
Uzone.id - Industri otomotif lagi dikeroyok dari sana-sini imbas konflik Timur Tengah. Chip langka, BBM mahal dan bahan baku plastik pun terancam langka hingga bisa berimbas pada biaya produksi.
Kenaikan signifikan harga plastik global dan potensi kelangkaan bahan baku kini menjadi perhatian serius di Indonesia.Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, memperingatkan bahwa situasi ini berpotensi mengganggu produksi pada berbagai sektor industri, termasuk otomotif.
Kekhawatiran ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah, yang telah mengganggu rantai pasok bahan baku plastik dunia. Plastik adalah komponen penting bagi industri otomotif.
"Sektor otomotif kan pasti membutuhkan plastik. Bukan hanya otomotif, sektor-sektor lain seperti makanan dan minuman itu banyak menggunakan plastik," ungkap Bob Azam di Jakarta, mengutip Bloomberg.
Masalah ini berakar pada industri petrokimia. Bahan baku plastik, seperti resin polyethylene atau polypropylene, adalah turunan dari minyak dan gas (nafta atau etana).
Akibat lonjakan harga energi, biaya produksi bahan baku petrokimia otomatis ikut terdorong naik.
Dampak dari kenaikan harga ini telah dirasakan di dalam negeri, khususnya oleh industri makanan dan minuman. Kenaikan harga kemasan plastik dilaporkan sudah mencapai 50 persen hingga 60 persen.
Kenaikan drastis ini, yang terjadi akibat terbatasnya ketersediaan kemasan plastik, telah mendorong harga barang di pasar, terutama di pasar ritel untuk produk siap jual.
Menanggapi situasi yang sulit ini, Bob Azam menekankan pentingnya menjaga kelancaran rantai pasok dan mendesak agar masalah kelangkaan bahan baku segera diatasi.
Ia berharap agar tekanan biaya ini tidak menambah hambatan bagi industri yang lebih luas.
Lebih lanjut, Bob Azam mengimbau para pelaku industri untuk menahan diri agar tidak serta merta menaikkan harga produk.
"Walaupun kelangkaan ini akan memacu kenaikan harga, tapi sedapat mungkin kita di sektor industri untuk menahan diri. Jangan sampai menaikkan harga dalam situasi yang sulit saat ini. Sama-sama menjaga," tuturnya.
Di sisi lain, ia melihat tantangan kelangkaan dan kenaikan harga ini sebagai momentum bagi industri untuk berinovasi, baik dalam menemukan alternatif bahan baku maupun meningkatkan efisiensi dalam penggunaan material.