icon-category Startup

Strategi Terbaru JD.ID Mengembangkan Bisnis E-commerce di Indonesia

  • 23 Nov 2019 WIB
  • Bagikan :

    Sebagai salah satu pemain e-commerce termuda di Tanah Air yang berdiri  sejak 2015, JD.ID memiliki strateginya sendiri untuk bersaing dengan pemain lain. Berdasarkan data Peta E-Commerce Indonesia yang dirilis iPrice pada kuartal ketiga 2019, JD.ID menduduki peringkat keenam setelah Blibli dan Lazada, dengan pengunjung web bulanan mencapai 5,52 juta orang.

    Di sela-sela peresmian kantor barunya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, President International JD.com Soon Sze Meng dan President & CEO JD.ID Zhang Li berbincang dengan Tech in Asia mengenai rencana pengembangan bisnisnya.

    Ketimbang jor-joran melakukan pemasaran untuk meningkatkan penetrasi pengguna, anak usaha raksasa e-commerce JD.com asal Cina ini lebih memilih fokus pada peningkatan layanan kepada pelanggan, antara lain dengan membenahi logistik dan meningkatkan persentase pengantaran di hari yang sama (same day delivery) untuk menjadi layanan unggulannya.

    Di negara asalnya, JD.com mengklaim berhasil mengantarkan sembilan puluh persen dari total pesanan pada hari yang sama (bagi pelanggan yang memesan sebelum pukul 11.00 pagi). Layanan ini dinilai cukup signifikan dalam mentransformasi bisnis e-commerce di negara tersebut. JD.com pun berhasil membukukan pendapatan bersih hingga US$18,9 miliar (sekitar Rp266 triliun) pada kuartal ketiga, tumbuh 28,7 persen dari periode yang sama tahun lalu.

    JD Logistics, lini bisnis usaha JD.com, memegang peranan penting dalam pertumbuhan bisnis platform B2C tersebut. Di Negeri Tirai Bambu, JD Logistics telah mengoperasikan 650 gudang. Tak hanya melayani bisnis internal, JD Logistics juga terus mendukung bisnis pihak ketiga pada kuartal ini, dengan keuntungan eksternal disebut-sebut mencapai empat puluh persen dari total keuntungan JD Logistics.

    Selama kuartal ketiga tahun ini, JD Logistics mulai mengembangkan layanannya ke kota-kota terpencil untuk meningkatkan akses layanan antar di hari yang sama. Dengan optimalisasi teknologi kecerdasan buatan (AI), JD Logistics dapat mengantarkan 90 persen pesanan dalam waktu 24 jam di Cina.

    Zhang Li mengatakan, strategi serupa juga akan diterapkan di Indonesia. Pihaknya berkomitmen untuk terus menambah jumlah gudang. Saat ini, JD.ID mengoperasikan setidaknya 11 gudang di 6 kota, yaitu Jakarta, Surabaya, Pontianak, Medan, Makassar, dan Semarang.

    Menurut Li, rencana penambahan gudang di masa mendatang akan menyesuaikan dengan kebutuhan dan permintaan pelanggan. Sebaran geografisnya juga masih menjangkau kota-kota besar yang saat ini belum terdapat gudang JD.ID.

    Saat ini, dia menyatakan sekitar 85 persen pesanan yang diproses di Jakarta telah dilayani di hari sama. Rencana penambahan gudang-gudang diharapkan dapat meningkatkan jangkauan area layanan tersebut. “Kami percaya teknologi dapat membantu kami mencapai tujuan. Harga produk yang kompetitif memang dibutuhkan, tetapi kami juga perlu mengurangi ongkos rantai pasok,” ujarnya.

    Pihaknya juga berencana untuk terus menambah kategori produk. Saat ini, JD.ID memiliki 23 kategori produk yang telah dikurasi, dengan penjualan terbanyak adalah kategori ponsel dan tablet, perlengkapan rumah, kebutuhan sehari-hari, laptop dan PC, perlengkapan ibu dan anak, serta produk digital.

    Pada 2020 mendatang, pihaknya memprediksi penjualan dari kategori gadget dan elektronik, serta perlengkapan gaya hidup khususnya produk kecantikan dan perawatan diri akan mengalami peningkatan. “JD selalu fokus berinvestasi pada teknologi, sumber daya manusia, dan rantai pasok,” ungkapnya.

    President International JD.com Soon Sze Meng dan President & CEO JDID Zhang Li berbeincang dengan awal media di sela-sela peresmian kantor baru JDID (Tech in Asia)

    Tantangan menjangkau area terpencil

    President International JD.com Soon Sze Meng menyatakan fokus perusahaannya adalah untuk menghadirkan jasa pengantaran dan pengalaman pelanggan yang terbaik. Pihaknya juga menyatakan telah berinvestasi cukup besar untuk mengembangkan berbagai teknologi pendukung seperti kecerdasan buatan, IoT, dan machine learning untuk melancarkan transaksi antara pembeli dan penjual dalam platformnya.

    “Kami tak asal membawa teknologi dari Cina ke Indonesia. Semua teknologi yang kami bawa semata-mata untuk mendukung aktivitas penjual dan pembeli,” ungkapnya.

    Menurutnya, lanskap e-commerce di Indonesia masih memiliki potensi yang sangat besar untuk setiap pemain. Ia belum melihat adanya tren konsolidasi antarpemain, baik itu merger maupun akuisisi.

    Area geografis Tanah Air yang berupa negara kepulauan memang menjadi tantangan tersendiri. Saat ini, e-commerce masih dinikmati oleh penduduk yang berada di kota besar.

    Meng memproyeksikan seiring matangnya ekosistem e-commerce di Indonesia, tantangan selanjutnya adalah bagaimana membuat penduduk di daerah terpencil juga menikmati kemudahan yang ditawarkan e-commerce. Kondisi ini mirip dengan yang terjadi di Cina, yang saat ini e-commerce telah dapat menjangkau petani di pedesaan terpencil.

    Potensi drone untuk pengiriman

    Dalam konteks itu, pengiriman dengan menggunakan drone dapat menjadi solusi. JD.com mulai melakukan uji coba pengiriman dengan drone untuk mengantarkan produk ke pelanggan. Sementara di Indonesia, uji coba pengiriman telah dilakukan pada awal tahun ini untuk kepentingan tanggung jawab sosial perusahaan ke daerah terpencil.

    Pihaknya mengaku masih menimbang-nimbang peluang mengembangkan pengiriman dengan drone untuk kebutuhan komersial di Indonesia. Pasalnya, pengembangan layanan itu tak hanya memerlukan inovasi teknologi, tetapi juga khususnya regulasi dari pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.

    (Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

    This post Strategi Terbaru JD.ID Mengembangkan Bisnis E-commerce di Indonesia appeared first on Tech in Asia.

    The post Strategi Terbaru JD.ID Mengembangkan Bisnis E-commerce di Indonesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini