
Dixie Deans berumur 18 saat ia bersama keluarganya bermigrasi dari Irlandia ke Amerika Serikat. Perjalanan sejauh 6.750 kilometer pada 1980 itu ditempuh menggunakan pesawat Boeing 747.
“Betapa kerennya pesawat itu,” katanya mengingat-ingat peristiwa tersebut.
Kekaguman atas 747 tak hanya dirasakan Deans. Bob van der Linden, kurator pada Air and Space Museum Smithsonian, menyatakan hal serupa. Katanya, 747 adalah pesawat yang sangat spesial saat muncul di dunia aviasi. “Pesawatnya besar, tak ada pesawat yang mengudara sebesar itu sebelumnya,” tutur Linden.
Dalam sebuah publikasi BBC, Boeing 747 disebut sebagai pesawat “yang mengerucutkan dunia”. Sebutan BBC tampaknya tak berlebihan. Di laman resmi Boeing, tinggi 747 setara dengan gedung enam lantai dengan lebar pesawat hampir 60 meter dan panjangnya mencapai 70 meter. Dengan bobot sekitar 330 ton, pesawat bisa terbang dengan kecepatan 0,8 mach, mendekati kecepatan suara. Raksasa 747 dibangun oleh sekitar 50 ribu pegawai Boeing yang bekerja secara simultan.
Bobot yang jumbo itu sebanding dengan daya angkutnya. Boeing 747 sanggup menerbangkan lebih dari 400 penumpang sekali jalan. Dan karenanya, 747 juga dikenal dengan sebutan “Jumbo Jet.”
Jumbo Jet pertama kali mengudara pada 9 Februari 1969. Pan Am, maskapai legendaris Amerika Serikat yang runtuh pada 1991, jadi maskapai pertama yang menggunakannya. Kala itu, pada 22 Januari 1970, tepat hari ini 49 tahun silam, Pan Am secara resmi menerbangkan 747 bagi masyarakat luas, dengan rute New York menuju London. Saat itu, untuk menyambut beroperasinya 747, Presiden Nixon dan Ibu Negara Patricia datang untuk meramaikan.
Meskipun Boeing kemudian menciptakan Jumbo Jet, ada keraguan dalam hati mereka. Saat Boeing menciptakan 747, dunia aviasi tengah kedatangan pesawat supersonik sipil, melalui Concorde yang dikembangkan Perancis dan Inggris. Karena mengira bahwa pesawat supersonik akan berjaya di kemudian hari, Boeing beranggapan bahwa masa depan 747 bukan sebagai pesawat pengangkut penumpang, tetapi sebagai pesawat kargo. Punuk sebagai ciri khas 747 merupakan buah dari kekhawatiran itu. Punuk digunakan sebagai pintu muatan-muatan kargo berbadan besar masuk ke pesawat.
Meskipun punya desain menciptakan pesawat jumbo, Boeing menghadapi beberapa kendala merealisasikannya. Salah satunya, sebagaimana termuat dalam Boeing 747: A History: Delivering the Dream, pada tengah tahun 1967, ketika proses pembuatan pesawat masih berlangsung, tercipta kelebihan beban pesawat.
Rencananya, pesawat 747 akan memiliki bobot tak lebih dari 308.442 kilogram. Namun, karena penambahan beberapa fitur, beratnya meningkat menjadi 322.050 kilogram. Penambahan bobot mengakibatkan pesawat jadi kurang efisien. Lalu, Boeing harus mengganti mesin pesawat karena dengan penambahan itu mesin harus bertambah kekuatan.
Rencananya, 747 versi awal akan menggunakan mesin pesawat Gerhard Neumann 41.000lb Thrust TF-39 Turbofan buatan General Electric, yang digunakan pesawat C-5A. Atau, pesawat jumbo itu akan menggunakan Rolls-Royce 17.500lb Thrust Conway ML-507 dari Rolls-Royce, yang digunakan 707. Dengan penambahan bobot, Boeing akhirnya menggunakan Prat&Whitney GECF-50 Engine buatan Prat&Whitney.
Akhirnya, selepas sekitar sembilan bulan bekerja, pada 9 Februari 1969 pesawat Jumbo Jet pertama, yakni 747-100 terbang. Hingga hari ini, terdapat 21 varian Boeing 747 dan 747-400 merupakan yang paling laku. Tercatat, sebagaimana dilansir dari laman Boeing, 442 unit 747-400 dipesan. Secara keseluruhan, ada 1.568 pesawat Boeing 747 dipesan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia dengan 1.548 di antaranya telah diantarkan.
Dilansir The Telegraph, 747 jadi salah satu pesawat yang paling banyak diproduksi. Ia hanya kalah dibandingkan 727, A320, dan “pesawat sejuta umat” 737. Selain didaulat sebagai salah satu yang paling banyak, 747 sukses menjadi pesawat spesial. The National Aeronautics and Space Administration (NASA), memodifikasi 747-100 menjadi pesawat pengangkut pesawat ulang-alik. Lalu, sejak 1990, Pemerintah Amerika Serikat menggunakan 747-200 sebagai Air Force One.
Sayangnya, nilai spesial 747 tak membuatnya bebas dari kecelakaan. Mengutip laman Aviation Safety, tercatat ada 53 kecelakaan fatal 747 yang mengakibatkan 2.865 jiwa tewas. Pada 2018, ada 63 kecelakaan ringan.
Boeing 747, yang sukses “mengerucutkan dunia” itu, harus ikhlas turun kasta sebagai Jumbo Jet. Ia memang merupakan raja di angkasa mulai 1970. Namun, posisi itu kemudian digantikan Airbus A380 pada 2005—pesawat yang sanggup memuat 850 penumpang sekali jalan, hampir dua kali lipat dari jumlah yang sanggup dibawa 747.
Baca juga artikel terkait BOEING atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin