Auto

Selamat Tinggal Legenda, Ketika Spare Part Yamaha RX King Berhenti Dijual

  • 18 September 2018
  • Bagikan :

    Uzone.id - Kala nama besar Yamaha RX King kembali naik daun di Tanah Air akhir-akhir ini, Yamaha membuat keputusan yang menyedihkan.

    Ya, RX King adalah legenda. Jagoannya motor 2-tak. Identik dengan motor jambret, karena kepraktisan, kelincahan dan tenaganya yang yahud.

    Meski sudah dihentikan produksinya sejak 2009, motor ini malah naik daun dan di beberapa situs jual-beli online pun, harganya ghaib--puluhan sampai ratusan juta rupiah.

    Tapi sepertinya harga tinggi Yamaha RX King itu cuma sementara, karena sebentar lagi Yamaha akan menghentikan suplai suku cadang RX King.

    ”Saya tahu RX King kini menjadi motor yang sangat fenomena, tapi Yamaha hanya menyediakan komponen RX King selama 10 tahun karena tentunya Yamaha pun mengikuti aturan emisi dan perkembangan zaman," ujar Manager Public Relation PT YIMM, Antonius Widiantoro.

    Nantinya jika sudah setop produksi onderdilnya, pengguna RX King bisa mencari dari Aftermarket atau label racing yang menyedikan onderdil RX King, tambahnya.

    "Secara produk responsibility memang ada batasannya. Namun hingga saat ini kami masih menyediakan part-part untuk konsumen RX King," kata dia.

    Kalau kebijakan ini jadi diberlakukan oleh Yamaha, maka nasib RX King akan semakin dipertanyakan.

    Memang, value kelegendaannya makin menjadi, namun tidak ada lagi suku cadang asli pabrikan, kecuali aftermarket.

    Yamaha RX-King pertama kali hadir di Indonesia pada 1983 dan etelah 25 tahun, salah satu motor legenda itu resmi dihentikan penjualannya.

    RX-King memulai kiprahnya di Indonesia lewat RX-K. Diimpor langsung dari Jepang pada 1980 sebagai versi lebih bertenaga dari RX 100 dan RX 125 di era 1970-an.

    Mesin 135 cc yang digunakan RX-K membuatnya cukup dilirik. Tapi tak banyak, apalagi saat itu, ia masih berstatus motor CBU (completely built up).

    Selama peredaran RX-K, tiga konseptor asal Jepang; Nobuo Aoshima, Chikao Kimata dan Motoaki Hyodo mendapat masukan yang cukup mendasar.

    Masyarakat Indonesia ingin motor yang gagah, tidak boros bahan bakar dan powerful di putaran rendah.

    Maka RX-King dirilis di 1983 dengan teknologi Yamaha Energy Induction System (YEIS).

    Mesin 135 cc dengan konfigurasi 2 langkah (2-tak) dijadikan andalan. Meski saat itu, kompetitor, Honda menjagokan GL-Series dengan dapur pacu 4-tak, Yamaha sukses menjadikan RX-King berkarakter.

    Isu emisi dan regulasi pada 2006 membuat Yamaha merilis New RX-King. Mesinnya tetap sama, tapi knalpotnya sudah diberi catalytic converter agar emisinya lebih bersih.

    Sayang nasib RX-King harus berakhir di 2009. Meski sejak itu, RX-King justru terus jadi buruan sampai sekarang.