
Bagi Johnny Sins, jadi bintang porno merupakan bentuk dedikasi. Ia percaya bahwa dunia porno adalah dunia yang layak diseriusi serta dikerjakan dengan totalitas maupun profesionalitas yang tinggi. Bila itu semua sudah terpenuhi, kesuksesan akan datang dengan sendirinya.
Kerja keras Johnny di dunia porno dirintis sejak 2006. Sampai saat ini, total, pria yang kerap dijuluki “Vin Diesel film porno” tersebut bermain di lebih dari 500 judul.
Tentu pencapaian ini tak datang dalam satu malam. Johnny bergelut dengan proses yang panjang. Untuknya, tubuh yang prima merupakan investasi jangka panjang sekaligus cara bertahan di dunia pornografi. Maka dari itu, Johnny tak ragu memacu dirinya sampai di atas batas.
Di pagi hari, misalnya, Johnny menyantap yogurt, rebusan kale, enam butir telur, susu yang dicampur oatmel, dua liter air, dan ditutup dengan menenggak beberapa vitamin—dari C, D, sampai minyak ikan. Setelahnya, Johnny baru masuk ke latihan fisik: naik sepeda maupun angkat barbel. Rutinitas ini dilakukannya dengan konsisten.
Johnny sadar usianya tak lagi muda. Oleh karenanya, menjaga tubuh menjadi satu-satunya resep agar dirinya mampu tampil penuh stamina ketika di ranjang sekaligus punya jalan karier yang terbentang panjang.
Menurut penelitian Millward, laki-laki lebih sulit masuk dalam industri porno dibanding perempuan. Agar bisa bermain di film porno, laki-laki harus punya relasi orang dalam dan kenalan sesama aktor maupun aktris.
Meski begitu, bagi perempuan kondisinya tak lantas jadi serba mudah. Dalam perjalanan kariernya di industri porno, perempuan punya potensi besar untuk mendapatkan hal-hal yang tidak diinginkan: dari perisakan, pelecehan, sampai kekerasan.
Adult Video News, pada 2010, meneliti 50 film porno dengan jumlah viewers paling banyak. Hasilnya, film-film itu, mayoritas, mengandung unsur kekerasan, secara fisik maupun verbal, kepada aktrisnya. Ada yang ditampar, dipaksa melakukan oral, sampai dipanggil dengan sebutan “jalang” atau “pelacur.”
Kondisi kian diperburuk dengan lingkungan kerja yang sama sekali tak ramah dengan para aktris-aktris porno ini. Paham ada adegan yang memuat kekerasan, misalnya, para kru di balik layar justru memaksa sang aktris untuk terus melanjutkannya. Mereka seolah tak peduli bahwa perlakuan itu bikin aktris-aktris menderita.
Walhasil, dari sini, aktris porno tak punya pilihan banyak selain pensiun lebih cepat, atau, yang paling ekstrem, mengakhiri hidupnya sendiri saking tak kuatnya menahan beban dan tekanan, seperti yang menimpa August Ames pada 2017 silam.
Ketika sudah tak lagi berkarier di dunia porno, para aktris ini seperti menyambut hidup baru—yang sebetulnya juga tak jauh dari dunia porno. Christy Canyon, bintang porno yang populer pada era 1980-an, misalnya, memilih untuk jadi penyiar radio Playboy dan berbisnis kecil-kecilan.
Lain Christy, lain pula Tera Patrick. Hari-harinya selepas pensiun diisi dengan tur buku, menjadi DJ (Disc Jockey), serta mengoperasikan perusahaan porno miliknya sendiri. Sementara Jesse Jane tak akan pergi jauh dari industri porno bila masa pensiunnya tiba.
“Ketika aku pensiun [dari dunia porno], mungkin aku tak akan benar-benar meninggalkan industri ini mengingat apa yang telah aku lewati selama 11 atau 12 tahun belakangan,” jelasnya kepada CNBC.
Industri porno tak semata soal nafsu. Ia juga berbicara tentang orang-orang yang kalah, yang bertahan hidup dari segala ketidakberuntungan, dan yang berupaya membangun kembali mimpi-mimpinya.
Baca juga artikel terkait JOHNNY SINS atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani