
-
Bahar bin Smith lahir di Kampung Arab di Manado, Sulawesi Utara. Sejarah mencatat, di kota yang sebagian besar warganya memeluk Kristen ini orang-orang pendatang bisa diterima dengan baik.
Berdasarkan survei Setara Institute pada akhir 2018, Manado menempati urutan ke-4 dalam kategori kota paling toleran di Indonesia. Urutan ini jauh melampaui Jakarta. Orang-orang non-Kristen di Manado bisa hidup nyaman dengan agamanya masing-masing, termasuk kaum Muslim.
Orang-orang Islam di sana bisa berbaur dengan masyarakat sekitar yang Kristen. Tidak jarang, seorang Islam punya sepupu atau kerabat beragama Kristen.
Agama Islam masuk ke Sulawesi Utara bersamaan dengan masuknya pedagang-pedagang Arab. Mereka kemudian beranak-pinak di sana. Sudah ratusan tahun orang Arab hidup di Sulawesi Utara, termasuk di kota pelabuhan Manado. “Tahun 1590-an sudah ada Syarif, pedagang Arab di Manado,” tulis Jessy Wenas dalam Sejarah dan Kebudayaan Minahasa (2007: 23).
Selain itu, ada juga seorang Arab bernama Wahid Rais yang tinggal di daerah pesisir Belang—kini masuk wilayah Minahasa Tenggara. Wahid Rais beristrikan wanita Bola'ang-Mangondouw. Jessy Wenas menyimpulkan, “terlihat bahwa saudagar Arab memang telah lama datang ke kota pelabuhan di Minahasa.”
Sebelum 1830 agama yang dominan di pedalaman adalah agama asli Sulawesi Utara, Alifuru. Ketika Kiai Mojo dan pengikutnya dibuang ke Tondano setelah Perang Jawa usai (1830), agama itu masih dominan. Para pengikut Kiai Mojo hidup tidak jauh dari suku-suku asli di tanah Minahasa, yang sempat melawan Belanda dalam Perang Tondano dan diikutkan dalam Perang Jawa untuk melawan Diponegoro.
Remy Sylado dalam Perempuan Bernama Arjuna 5: Minasanologi dalam Fiksi (2017) menyebut, “memang harus diakui, bahwa karena komunitas Arab yang beragama Islam terpisahkan dengan mayoritas orang Minahasa yang beragama Kristen.”
Orang-orang Arab tidak seperti orang-orang Islam non-Arab yang lebih bisa berbaur dalam masyarakat umum. Menurut Remy, hal itu menyebabkan pengaruh bahasa Arab, atau setidaknya bahasa yang dipakai di Kampung Arab, tidak berpengaruh ke dalam bahasa Manado sehari-hari. Pengaruh orang Islam Kampung Arab masih kalah hebat dibandingkan dengan orang-orang Islam di tepi Danau Tondano.
Para pengikut Kiai Mojo dan Diponegoro di tepi Danau Tondano itu berbaur dengan penduduk setempat sembari tetap mempertahankan agama yang mereka anut. Setelah adanya perkawinan antara orang buangan dengan perempuan setempat pada 1831, maka pengikut Kiai Mojo dan perempuan yang mereka nikahi itu membentuk sebuah kampung Islam. Bahkan terbentuk pula semacam etnis baru di pesisir Danau Tondano. Mereka bukan Jawa, juga bukan Tondano, tapi Jawa-Tondano alias Jaton.
Orang Jaton lebih terbuka dalam menyerap bahasa lokal. Mereka bahkan tidak kalah dalam penguasaan Bahasa Tondano ketimbang orang Tondano asli.
Saat ini, menurut sejarawan Roger Allan Kembuan, yang pernah meneliti Jawa Tondano, orang-orang di Minahasa lebih banyak memakai bahasa Manado atau Melayu Manado. Ada beberapa kata bahasa Jawa yang memengaruhi orang-orang di sekitar Danau Tondano. Kusir-kusir kereta kuda di sana, misalnya, mengucap “wes” pada kudanya agar berhenti.
Itu belum apa-apa. Roger Allan Kembuan dalam tesisnya, Bahagia di Pengasingan: Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Buangan di Kampung Jawa Tondano 1830-1908 (2016: 177), menyebut, “Pengaruh signifikan orang buangan dalam pertanian di Tondano dapat dilihat pada pengenalan membajak sawah.”
Pertanian kian maju setelah pengikut Kyai Mojo datang. Mereka dianggap lebih bisa berbaur dengan masyarakat lokal dibanding orang-orang Arab di Kampung Arab Manado.
Baca juga artikel terkait MANADO atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi