
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan bahwa mendiang istrinya, Ani Yudhoyono, berjuang hingga hari-hari terakhir untuk melawan penyakit kanker darah.
SBY juga menyebut perawat di rumah sakit National University Singapura (NUH) tempat Ani dirawat menyebut istrinya sebagai perempuan yang kuat.
"Ibu Ani tahu bahwa penyakitnya sangat berat, ganas, agresif. Tetapi dia mengatakan kepada saya, saya pasrah, tetapi tidak akan pernah menyerah. Never give up," kata SBY di Rumah Duka di Cikeas, Minggu (2/6).
SBY mengatakan dari pernikahannya selama puluhan tahun dengan Ani, ia memahami bahwa raut wajah dan sorot mata istrinya menunjukkan upaya untuk bertahan di jam-jam terakhir.
"Dari mata dan wajahnya, Ibu Ani mencoba untuk bertahan. Up to the limit. Sampai batas yang bisa dilakukan manusia. Manusia yang kuat dan tangguh. She tried. Untuk bertahan."
"Tapi Allah SWT mengambil keputusan yang lain. Saya yakin, keputusan itu yang benar. Kalau Ibu Ani bertahan dalam kondisi seperti itu, dalam multi-organs failure, saya kira akan sangat-sangat berat. Saya tidak ingin Bu Ani menderita terlalu banyak di luar beban manusia. Allah membebaskan Ibu Ani."
Jenazah Ani saat ini disemayamkan di pendopo rumah duka di Cikeas dan akan dimakamkan hari ini pada pukul 13.30 WIB di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Pada 2011 silam, Ani pernah dianugerahi Bintang Jasa Adiprana sehingga dimakamkan dengan upacara militer di TMP Kalibata.