Tentang Jalan Hidup David Moyes yang Tak Biasa Itu

14 December 2017 by
Tentang Jalan Hidup David Moyes yang Tak Biasa Itu

Yang paling menyulitkan dalam menulis David Moyes adalah: Ia bukan sosok yang menarik untuk ditulis, setidaknya sampai saat ini.

I

Sebagai pelatih, Moyes sedang hidup dalam pengasingan. Karier kepelatihannya menjadi sorotan saat Sir Alex Ferguson mendapuknya sebagai suksesor. Moyes mendadak berada di puncak kepelatihan. Namun itu tak lama, setahun menjabat, ia didepak dan memulai pengembaraannya. Ia melatih klub-klub yang bila dibandingkan dengan Manchester United, jelas tak ada apa-apanya. Namun lucunya, di klub-klub macam ini pun kariernya tak lama.

“Kami gagal melepaskan terobosan akhir. Itu yang mengecewakan. Kami tak bisa melakukan itu di sepertiga akhir lapangan, tetapi saya tak menyesali permainan kami karena kami mampu menguasai bola dengan sangat baik,” David Moyes adalah ironi. Karier kepelatihannya di Manchester United habis setelah menuai kekalahan 0-2 dari Everton, klub yang dilatihnya selama 11 tahun.

Dan setelahnya, dimulailah babak baru perjalanan Moyes sebagai pelatih. Ia menghabiskan masing-masing setahun bersama Real Sociedad (2014-2015) dan Sunderland (2015-2016). Saat ini, ia menjadi pelatih West Ham United, menggantikan Slaven Bilic pasca-kekalahan 1-4 dari Liverpool di pekan ke-11 gelaran Premier League musim 2017/2018.

II

Kalau boleh jujur, tulisan ini sebenarnya dimulai dari satu pertanyaan absurd menyoal David Moyes: “Apakah jalan hidup David Moyes layak untuk ditulis oleh Murakami?”

Dalam kepenulisan, terlebih fiksi, penokohan adalah perihal krusial. Penokohan tak melulu harus berwujud manusia (misalnya Animal Farm yang ditulis oleh George Orwell), tapi yang harus diingat adalah penulis dan pembaca itu sama-sama manusia. Dan yang namanya manusia, mereka harus bisa saling terhubung. Lantas yang menjadi tugas para penulis fiksi adalah menghubungkan penulis dan pembaca melalui penokohan yang ia lahirkan dalam ceritanya.

Yang membikin kita tidak bisa berhenti membaca sebelum menamatkan suatu cerita bukan kejadian-kejadian luar biasanya, tapi hubungan yang terbangun antara kita sebagai pembaca dengan tokoh dalam cerita tersebut. Hubungan ini biasanya terbentuk karena bangunan emosi yang berhasil disampaikan si penulis kepada para tokohnya.

Hunger (dalam edisi Bahasa Indonesia ditulis Lapar) karya Knut Hamsun, misalnya. Novel lawas yang pertama kali terbit tahun 1890 itu menceritakan perjalanan seorang penulis yang tak diketahui namanya. Hamsun hanya menyebutnya sebagai “Aku”.

Hunger adalah novel yang kaya dengan emosi. Aku muncul sebagai penulis yang jatuh-bangun. Terkadang optimismenya bisa meledak-ledak. Tetapi beberapa saat setelahnya ia bisa begitu terpuruk. Ia memelas, mengembik, memaki, dan berbuat seenaknya pada hal-hal di sekitarnya, bahkan pada Tuhan.

Mudah bagi kita untuk terhubung dengan Aku. Emosinya bisa ditangkap dengan mudah. Emosinya membuat kita sepakat bahwa kita pun akan bereaksi yang sama jika mengalami hal serupa. Dalam pembacaannya akan lahir empati, frustasi, marah, kesenangan.

Atau mungkin penokohan Atik dan Teto dalam karya klasik Romo Mangunwijaya: Burung-burung Manyar. Ia mengangkat kisah percintaan yang lebih rumit daripada hubungan beda agama dan cinta bertepuk sebelah tangan (para pembaca senasib mari kita kepalkan tinju ke udara): percintaan beda ideologi. Atik seorang nasionalis sejati, sementara Teto adalah simpatisan KNIL. Lantas, sebagai pembaca, emosi kita terhubung dengan mudahnya lewat cara mereka meresponi hubungan yang rumit bukan kepalang ini.

Namun Murakami berbeda. Salah dua yang menjadi ciri khas tulisan-tulisannya adalah absurditas dan datarnya bangungan emosi.

Yang paling umum, lihatlah bagaimana ia menempatkan karakter Toru Watanabe, Naoko dan Midori dalam Norwegian Wood, atau Kafka dan Nakata dalam Kafka on the Shore. Begitu pula dengan Aomame, Tengo Kawana, Fuka-Eri, Tamaru dan Pemimpin Sakigake dalam 1Q84. Atas segala kejadian luar biasa yang dialami tokoh-tokoh ini seharusnya mereka bisa lebih meledak-ledak. Namun alih-alih meledak, Murakami cenderung menggambarkan tokoh-tokoh ini meresponi segala macam kejadian tak masuk akal tadi dengan datar.

Dan yang paling kentara terlihat dalam novel pertamanya, Dengarlah Nyanyian Angin (Hear the Wind Sing). Ia bercerita tentang “Aku”, pemuda biasa-biasa saja yang menjadi mahasiswa jurusan Biologi dan tertarik dengan dunia tulis-menulis. Novel ini mengambil bentuk catatan harian, dimulai dari 8 Agustus 1970 dan diakhiri pada 26 Agustus 1970.

Saya dua kali membaca novel ini. Yang pertama sekitar dua tahun lalu dan tidak selesai. Alasannya sederhana, bosan. Saya membicarakan pembacaan yang tak selesai ini dengan seorang penulis. Saya bilang bahwa saya enek membaca alur cerita yang begitu-begitu saja bahkan setelah memasuki seperempat bagian buku.

Novel ini mengambil latar belakang kehidupan urban yang mempertontonkan repetisi kegiatan datar dan biasa. Makan. Bekerja. Minum bir. Bercinta. Tidur. Makan. Bekerja. Minum bir. Bercinta. Tidur. Begitu-begitu saja berulang kali.

Bagi para pembaca yang terbiasa menyantap novel-novel penuh luapan emosi dan lonjakan kejadian-kejadian tak masuk akal, novel ini jelas membosankan. Lantas, menanggapi keluhan saya si penulis tadi berkata seperti ini; “Ya kamu enek membacanya karena hidupmu pun seperti itu.” Dan setelahnya, novel itu bisa selesai pada pembacaan kedua saya.

III

Mengutip Jonathan Wilson, sepak bola adalah masalah pengulangan.

Lantas, pengulangan bagi Moyes adalah: Satu sesi latihan lagi. Satu perdebatan lagi. Satu pertandingan lagi. Satu kekalahan lagi. Satu wawancara lagi. Satu pemecatan lagi. Satu kontrak baru lagi. Satu musim lagi.

Catatan 11 tahun kepelatihan Moyes bersama Everton adalah satu hal dan catatan kepelatihannya sejak Manchester United adalah hal lain. Moyes menjabat sebagai pelatih Manchester United bukan karena menjadi pilihan pertama Ferguson dan manajemen United. Dalam bukunya, Ferguson menjelaskan bahwa Moyes sebenarnya berada pada urutan kelima. Mengapa ia pada akhirnya menjadi pelatih, karena empat nama di atasnya menolak tawaran United.

Riwayat sepak bola Moyes berbeda dengan Ferguson. Di era Ferguson, United berubah menjadi klub yang digdaya. Ini tak hanya menyoal Manchester United sebagai klub sepak bola, tetapi sebagai entitas bisnis yang begitu perkasa. Aturan-aturan yang digagas Ferguson terbukti menjadikan United sebagai pemegang kekuasaan Liga Inggris.

Dalam sepak bola, kita mengenal Manchester United era Ferguson, tapi kita tak pernah mengenal era Moyes. Bukan hanya karena durasi jabatannya yang kelewat singkat: 10 bulan. Tapi juga karena tak ada perubahan berarti yang dilakukan Moyes. Pelatih Skotlandia ini memang pernah berusaha mengurangi -bila istilah menghilangkan terlalu naif- ke-Fergie-an Manchester United dengan mengganti pola konferensi pers.

Saat Moyes menjadi manajer, ia pernah berusaha mengubah model konferensi pers ala Ferguson. Ia tak memulai konferensi pers jam 09:30 pagi. Ia pun berusaha mengganti semua staf pelatih yang pernah bekerja buat Ferguson. Namun, itu bukan penanda pergantian era. Mengutip istilah seorang penulis, itu hanya bukti bahwa satu-satunya hal yang bisa dilakukan Moyes adalah interupsi.

Pada intinya, riwayat kepelatihan Moyes setelah Everton adalah kepelatihan yang biasa-biasa saja. Ia tak sanggup mengangkat prestasi klub. Makanya, ia dipecat oleh klub-klub yang pernah mengangkatnya sebagai pelatih. Bahkan dalam wawancaranya pun Moyes berharap bahwa ia ingin memperbaiki citranya sebagai pelatih lewat jabatan barunya bersama West Ham United.

West Ham memang mendapatkan kemenangan pertamanya musim ini saat melawan Chelsea, Sabtu (9/12/2017) lalu. Moyes yang menjabat sebagai pelatihnya. Ia memberikan tempat kepada kiper Adrian San Miguel sebagai pengganti Joe Hart di laga ini. Tapi bila dibandingkan dengan catatan Moyes sebelumnya sebagai pelatih, ini belum cukup untuk menyebutnya sebagai pelatih yang patut diperhitungkan. Moyes masih menjadi pelatih yang biasa-biasa saja.

Dalam tulisan-tulisan Murakami, tokoh-tokoh yang ia lahirkan bukannya orang-orang yang luar biasa. Tengo dalam 1Q84 memang tergolong sebagai bocah genius sewaktu sekolah. Tapi alih-alih menjadi ilmuwan, ia justru menjadi guru bimbel yang sesekali menulis novel.

Kompetisi sepak bola divisi utama memang menjadi tempat yang kelewat mengerikan bagi mereka yang biasa-biasa saja. Ia mirip dengan cerita-cerita yang ditulis oleh para penulis ternama. Semuanya serba luar biasa, serba sempurna, serba menggugah. Keduanya seperti tak punya tempat bagi orang-orang biasa. Yang semenjana.

-----

Lantas, Murakami tampil sebagai penulis yang menyelamatkan kisah orang yang biasa-biasa saja. Makanya, nanti, bila tak ada satu pun penulis yang tertarik untuk menarasikan cerita Moyes, bolehlah mereka bertemu. Berbagi cerita. Siapa tahu, sepak bola Moyes yang kelewat biasa justru muncul dalam cerita Murakami yang baru.

Apa Reaksi Anda ?

Love
0%

Suka

Laugh
0%

Lucu

Surprised
0%

Kaget

Sad
0%

Sedih

Angry
0%

Marah

loading...
0 Comments in this article

Tunggu Sebentar Ya...

Submit
Contact Us:
Redaksi: redaksi@uzone.id
Sales: sales@uzone.id
Marketing: marketing@uzone.id
Partnership: partnership@uzone.id

Recommended For You

To Top