home ×
Startup

Startup Kuliner Anak Jokowi Disuntik Rp29 Miliar, Buka Cabang Baru Saat Pandemi

25 November 2020 By
Startup Kuliner Anak Jokowi Disuntik Rp29 Miliar, Buka Cabang Baru Saat Pandemi
Share
Share
Share
Share

Para pendiri Mangkokku. Gibran, Chef Arnold, Randy, dan Kaesang (foto: Alpha JWC Venture)

Uzone.id - Startup bisnis kuliner milik anak-anak Presiden Jokowi berhasil mendapatkan suntikan dana sebesar USD2 juta atau setara dengan Rp29 miliar. Suntikan ini berasal dari perusahaan modal ventura Alpha JWC Ventures kepada Mangkokku.

Pendanaan ini, dikatakan pihak Mangkokku, akan digunakan untuk pengembangan bisnis. Saat ini Mangkokku memiliki 22 cabang di Jabodetabek dan akan merambah ke Surabaya dalam waktu dekat. Setiap cabang memiliki desain ruang makan yang artistik serta dapur terbuka sehingga pengunjung dapat melihat langsung proses memasak yang higienis dan aman. Dengan pendanaan terbaru ini, Mangkokku berencana menambah jumlah gerai hingga 30 cabang di akhir 2020 dan 75 cabang di 2021.

“Kecintaan kami pada makanan Indonesia menjadi dasar berdirinya Mangkokku. Kami percaya kekuatan perusahaan ini ada pada kelezatan makanan kami dan inovasi kuliner tanpa henti. Namun, kami juga mengadopsi cara pandang bisnis global. Kami percaya untuk berkembang dengan pesat dan berkelanjutan, kami harus terus menyediakan produk superior dengan harga terjangkau serta menjaga standar setiap mangkuk yang tersaji," ujar Chef Arnold Poernomo, salah satu pendiri Mangkokku, dikuti dari keterangan resmi di situs JWC Ventures, Rabu, 25 November 2020.

Ditambahkannya, karena itulah, mereka ingin mengoperasikan sendiri semua cabang dan menggunakan peralatan berteknologi tinggi di dapur utama untuk menjaga kualitas dan konsistensi produk.

Mangkokku  sendiri didirikan pada 2019 oleh juri Masterchef Indonesia Arnold Poernomo dan pengusaha kuliner Randy Kartadinata yang bekerja sama dengan dua anak Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep. Dalam operasional sehari-hari perusahaan, Gibran dan Kaesang memilih mengambil peran penasihat, sementara Arnold mengepalai produksi dan inovasi kuliner dan Randy bertindak selaku Chief Executive Officer yang bertanggung jawab atas ekspansi dan bisnis Mangkokku.

Sebelum bertemu di Mangkokku, keempat pendiri ini telah berhasil mendirikan dan membangun paling tidak 12 perusahaan kuliner di Indonesia dan Australia, termasuk Gioi Jakarta dan Surabaya, KOI Dessert Bar Sydney, dan gerai martabak Markobar.

Mangkokku mengklaim jika mereka telah berhasil mempertahankan bisnis meski diterpa pandemi Covid-19. Dikatakan Randy, usaha kulinernya bersama Gibran dan Kaesang serta Chef Arnold itu masih mampu menjual sekitar 400 hingga 600 bowl per hari di setiap cabangnya. Oleh karena itu, mereka akan mencoba untuk mengembangkan bisnis ke kuliner lain selain Rice Bowl. Dimulai dengan minuman, makanan penutup dan seri sambal kemasan.

Eko Kurniadi dari Alpha JWC Ventures mengatakan bahwa pihaknya melihat bisnis kuliner sebagai sektor yang dapat diuntungkan dari pendanaan ventura dan penggunaan teknologi. Mangkokku telah menunjukkan kinerja cemerlang bahkan saat pandemi. Dengan kata lain, menurut Eko, ini membuktikan bahwa produk Mangkokku telah diterima masyarakat dengan baik.

"Dukungan finansial dan bisnis serta pengalaman kami sebelumnya akan membantu Mangkokku berkembang lebih cepat menjadi perusahaan besar. Kami kagum atas pencapaian Arnold, Randy, Kaesang, dan Gibran membangun sebuah brand yang kuat dalam waktu singkat. Kami juga terkesan dengan visi besar mereka. Ini adalah awal dari kolaborasi firma kami dan tim Mangkokku untuk mencapai cita-cita mereka melayani seluruh segmen masyarakat dengan makanan berkualitas dan menjadi salah satu perusahaan kuliner terbesar di Indonesia, dan nantinya di Asia Tenggara.” kata Eko.

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini

0 Comments in this article

Tunggu Sebentar Ya...

Submit
Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id

Related Article