
Kurator Metropolitan Museum of Art (The Met) Andrew Bolton membikin beberapa selebritas Hollywood kesal dan bingung setelah mendengar tema Met Gala tahun ini: Camp.
Penyanyi Celine Dion menganggap Camp berhubungan dengan aktivitas kemping. Sejumlah selebritas lain, yang ingin tampil anggun dan cantik, merasa tak habis pikir mengapa Anna Wintour menyetujui tema yang bikin mereka tidak bisa tampil elegan, bahkan cenderung acak-acakan.
Maklum, Met Gala adalah panggung bagi para pecinta popularitas. Acara malam penggalangan dana untuk Met Costume Institute itu telah diselenggarakan sejak 1948 sebagai pembuka pameran dengan tema serupa. Pada 1990an, Anna Wintour sebagai pemimpin redaksi Vogue memimpin Met Gala. Ia bekerjasama dengan kurator The Met untuk merancang tema ekshibisi sekaligus konsep malam penggalangan dana.
Sejak dipimpin Wintour, Met Gala semakin dipandang sebagai acara fesyen. Di sinilah para pengarah gaya, desainer, dan pemilik label retail kelas atas berlomba mendandani para seleb atau model semenarik mungkin.
Apa yang dikatakan Sontag? “Esensi camp terletak pada hal yang tidak natural dan berlebihan,” tulisnya dalam esai bertajuk Notes on 'Camp', seperti dikutip Time.
Esai itu dibuat pada dekade 1960-an, ketika ia merasa dikelilingi berbagai hal terkait camp. Ada perempuan bergaya androgini, ada kaum transgender yang menyuarakan ide, juga produk-produk dekorasi interior yang dianggap tak lazim seperti lampu Tiffany, hingga gambar yang tertera pada kartu pos.
Di mata Bolton, gaya camp selalu ada di setiap era dan masing-masing orang bisa punya definisi tersendiri terhadap camp.
Kolumnis New Yorker, Rachel Syme, menyatakan penampilan Jared Leto dalam malam penggalangan dana bisa dikatakan sebagai camp. Hari itu Leto mengenakan terusan lengan panjang merah dengan aksen rantai berhias permata pada bagian dada. Tangannya menenteng patung liling berbentuk wajahnya sendiri.
“Aku melihat itu berlebihan. Leto terlihat berusaha mati-matian untuk terlihat mencolok dan hal itu sangatlah camp. Leto dan tim Gucci pasti sudah merencanakan dari jauh-jauh hari soal kostum plus patung lilin itu dan hal tersebut sudah membuktikan bahwa desainer berusaha keras untuk menyajikan gebrakan,” tulis Syme.
Sementara itu, dosen jurusan media penyiaran di University of the Sunshine Coast, Matthew Sini, beranggapan para selebritas yang hadir pada Met Gala tidak merepresentasikan camp.
“Contoh menariknya Celine Dion yang mengenakan busana karya Oscar de la Renta. Penampilannya terinspirasi dari sosok yang dianggap sebagai ikon camp, Judy Garland. Tetapi hal itu tak lantas membuat Dion terlihat camp. Dion sendiri adalah ikon camp kontemporer. Ia selalu membangun citra sebagai selebritas yang melantunkan lagu-lagu melankolis, sementara ia sendiri sebetulnya adalah pribadi yang periang,” tutur Sini.
“Para seleb itu seperti mengorbankan diri untuk kesenangan kita dan untuk umpan-klik yang membuat para sponsor menilai siapa yang paling populer malam itu. Met Gala nampak seperti acara yang kompetitif. Di sini, camp nampak seperti ekspresi ketenaran dan iklan. Ia kehilangan esensinya,” kata kritikus fesyen Vanessa Friedman.
Apa pun kritik yang disampaikan untuk acara ini, bagi Wintour, Met Gala adalah tempat untuk bersenang-senang. Ia merasa camp tak perlu dilihat sebagai tema serius. Lagipula, terlepas dari segala perdebatan itu, Met Gala sukses menjadi topik viral di internet selama berhari-hari.
Baca juga artikel terkait MET GALA atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia