Home
/
Digilife

Sudah Pakai ChatGPT atau Gemini, Buat Apa Perusahaan Pakai AI Zoom?

Zoom AI menggabungkan berbagai model dan terhubung dengan aplikasi perusahaan. Pengguna mendapat manfaat penuh dari banyak AI dengan satu biaya langganan.

Sudah Pakai ChatGPT atau Gemini, Buat Apa Perusahaan Pakai AI Zoom?

Ilustrasi meeting online di Zoom (Foto: AI generated-content)

Bagikan :

Highlight Artikel

  • Zoom AI menggunakan pendekatan federated AI yang menggabungkan model AI buatan sendiri dengan model dari OpenAI, Anthropic, Meta, dan Google untuk hasil terbaik.
  • Platform AI Zoom bersifat ekosistem terbuka, memungkinkan integrasi dengan aplikasi perusahaan yang sudah ada seperti Microsoft, Google, dan Salesforce.
  • Dengan satu biaya langganan, pengguna Zoom mendapatkan manfaat dari berbagai model AI yang telah dioptimalkan tanpa perlu bereksperimen atau membayar terpisah.
  • AI Zoom dilengkapi conversational intelligence yang memahami konteks percakapan real-time, bahasa yang digunakan, dan informasi terbaru untuk meningkatkan produktivitas.

Uzone.id - Karyawan yang sudah terbiasa pakai ChatGPT atau Gemini, tidak harus meninggalkan kedua platform AI tersebut saat perusahaannya mengadopsi AI dari Zoom. Justru, Zoom menggabungkan berbagai model AI dan menghubungkannya dengan aplikasi yang sudah diadopsi perusahaan.

Hal ini disampaikan Carlos Quaderi, Head of Asia Pacific at Zoom, saat menjawab pertanyaan tim Uzone.id dalam sesi wawancara bersama media pada Kamis (8/10). 

Menurutnya, ada tiga hal yang membedakan AI Zoom dari platform AI seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity, dan sebagainya, yakni pendekatan federated AI, ekosistem terbuka, serta conversational intelligence.

Lewat pendekatan yang ia sebut ‘federated AI’, Zoom tidak bergantung pada satu model bahasa saja. Zoom menggunakan model AI buatan sendiri yang dikembangkan untuk memahami percakapan dan konteks, kemudian mengombinasikannya dengan model dari OpenAI, Anthropic, Meta, dan Google.

Kemudian, Zoom akan menentukan model AI mana yang paling sesuai dengan pekerjaan yang diberikan. Carlos memisalkan seperti OpenAI yang dinilai kuat untuk membuat teks generatif, atau Claude untuk mengerjakan produksi konten yang lebih mendalam, ataupun Gemini yang unggul dalam optical character recognition (OCR).

“Kami percaya pengguna seharusnya mendapatkan manfaat dari semua model. Kami sudah melakukan pekerjaan untuk menentukan model mana yang memberikan hasil terbaik untuk setiap kebutuhan,” kata Carlos.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan pun tidak perlu memilih satu model AI, lalu mencoba masing-masing layanannya, dan menghitung biaya penggunaannya secara terpisah.

“Ketika menggunakan Zoom dan produk AI dari Zoom, pengguna mendapatkan manfaat dari semua model tersebut dengan satu biaya langganan. Mereka tidak perlu membayar dan bereksperimen sendiri,” jelasnya.

Tak perlu ganti aplikasi yang sudah digunakan

Carlos Quaderi, Head of Asia Pacific Zoom

Pembeda kedua adalah ekosistem terbuka. Carlos mengatakan kalau Zoom tidak meminta perusahaan meninggalkan aplikasi yang sudah dipakai, baik itu layanan dari Microsoft, Google, Salesforce, ServiceNow, maupun Workday.

Carlos menjelaskan, AI Zoom berperan sebagai lapisan yang menghubungkan berbagai layanan tersebut. Zoom mengembangkan alur kerja berbasis agen AI, lapisan Model Context Protocol (MCP), serta sekitar 3.000 API dan SDK, untuk menghubungkannya dengan aplikasi lain.

“Proposisi kami bukan menggantikan teknologi. Kami ingin hidup berdampingan dengan teknologi yang sudah digunakan dan membuatnya lebih berguna,” ujar Carlos.

Hal ini menjadi solusi ketika perusahaan tengah kesulitan menghadapi banyaknya aplikasi yang mereka gunakan. Karyawan pun jadi lebih ribet ketika harus berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain hanya untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan.

Melalui integrasi antaraplikasi, pengguna dapat berfokus pada hasil yang ingin dicapai, sementara AI bekerja di belakang layar untuk mengambil informasi dan menjalankan tugas melalui layanan yang terhubung.

“Zoom dapat menjadi lapisan dasar yang mendorong hasil di seluruh aplikasi dan antarmuka. Pengguna menjadi lebih produktif karena tidak perlu terus berpindah aplikasi untuk menyelesaikan pekerjaan,” katanya.

Pembeda terakhir adalah conversational intelligence. Zoom meyakini percakapan bakal menjadi salah satu cara utama manusia berinteraksi dengan AI. Carlos menilai, percakapan lebih memberi konteks langsung kepada AI—bukan sekadar mengetahui data lama yang dimiliki perusahaan.

Lewat percakapan, AI jadi bisa memahami pembahasan terbaru, siapa yang menyampaikan sebuah informasi, serta pekerjaan apa yang perlu dilanjutkan setelah rapat berakhir.

“AI membutuhkan konteks agar benar-benar pintar. Percakapan memberikan konteks secara real-time. Dari percakapan itu, AI dapat memahami apa yang sebenarnya ingin dilakukan pengguna,” terang Carlos.

Kemampuan tersebut juga dikembangkan untuk lingkungan kerja yang memakai lebih dari satu bahasa. Carlos memberikan contoh rapat yang diikuti peserta berbahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris.

AI Zoom diklaim dapat mengenali siapa yang berbicara, bahasa yang digunakan, serta konteks dari setiap pembicaraan. Zoom juga tengah mengembangkan dukungan transkripsi dan kemampuan terkait lainnya untuk sekitar 45 bahasa.

Carlos menilai kombinasi federated AI, ekosistem terbuka, dan pemahaman konteks percakapan menjadi alasan utama perusahaan menggunakan AI Zoom, sekalipun karyawannya sudah memanfaatkan ChatGPT atau Gemini.

“Jadi, kami di Zoom meyakini bahwa kombinasi ketiga hal tersebut, serta penerapannya bagi pelanggan dan lingkungan mereka, merupakan faktor penentu perubahan yang signifikan,” pungkasnya.

FAQ Artikel

Apa yang membedakan AI Zoom dari platform lain seperti ChatGPT atau Gemini?

AI Zoom dibedakan oleh tiga hal utama: pendekatan federated AI, ekosistem terbuka, dan conversational intelligence.

Bagaimana pendekatan federated AI Zoom bekerja?

Zoom menggabungkan model AI buatan sendiri dengan model dari penyedia lain seperti OpenAI, Anthropic, Meta, dan Google. Zoom kemudian memilih model yang paling sesuai untuk setiap tugas, memungkinkan pengguna mendapatkan manfaat semua model dengan satu biaya langganan.

Apakah perusahaan harus mengganti aplikasi yang sudah ada saat mengadopsi AI Zoom?

Tidak, Zoom tidak meminta perusahaan meninggalkan aplikasi yang sudah dipakai. AI Zoom berperan sebagai lapisan yang menghubungkan berbagai layanan tersebut melalui alur kerja berbasis agen AI, Model Context Protocol (MCP), serta sekitar 3.000 API dan SDK.

Mengapa conversational intelligence penting bagi AI Zoom?

Conversational intelligence memungkinkan AI memahami konteks percakapan secara real-time, seperti pembahasan terbaru, siapa yang berbicara, dan pekerjaan lanjutan setelah rapat. Ini membuat AI menjadi lebih pintar dan relevan.

Berapa banyak bahasa yang didukung oleh AI Zoom untuk transkripsi?

Zoom sedang mengembangkan dukungan transkripsi dan kemampuan terkait lainnya untuk sekitar 45 bahasa.

Muhammad Faisal Hadi Putra

Muhammad Faisal Hadi Putra

Jurnalis

Suka ngulik teknologi, gadget, dan game. Buat saya, yang menarik bukan cuma spesifikasi dan fitur, tapi juga pengalaman saat mencobanya langsung.
Lihat semua artikel →
populerRelated Article