
Uzone.id – Penggerebekan sindikat penipuan online internasional di Bali mengungkap fakta menarik. Selain menangkap 30 orang dari berbagai negara, polisi juga menemukan perangkat internet satelit Starlink yang diduga menjadi salah satu alat utama operasi mereka.
Temuan ini memunculkan pertanyaan: mengapa jaringan scam online memilih menggunakan Starlink? Apakah benar layanan internet satelit tersebut lebih sulit dilacak dibanding internet biasa?Dari laporan yang beredar, polisi mengamankan 30 orang yang terlibat, antara lain 12 warga Filipina, 5 warga China, 4 warga Taiwan, 4 warga Kenya, dan 1 warga Malaysia.
Selain itu, kepolisian juga menyita barang bukti seperti komputer, keyboard, perangkat satelit Starlink, bendera luar negeri, hingga atribut FBI yang diduga akan digunakan untuk melancarkan aksi penipuan.
Ya, barang penting yang disorot dalam melancarkan penipuan ini adalah penggunaan satelit Starlink. Satelit yang satu ini cukup ‘familiar’ di kalangan jaringan penipuan dan menimbulkan anggapan kalau jaringan internet dari satelit ini sulit untuk dideteksi.
Alfons Tanujaya selaku pakar siber dari Vaksincom mengungkap bahwa trafik internet dari Starlink sendiri masih bisa pantau, apalagi saat ini satelit tersebut memiliki Gateway & Network Operation Center (NOC) di 2 daerah yaitu Karawang dan Cibitung.
“Artinya, secara teknis trafiknya melewati infrastruktur di Indonesia dan bisa dipantau. Jadi, celahnya bukan di teknologinya,” kata Alfons.
Ia menyebut bahwa verifikasi identitas perangkat yang bisa dipalsukan menjadi salah satu keuntungan para penjahat siber menggunakan jaringan internet satu ini.
“Akun ini bisa didaftarkan atas nama/negara lain, atau pakai data palsu,” katanya.
Selain itu, pelaku juga bisa melakukan Bypass ISP atau bisa melewati pemantauan ISP, dimana sistem blokir dan juga monitoring berbasis ISP domestik tidak bisa menangkapnya. Selain itu, perangkat juga bisa dibawa kemana-mana sehingga bisa langsung mengemas piringan Starlink dan membuka operasi baru di tempat lain.
Melihat penggunaan Starlink untuk operasional penipuan online, Alfons menghimbau agar verifikasi identitas para pembeli diatur secara ketat agar para penipu tidak membeli perangkat dengan identitas palsu orang milik orang lain.
Berhubung Starlink memiliki NOC di Indonesia, Alfons menyarankan adanya pemantauan gateway secara domestik sehingga trafik internet yang tidak biasa bisa dideteksi secara dini.
Ia juga meminta untuk menegakkan aturan roaming, dimana Komdigi bisa saja mengambil langkah pencabutan izin ketika perangkat yang terdaftar untuk negara tertentu tetapi digunakan secara permanen di Indonesia.
Karena penipuan online biasanya melibatkan banyak pihak seperti Kementerian komdigi, BSSN, kepolisian hingga operator seluler, ia menyarankan adanya koordinasi karena pengawasan tidak bisa hanya dilakukan satu lembaga.