
Menjelang Natal 1989 Matt Groening, seorang kartunis Amerika Serikat (AS), memulai sebuah serial kartun yang menceritakan skesta keluarga kelas pekerja yang menjalani hari-hari dengan menutup kesalahpahaman satu dengan kesalahpahaman lain dan tinggal di sebuah kota yang memalsukan sejarah kotanya untuk menutupi sejarah aslinya. Kota itu didirikan oleh seorang perompak sekaligus pembunuh.
Suatu hari di kota itu, sebuah sedan melaju ugal-ugalan di tengah hujan salju, lalu berhenti di tepi jalan. Pengemudi dan penumpang turun dari mobil. Sebuah keluarga. Homer si suami, Marge si istri, dan Maggie si balita berkostum bintang. Mereka melewati sebuah papan yang memberitahu kita tentang sebuah pertunjukan natal tahunan di Sekolah Dasar Kota Springfield.
Mereka masuk ke gedung pertunjukan sambil meminta maaf kepada penonton lain yang sudah lebih dulu mengambil tempat. Setelah paduan suara berakhir, pembawa acara memberitahu, pertunjukan selanjutnya adalah ‘Santa dari berbagai tempat’ yang dibawakan oleh seluruh murid tingkat dua.
Marge berkata bahwa itu adalah kelasnya Lisa, dan kita segera tahu Lisa adalah anggota keluarga mereka. Sementara teman-teman lainnya menampilkan Santa dari negara-negara yang kita kenal seperti Jerman atau Jepang, Lisa justru menampilkan Tawanga, Santa Claus dari Laut Selatan.
Kemudian panggung diisi lagi oleh paduan suara yang menyanyikan lagu One Horse Open Sleigh, atau kita lebih akrab dengan judul Jingle Bells. Lisa berkomentar lagi saat melihat Bart berada dalam barisan paduan suara, katanya Bart bernyanyi seperti malaikat. Malaikat itu bernyanyi begini: Oh! Jingle bells, Batman smells; Robin laid an egg! The Batmobile broke it's wheel; And the Joker got away! Sebuah pelintiran yang mengingatkan kita pada lagu-lagu serupa yang dinyanyikan anak-anak Indonesia pada 1998. Malaikat yang manis.
Perkara Natal ini menyebabkan Homer harus mengambil pekerjaan lain. Ia bekerja sampingan sebagai Santa Claus di mal. Upahnya sebesar US$120, yang setelah dipotong ini dan itu, tersisa US$13. Sebagai perbandingan, harga pohon Natal yang slightly irregular seharga US$45. Bart menggunakan upahnya sebagai Santa Claus untuk ikut judi balap anjing, sambil berharap keajaiban natal yang menurut Bart kerap terjadi pada anak-anak miskin. Dan ia memasang taruhannya pada anjing yang salah, anjing nomor delapan, Santa’s Little Helper.
Karena kalah, Santa’s Little Helper dikejar-kejar dan disumpah-sumpahi pemiliknya. Bart meminta Homer membawa pulang anjing malang itu. Santa’s Little Helper menjadi kado terbaik bagi keluarga Simpsons. Meski cerita berakhir dengan hangat, mari kita lihat kemungkinan seperti apa yang menjadi pemicu sketsa-sketsa Matt Groening ini bisa lahir dan kemudian menjadi mesin penggerak episode-episode The Simpsons selanjutnya.
Situasi Zaman The Simpsons
Pada 1989 di Amerika Serikat adalah tahun transisi dari seseorang yang mencitrakan dirinya sebagai antiperang sekaligus paling antikomunis sedunia yang menghabiskan delapan tahun masa jabatannya untuk membuktikan dua hal itu dengan membuat doktrin, membakar uang jutaan dolar untuk membiayai pejuang antikomunis, dan mengirim tiga ribuan orang Amerika untuk mendongkel rezim Sandinista, dan terlibat penjualan senjata ilegal ke Iran ke era seseorang yang lihai menggunakan rasisme, penjahat kelamin, sekaligus negarawan teladan yang bisa bersahabat dengan rival politiknya.
Selama dua periode kepresidenan, Ronald Reagan membekukan upah minimal sebesar US$3,35 per jam, di sisi lain pertumbuhan ekonomi menyebabkan kenaikan harga-harga, dan ini mengikis standar hidup pekerja-pekerja berupah rendah.
Jumlah orang di bawah garis kemiskinan meningkat dari 26,1 juta pada 1979 menjadi 31,7 juta pada 1988, belum lagi orang-orang yang tak punya rumah, sementara Reaganomics memungkinkan orang kaya semakin kaya. Warisan berupa kesenjangan ini dapat kita temukan dalam episode perdana The Simpsons, sebagai hadiah natal bagi Bush yang berupaya memperbaiki kondisi ekonomi dan bagi Amerika Serikat, yang kemudian bagi dunia.
Kita tahu kita cuma sekelompok primata yang berupaya mendapatkan yang terbaik dari yang tersedia, sering kali mengacaukan sesuatu, tapi selalu menemukan cara buat menghibur diri. Medium paling cepat diraih, dan barangkali paling tua: Komedi.
Medium ini memiliki banyak varian dan terus berkembang seiring peradaban manusia. Saat ini seseorang yang tergelincir akibat menginjak pisang tak bisa bikin sebagian besar orang tertawa, bukan karena ia tak lagi bagian dari komedi melainkan sebagian besar orang sudah tak menganggap kejadian itu lucu.
Kita selalu berupaya mendapatkan yang terbaik dari yang tersedia, dan slapstick barangkali sudah bukan yang terbaik dari pilihan yang ada. Berbeda dengan slapstick atau varian komedi lain yang meletakkan tawa sebagai tujuan, yang akan kehilangan tujuannya ketika tak ada orang yang tertawa, satire--varian lain dari komedi--tidak membutuhkan itu.
Sebagai contoh, kita bisa melihat puisi-puisi klasik Satires karya penyair cum kritikus Nicolas Boileau-Despréaux yang diterbitkan sekitar 1666-1667. Di dalam buku The Shape of Change: Essays in Early Modern Literature and La Fontaine in Honor of David Lee Rubin, pada esai berjudul Rhetoric of Disgust, menjelaskan bahwa jika satire dianggap sebagai simbol dari genre puisi-puisi Satires karya Boileau, kita bisa menyimpulkan bahwa setiap definisi satire seharusnya tidak mengetatkan prinsip tawa sebagai komponen esensial, seperti yang diyakini beberapa orang, sebab muka masam dan perasaan tak nyaman yang muncul setelah membaca Satires III dan XIII memiliki tingkat yang sama dengan sukacita yang muncul dari jenis komedi lain.
The Simpsons adalah serial animasi yang berada di jalur tradisi satire a la Horace, dan layaknya satire Horatian lain seperti Adventure of Huckleberry Finn karya Mark Twain atau Dead Souls karya Nikolai Gogol, The Simpsons mengejek kebodohan manusia secara halus di mana pemirsa menertawai, menghina, atau merasa jijik dengan karakter-karakter di dalam cerita, yang merupakan pantulan dari kenyataan. Atau, secara sederhana, mengejek diri mereka sendiri.
Tak hanya mengejek soal upah murah dan pajak, The Simpsons juga mengomentari pemerintahan yang gila, korupsi dan kampanye politik praktis, persoalan imigran, Perang Irak, kelompok kanan ekstrem, persoalan teologi—koran resmi Vatikan bahkan mengklaim bahwa Homer seorang Katolik, hingga serikat buruh.
Di negara seperti Perancis, satire memiliki akar budaya yang kuat. Ia merupakan bagian dari masyarakat. Ia menjadi semacam izin resmi untuk mengejek. Tradisi ini sudah tumbuh sebelum Revolusi Perancis dan semakin menguat saat satire memperlihatkan gaya hidup mewah Marie Antoinette sementara warga Paris mampus karena lapar. Lalu, apa yang membuat The Simpsons bisa bertahan selama 30 season dan 648 episode di Amerika?
Barangkali karena kita, masyarakat, selalu memberi mereka sesuatu untuk dikomentari. Sejak mengudara pertama kali, sebagai serial TV Amerika sejak 19 Desember 1989, The Simpsons menjadi media pertama yang masuk 30 besar rating terbaik, film layar lebarnya meraup keuntungan US$527,9 juta dengan biaya produksi sekitar US$75 juta, episode ke-600-nya ditonton 10,6 juta pemirsa, dan pada musim ke-25 acara ini sudah menghasilkan US$4,6 miliar.
Nilai itu didapat dari menjual produk-produk seperti pakaian, buku, video game, mainan, board game, permainan kartu, bahkan merek bir dan donat. Tidak selesai sampai di situ, sebuah survey dari Statista mengabarkan bahwa iklan televisi berdurasi 30 detik selama acara The Simpsons sepanjang musim 2018-2019 berkisar US$168 ribu.
The Simpsons dengan medium satire yang dipilih telah mengambil banyak keuntungan dari mengomentari dan mengejek kita dengan mengimitasi kehidupan kita. Mereka bermain-main dengan politisi dan isu sensitif seperti agama dan ras dan mereka sanggup berkompetisi dengan kartun-kartun serupa seperti South Park dan Family Guy, atau SpongeBob Squarepants, dan mereka sanggup bertahan.
Satire memang sarana terbaik untuk mengomentari sesuatu. Ia seperti palu dalam kotak perkakas, kita memilihnya untuk keperluan yang jelas. Namun ia tidak menjamin membawa perubahan besar dan signifikan untuk memperbaiki kondisi sosial. Selama 30 musim The Simpsons dan warga Amerika masih memilih Trump. Sebagai bonus, satire bisa merawat kewarasan penikmatnya yang mungkin suatu hari bisa membawa kebaikan.
Karya satire tahun 1729, A Modest Proposal, menampilkan ironi yang lahir dari tahun-tahun frustrasi akibat kegagalan reformasi. Namun karya itu tidak sanggup mengubah atau memperbaiki situasi; ratusan orang kelaparan sebelum karya itu terbit dan mereka tetap kelaparan bertahun-tahun setelah karya itu terbit. Ia tidak menerangkan masalah, ia hanya mengomentarinya. Karya-karya itu lahir dari kebebasan berekspresi yang barangkali tugasnya hanya menumbuhkan kesadaran yang lebih besar untuk merawat kemanusiaan. Hampir tiga dekade The Simpsons menemani publik Amerika, dan sebagian besar dari mereka tetap memuji Trump. Ya, bagaimanapun, mencemooh memang asyik. Saya menikmatinya.
Baca juga artikel terkait MOZAIK TIRTO atau tulisan menarik lainnya Sabda Armandio