
Kepopuleran Gunung Tangkuban Parahu tidak lepas dari legenda kisah "cinta terlarang" anak dan ibu, Sangkuriang dan Dayang Sumbi.
Sangkuriang terpisah dari Dayang Sumbi sejak kecil. Ditinggal sang anak membuat sang ibu bersedih. Ia lalu berdoa kepada dewa untuk diberi kecantikan abadi.
Sangkuriang yang bertumbuh dewasa lalu bertemu lagi dengan Dayang Sumbi. Sang anak, yang tak tahu menahu, bermaksud melamar sang ibu.
Lihat juga:Memahami Gunung Merapi dari Ketep Pass |
Setiap harinya Tangkuban Parahu paling ramai didatangi saat matahari terbit sampai matahari terbenam. Tiket masuknya Rp20 ribu per orang di hari biasa dan Rp30 ribu per orang di hari libur. Bagi yang membawa kendaraan pribadi juga wajib membayar biaya parkir.
Ada empat area utama di Gunung Tangkuban Parahu, yakni Kawah Ratu, Kawah Upas, Kawah Domas, dan Cikahuripan. Di atas ketinggian 2.084 mdpl, turis bisa menyaksikan fenomena alam berupa kawah belerang dengan beragam medan pendakian, mulai dari yang landai sampai terjal.
Dari banyak artikel ilmiah, gunung berjenis stratovulcano ini merupakan gunung purba yang mirip seperti Gunung Krakatau di Selat Sunda dan Gunung Ngorongoro di Tanzania, Afrika.
Gunung Tangkuban Parahu berhawa dingin, jadi sebaiknya turis membawa pakaian hangat saat berkunjung ke sini.
Jangan terkecoh dengan hawa dinginnya, karena matahari bersinar terik di sini. Jadi kenakan juga tabir surya agar kelembaban kulit terjaga.
Bagi yang tak tahan bau belerang juga bisa membawa masker penutup.
Usahakan datang sejak pagi hari, karena objek wisata ini tutup pukul 17.00.
Perhatikan juga imbauan keselamatan dari petugas, seperti tak berada terlalu dekat dengan tebing, karena gunung ini masih aktif bergejolak dan sewaktu-waktu bisa memuntahkan bebatuan atau lava.
Lihat juga:INFOG: Persiapan Pendakian Gunung Berapi |