
Membingungkan.
Mungkin kata itulah yang paling tepat untuk menggambarkan keseluruhan film ini, mulai dari awal hingga akhir. Saya tak hanya dibuat bingung oleh fokus cerita, namun juga alurnya yang melompat-lompat (tanpa alasan yang jelas kenapa harus begitu) hingga karakterisasi yang tak masuk akal.
Menilik sinopsis yang ditawarkan, The Sacred Riana: Beginning (selanjutnya The Sacred) ini semestinya berkisah tentang tentang Riana, pesulap cum ilusionis tenar asal Indonesia yang menjuarai Asia’s Got Talent 2017 dan semifinalis America’s Got Talent 2018.
Tapi sinopsis adalah sinopsis. Film adalah kenyataan lain yang tak melulu setia dengan sinopsis.
Spoiler Alert. Dibuka dengan adegan Riana kecil yang dirundung teman-teman sebayanya dalam perjalanan pulang sekolah, adegan The Sacred berlanjut dengan perkenalan keluarga inti Riana, ayah (Prabu Revolusi) dan ibunya (Citra Prima). Ayahnya bekerja sebagai pedagang peti mati, sementara ibunya sebagai perias mayat. Pekerjaan orangtua Riana inilah yang menyebabkan anaknya kerap jadi korban bullying di sekolah.
Ketika Riana pulang, ia mendapati ayahnya sedang sibuk menelpon sang paman, Johan. Dalam percakapan tersebut, terdengar sang paman meminta keluarga Riana untuk pindah ke rumahnya di Jakarta. Gagal merebut perhatian sang ayah yang sedang sibuk, Riana pun segera mencari ibunya.
Sang itu ternyata tengah sibuk merias mayat seorang nenek. Dari sini Riana terlihat memiliki kemampuan spesial: dapat melihat makhuk halus. Ia melihat arwah sang nenek, di dalam ruangan rias tersebut. Sayang beribu sayang, ibunya juga tidak memberikan perhatian yang diminta dan malah menyuruh Riana mematikan lilin di ruang peti. Dengan perasaan sedih, ia pun menuruti perintah ibunya.

Sindrom Tourette inilah yang menurut Klara membuat Riana kerap menggeleng-gelengkan kepala serta menggerakkan tangan tanpa sadar. Tak hanya itu, Klara juga mengatakan Riana memiliki 'kecenderungan indigo'. Indigo yang dimaksud Klara adalah orang yang memiliki indra perasa super-sensitif sehingga dapat melihat yang tidak dapat dilihat oleh orang biasa. Usut punya usut, Klara ternyata pernah bekerja pada sebuah lembaga yang menangani 'anak indigo'.
Luar biasa. Baru kali ini saya menyaksikan guru BP serba bisa. Tidak hanya ahli konseling, namun juga mampu mendamaikan neurologi (mampu mendiagnosis sindrom tourette) dengan pseudosains (percaya bahwa 'bocah indigo' adalah fenomena riil).
Kelak, Klara akan mengajak tiga orang 'anak indigo' lainnya yang juga berada dalam naungannya ke rumah Riana dengan maksud agar sang murid dapat membuka dirinya terhadap manusia lain dan tak hanya bergaul dengan makhluk halus. Di sini, lagi-lagi, fokus cerita kembali bergeser.
Hingga akhir film, fokus sudah tidak pada Riana lagi. Bahkan, ketika musuh utamanya—hantu pria Belanda bernama Bava Gogh—dikalahkan, peran Riana sangat kecil. Bava Gogh boleh dibilang berhasil dikalahkan berkat peran besar salah satu murid Klara bernama Hendro (Ken Anggrean) yang akhirnya tewas.
Lalu di mana orangtua Riana yang profesinya dekat dengan mayat itu? Oh, rupanya mereka memang cuma pelengkap yang sudah lenyap sejak pertengahan film.
Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara