home ×
News

Serangan "Dolar" Mengancam Cagar Budaya di Bali

15 April 2017 By
Serangan
Share
Share
Share
Share

Serangan 'dolar' menjadi ancaman pelestarian cagar budaya di Pulau Bali. Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata mengungkapkan, tanah-tanah di pulau Dewata sudah mulai banyak yang beralih kepemilikan ke tangan asing.

"Pelestarian budaya ini sering menjadi pilihan yang sulit bagi masyarakat yang belum sadar. Kalau tidak ada dulu, tidak ada sekarang. Kekayaan budaya yang harus dihargai, kadang dikalahkan oleh 'dolar'. Ini hal-hal yang kami rasakan," kata Anak Agung Gde Agung Bharata, di Jakarta, Kamis (13/4).

Bupati Gianyar mengatakan budaya dan agama di Bali telah menjadi satu kesatuan. Budaya di Bali tidak akan musnah, tetapi sangat mungkin terkikis akibat kuatnya serangan 'dolar'. Menurut Bharata, godaan uang atau kapitalisasi di Bali sangat besar, sejalan dengan daya tariknya.

Ia menyinggung perihal tanah-tanah di Bali yang banyak beralih kepemilikan ke tangan asing. Tanah-tanah tersebut disulap menjadi hotel dan lahan bisnis. Menurut Bharata, kondisinya sudah sampai pada tahap mengkhawatirkan. Persentase tanah yang dimiliki penduduk asli Bali kini sangat kecil.

"Kalau nanti Bali dipenuhi hotel dan mal itu sangat menyedihkan. Apalagi hotel dan mal itu ada di daerah aliran sungai, sekarang sudah taraf mengkhawatirkan," ujarnya. Ia mengajak masyarakat untuk menghargai kekayaan budaya dan warisan masa lalu, apalagi setelah Gianyar terpilih menjadi anggota Kota Pusaka Dunia, April 2017.

Ketua Dewan Pembina Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), Hashim Djojohadikusumo mengakui tingginya ancaman terhadap situs-situs cagar budaya. Ia mengusulkan ke depan ada polisi cagar budaya, yang bertugas memantau kondisi kelestarian satu situs cagar budaya.

Hashim mengatakan, warisan sejarah (heritage) sangat menguntungkan secara ekonomi. Ia mencontohkan di Cina, selama 30 tahun terakhir banyak sekali cagar budaya diratakan demi membangun mal-mal. Namun, kemudian mereka melihat bahwa turis-turis tidak tertarik datang ke mal-mal yang nyaris sama persis di seantero negeri.

Lanjut Hashim, para pengembang pun meratakan kembali mal-mal yang sudah dibangun, diganti dengan candi atau kuil gaya lama yang modern. Semua dilakukan demi uang atau keuntungan materiil semata. Hashim berharap hal serupa tidak terjadi di Indonesia.

"Ini kan konyol. Tempatnya diratakan untuk membangun mal-mal demi uang, tapi kemudian demi uang mal-nya diratakan dan dibangun kuil-kuil lagi. Ini jangan sampai terjadi di Indonesia. Kita nanti akan menyesal jika tempat-tempat warisan sejarah kita diratakan," ujar Hashim.

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini

Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id

Related Article