icon-category Travel

Rihlah ke Kota Nabi

  • 06 Sep 2017 WIB
Bagikan :

Azan Subuh berkumandang dari menara Masjidil Haram, Makkah. Suaranya seolah membumbung ke langit kelam tanpa gemintang.

Di pagi buta itu, Masjidil Haram sudah dipadati manusia. Sebagian besar orang bertawaf, sebagian lagi shalat di seputar Ka’bah, di luar area tawaf.

Memandang ke atas, nampak langit kelam yang mulai beranjak menyambut fajar. Gradasi warna dari hitam ke terang itu beririsan dengan pancaran cahaya lampu menara-menara masjid.

Kala suara azan terhenti, sebagian kaum Muslim yang berada di halaman utama masjid maupun lantai dua segera melaksanakan shalat sunah. Orang-orang yang bertawaf pun menghentikan langkah kaki dan langsung menghadap Ka’bah, melaksanakan shalat.

Tim Media Center Haji (MCH) 2017 dan sejumlah petugas Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) yang baru saja menunaikan tawaf, bergegas mencari tempat kosong di seputar Maqam Ibrahim untuk melaksanakan shalat sunah tawaf.

Tak lama kemudian seruan iqamat berkumandang. Pertanda shalat Subuh segera didirikan. Dan lantunan merdu sang imam yang membacakan kalam Ilahi lantas membuai seluruh jemaah.

Usai shalat, Tim MCH kemudian bergerak menuju mas’a (tempat sai) untuk melaksanakan sai. Memutari bukit Shafa dan Marwah, menapaktilasi perjuangan Siti Hajar (istri Nabi Ibrahim) saat berkeliling dua bukit itu saat mencari air minum untuk putra terkasih; Ismail.

Begitu sai dan tahalul (memotong rambut) rampung, rombongan kemudian bergerak menuju Rehhal Mina Hotel di kawasan Syisyah. Istirahat selama setengah hari, tim lantas melanjutkan perjalanan menuju Kota Madinah.

Tepat pukul 15.00 WAS, bus yang mengangkut rombongan PPIH bergerak pelan dari depan hotel. Menyusuri jalanan lengang Kota Makkah, di bawah terik mentari yang menyengat kulit. Suhu pada puncak musim panas ini mencapai 45 derajat Celsius.

Memasuki jalan utama menuju Kota Madinah, yang tampak di kiri-kanan adalah tanah gersang dan gunung-gunung batu. Di beberapa bagian gunung tampak berdiri gedung-gedung berbentuk kotak, seolah membentuk perkampungan nan jauh dari pusat kota.

Jalanan yang lengang ini membuat perjalanan sangat lancar. Kecepatan rata-rata kendaraan yang melintas di atas 100 km per jam. Jalan yang lebar ini tak ubahnya jalan tol di Indonesia, namun lebih luas. Bedanya, di sini gratis tanpa bayar sepeser pun.

Sembari menikmati perjalanan, pikiran saya menerawang ke masa silam. Membayangkan bagaimana Nabi Muhammad dan para sahabat harus menaklukkan alam nan ganas ini saat hijrah ke Madinah.

Melewati gurun pasir dan pegunungan batu yang minim sumber air. Kini, orang-orang modern bergerak dari Makkah ke Madinah hanya dalam hitungan jam. Jarak sekitar 450-an kilometer ditempuh kurang lebih empat saja. 

Tak terbayangkan bagaimana perjuangan Nabi dan sahabat dulu yang menempuh perjalanan dengan karavan unta. Bahkan mungkin ada yang berjalan kaki. Entah berapa lama mereka sampai di Madinah.

Sekitar dua jam menikmati pemandangan alam yang kering kerontang di pinggir jalan, bus menepi di sebuah tempat rehat. Penumpang dipersilakan turun. Ada yang segera menuju toilet, sebagian lagi langsung masuk ke warung dan memesan makanan atau minuman.

Tiga puluh menit kemudian, bus melanjutkan perjalanan menuju Kota Sang Nabi. Menjelang Maghrib, bus tiba di Gerbang Kota Madinah, sebuah landmark yang berdiri tepat di tengah persimpangan jalan.

Kota Madinah masih sepi saat itu. Jemaah haji belum banyak yang datang. Jalan-jalan utama kota bersejarah ini juga tak terlalu dipadati kendaraan, lalu-lintas lancar tanpa kepadatan berarti.

Tak berapa lama kemudian, bus yang membawa kami dari Kota Makkah, tiba di depan Kantor Urusan Haji Indonesia yang sekaligus menjadi Kantor Daerah Kerja (Daker) Madinah. Pusat kegiatan operasional tugas-tugas perhajian.*

 

 

 

 

 

 

 

 

Cek informasi menarik lainnya di Google News

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini