assist, padahal dengan peran yang sama pada musim lalu, Saul hanya bisa membuat satu assist dari 32 penampilannya di La Liga.
Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA EROPA atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan