
Larry Page dan Sergey Brin, duo pendiri Google kali pertama bertemu di Stanford University pada 1995 silam. Saat itu, Page masih belum menjadi mahasiswa Stanford, sedangkan Brin telah duduk sebagai mahasiswa tingkat dua kampus yang menjadi bagian Ivy League—kampus-kampus prestisius di Amerika Serikat.
Sebagaimana dikisahkan pada laman resmi Google, pertemuan pertama kedua pendiri itu diwarnai banyak ketidaksetujuan. Namun, itu tak membuat pertemanan mereka kandas. Keduanya lalu sepakat membangun mesin pencarian. Siang-malam, bekerja di kamar asrama, Backrub adalah nama mesin pencarian yang dikembangkan mereka berdua akhirnya tercipta.
Backrub tidak berumur lama, karena kedua pendiri itu akhirnya memilih “Google” sebagai nama pengganti. Google yang merupakan ekspresi matematis dari angka 1 yang diikuti 100 nol di belakang, menurut duo pendiri tersebut, lebih mencerminkan misi mereka. Misi “untuk mengorganisasikan informasi dunia dan membuatnya dapat diakses dan digunakan secara universal.”

Selain dianggap menimbulkan sikap negatif, merujuk penelitian yang dilakukan oleh psikolog bernama Betsy Sparrow dari Colombia University, sebagaimana diwartakan The Washington Post, mesin pencari seperti Google dianggap memicu orang untuk malas mengingat, terutama bagi hal-hal yang dianggap dapat ditemukan di internet.
“Sejak munculnya mesin pencari, manusia modern mengatur ulang bagaimana mengingat sesuatu,” kata Sparrow.
Peranan mesin pencari ini bisa dianalogikan sebagai sosok ibu yang tahu betul di mana peralatan rumah tangga disimpan. Anggota keluarga lainnya umumnya tidak mengingat dan menyerahkan semuanya pada ibu.
“Otak kita bergantung pada internet untuk mengingat sama seperti mereka bergantung pada memori seorang teman, anggota keluarga atau rekan kerja,” tambahnya.
Roddy Roediger, psikolog pada Washington University, mengatakan bahwa mengapa manusia harus mengingat, jika fungsi itu bisa dipindahkan pada mesin pencari. “Dengan Google dan mesin pencari lain, kita memindahkan sebagian memori kita ke mesin,” katanya.
Soal memori ini pula didukung oleh Daniel M. Wegner, peneliti dari Harvard University, dalam papernya berjudul “Google Effect on Memory: Cognitive Consequences of Having Information at Our Fingertips” dalam sebuah penelitian pada 46 mahasiswa Harvard ditemukan kecenderungan bahwa responden merespons lebih lambat kata kunci yang berhubungan dengan internet. Mereka pikir, jika kata kunci berhubungan dengan internet, tinggal melakukan pencarian via Google.
Saat kita menuju laman Google Indonesia dan memasukkan kata “Bitcoin” sebagai kata kunci, ada 77.900.000 hasil yang ditawarkan Google. Selepas menyodorkan hasil pencarian versi iklan, laman Bitcoin.org jadi yang utama yang diberikan Google bagi pengguna yang mencari sesuatu dengan kata kunci itu. Dalam pandangan sederhana, tidak ada yang salah dengan hasil pencarian itu. Bitcoin.org memang merupakan salah satu titik pusat dunia Bitcoin, kata kunci yang digunakan.
Jan Brophy, masih dalam paper yang sama, berkata sebaliknya. Paling jika membandingkan dengan hasil kerja seorang pustakawan. Dalam papernya itu, dari 723 dokumen yang dijadikan sampel pembanding antara kerja Google dan pustakawan, rata-rata dokumen yang dipersembahkan Google sebagai hasil pencarian tidak lebih baik dibandingkan dokumen yang ditawarkan seorang pustakawan. Hanya 52 persen dokumen yang ditawarkan Google memiliki level kualitas baik. Sementara itu, dokumen yang ditawarkan seorang pustakawan memiliki level kualitas di angka 84 persen.
Google, menurut pendangan Brophy, merupakan cerminan “infobesity” sebuah istilah yang menyamakan pencarian informasi dengan konsumsi masyarakat atas fast food. Infobesity dianggap menghadirkan informasi sampah alih-alih melahirkan informasi yang berkualitas.
Baca juga artikel terkait GOOGLE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin