
Suasana Thamrin City, salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, masih terbilang sepi. Tak ada sahut menyahut pedagang yang mengajak pengunjung mampir sejenak. Di tengah-tengah kesepian itu, berhelai-helai batik Betawi terpajang 'lesu' di salah satu sudut.
Keberadaan batik Betawi barangkali bisa jadi jawaban kegalauan pelancong saat berkunjung ke Jakarta. Jika ditagih oleh-oleh, seharusnya pelancong bisa langsung saja sodorkan batik Betawi.
Hanya saja, perburuan batik Betawi kali ini cukup pelik. Dari sekian yang dijumpai CNNIndonesia.com pada medio pekan lalu, hanya ada dua lapak pedagang yang menjajakan batik Betawi.
Lihat juga:FOTO : Warna 'Berani' Betawi di Hari Batik |
|
Seorang perajin mencetak kain batik khas Betawi menggunakan malam atau lilin yang dipanaskan di kawasan Terogong, Cilandak, Jakarta. (ANTARA FOTO/Syailendra Hafiz Wiratama)
|
Jika sebelumnya mayoritas pesanan berasal dari lembaga kedinasan untuk seragam, belakangan pemesan batik Betawi mulai beragam. "Belakangan ini [ada pesanan] buat pesta kawinan, sama kedinasan Bogor juga bahkan mulai pakai," aku Yuliani.
Batik Betawi telah lama vakum. Namun, dalam waktu beberapa tahun ke belakang, batik khas Ibu Kota itu pelan-pelan bangkit.
Menilik potret litografi, masyarakat Betawi diprediksi telah mengenal batik sejak sekitar abad 14-15. "Saat itu, kain-kain ini tak disebut kain batik, tapi kain bermotif," ujar budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (19/6).
Kain batik naik daun saat pasar-pasar besar di Jakarta mulai dibuka seperti Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang. Pasar-pasar ini kemudian menjadi sentra penjualan kain batik dari luar Jakarta seperti daerah pesisir Pulau Jawa.
Munculnya batik Betawi tak lepas dari invasi kain-kain batik pesisir Pulau Jawa. Kemunculan ini bermula dari ketertarikan masyarakat Betawi terhadap motif batik pesisir Jawa. "Kok, motifnya cocok betul dengan makna kearifan lokal masyarakat Betawi," kata Yahya.
Motif pucuk rebung menjadi signature dari batik Betawi. Pucuk rebung merupakan metamorfosa dari motif klasik cagak yang hadir jauh sebelumnya. Kosarupa berbentuk segitiga yang menyerupai gunung menjadi simbol keseimbangan dalam kehidupan. Bahwa, ada sinergi antara manusia, alam, dan sang maha pencipta.
Kegilaan masyarakat Betawi pada batik yang naik daun kala itu membuat sejumlah juragan meminta pengrajin batik pesisir untuk membantu proses membatik di tanah kelahirannya. Akibatnya, ilmu pengrajin batik pesisir kemudian menular pada masyarakat Betawi.
"Batik Betawi memang hasil comot punya orang [batik pesisir Jawa]," kata Yahya. Masyarakat Betawi mengadopsi batik pesisir Jawa, mulai dari motif hingga warna-warna mencolok yang dihadirkan. Maklum, karakter masyarakat Betawi, kata dia, kerap menyukai nada-nada warna yang menyala.
Di luar itu, ada pula motif yang dibikin oleh masyarakat Betawi asli seperti bambu kuning, galur Ciliwung, pohon gadung, dan masih banyak lagi. "Tapi yang murni seperti ini sulit dicari," kata Yahya.
Motif yang dikenal saat ini seperti ondel-ondel, si Pitung, bajaj, dan ikon-ikon Jakarta lainnya adalah motif kreasi baru.