
Uzone.id — Baru pergantian tahun, rasanya ketegangan antar negara semakin menyeruak, tak hanya di darat namun juga di skala antariksa. Baru-baru ini ada temuan intelijen terbaru mengungkap dugaan pengembangan senjata luar angkasa “anti-satelit” yang dikembangkan Rusia untuk melumpuhkan Starlink.
Senjata Rusia ini dijuluki sebagai “zone-effect” yang dirancang untuk membanjiri orbit Starlink dengan ratusan ribu high-density pellets atau fragmen kecil berkerapatan tinggi yang berpotensi melumpuhkan banyak satelit sekaligus. Dengan kata lain, senjata ini tidak menargetkan satu satelit saja, melainkan membuat satu area orbit menjadi “zona berbahaya” karena dapat melumpuhkan banyak satelit dalam sekali waktu.Di balik daya rusaknya, senjata semacam ini dinilai berisiko menciptakan kekacauan besar di orbit Bumi. Mengutip berbagai sumber, para analis memperingatkan, dampaknya tak hanya mengancam Starlink, tetapi juga sistem satelit milik negara dan perusahaan lain, termasuk Rusia sendiri serta sekutunya yakni China, yang sangat bergantung pada ribuan satelit untuk komunikasi, pertahanan, dan kebutuhan vital lainnya.
Sejumlah analis yang belum melihat langsung temuan intelijen tersebut bahkan meragukan senjata ini bisa digunakan secara efektif tanpa memicu kerusakan masif di antariksa.
Risiko itulah yang diyakini dapat menahan Moskow untuk benar-benar mengerahkan atau menggunakan sistem tersebut.
“Saya benar-benar tidak percaya,” kata Victoria Samson, pakar keamanan luar angkasa dari Secure World Foundation yang memimpin studi tahunan tentang sistem anti-satelit.
Ia melanjutkan, “saya akan sangat terkejut jika mereka benar-benar melakukan hal seperti ini.”
Meski begitu, Komandan Divisi Antariksa militer Kanada, Brigadir Jenderal Christopher Horner, menilai kemungkinan tersebut tetap tidak bisa dianggap remeh. Ia merujuk pada tudingan Amerika Serikat sebelumnya bahwa Rusia tengah mengembangkan senjata nuklir berbasis luar angkasa yang bersifat tidak selektif.
“Saya tidak bisa bilang saya pernah mendapat paparan langsung soal sistem seperti itu. Tapi itu bukan sesuatu yang mustahil,” ujarnya Horner.
Menurutnya, jika laporan mengenai pengembangan senjata nuklir luar angkasa tersebut benar, dan Rusia memang bersedia melangkah sejauh itu, maka tidak mengherankan bila mereka juga mengembangkan sistem lain yang “sedikit lebih ringan” dari nuklir, namun tetap berpotensi menimbulkan kerusakan besar.
“Kalau mereka siap mengembangkan sistem sekelas itu, maka tidak mengejutkan jika ada sesuatu yang sedikit di bawahnya, tapi sama berbahayanya, juga sedang mereka kerjakan,” tambahnya.
Di sisi lain, Rusia selama ini justru menyerukan upaya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mencegah penempatan senjata di orbit. Presiden Vladimir Putin pun beberapa kali menegaskan bahwa Moskow tidak berniat menempatkan senjata nuklir di luar angkasa.
Sekadar diketahui, Starlink selama ini dilihat sebagai ancaman bagi Rusia. Layanan internetnya dipakai militer Ukraina untuk jalur komunikasi hingga penargetan senjata, serta warga sipil yang juga menggunakannya untuk komunikasi sehari-hari.