Home
/
Telco

Transformasi InfraNexia Mulai Berbuah, Pendapatan Sentuh Rp7,7 Triliun

InfraNexia mencatat kinerja positif di semester I 2026 dengan pendapatan Rp7,7 triliun dan kenaikan pendapatan eksternal 31 persen.

Transformasi InfraNexia Mulai Berbuah, Pendapatan Sentuh Rp7,7 Triliun

Foto: dok. Telkom Indonesia

Bagikan :

Highlight Artikel

  • PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) membukukan pendapatan Rp7,7 triliun di semester I 2026.
  • Pendapatan dari pelanggan eksternal meningkat 31% secara tahunan menjadi Rp939 miliar, menandakan perluasan jangkauan bisnis.
  • Pengalihan bisnis wholesale fiber connectivity dari Telkom ke InfraNexia sejak 1 Januari 2026 meningkatkan skala operasi.
  • Perusahaan mencatat margin EBITDA sebesar 54,5%, didukung efisiensi operasional dan optimalisasi biaya.

Uzone.id – Transformasi yang dilakukan TelkomGroup melalui pembentukan PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) mulai menunjukkan hasil. Perusahaan yang kini menjadi motor pengelolaan infrastruktur digital TelkomGroup tersebut mencatatkan kinerja positif sepanjang semester pertama 2026, baik dari sisi pendapatan maupun pertumbuhan bisnis eksternal.

Pada enam bulan pertama tahun ini, InfraNexia membukukan pendapatan sebesar Rp7,7 triliun. Tak hanya itu, perusahaan juga berhasil meningkatkan pendapatan dari pelanggan di luar ekosistem TelkomGroup hingga 31 persen secara tahunan menjadi Rp939 miliar.

Peningkatan tersebut menjadi sinyal bahwa transformasi yang dijalankan sejak awal 2026 mulai memperluas jangkauan bisnis InfraNexia.





Transformasi dan kinerja positif InfraNexia

Jika sebelumnya perusahaan lebih banyak berperan memenuhi kebutuhan konektivitas internal TelkomGroup, kini infrastruktur yang dikelolanya juga semakin banyak dimanfaatkan oleh operator telekomunikasi lain, penyedia layanan internet (ISP), perusahaan digital, hingga pelanggan korporasi.

Pertumbuhan pelanggan eksternal ini sekaligus menunjukkan meningkatnya kepercayaan industri terhadap model bisnis yang dijalankan InfraNexia sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi yang lebih terbuka.

Perubahan tersebut tidak lepas dari langkah strategis TelkomGroup yang mulai 1 Januari 2026 mengalihkan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk kepada InfraNexia. Langkah ini membuat perusahaan memiliki skala operasi yang lebih besar sekaligus membuka peluang monetisasi aset jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom.


Foto: dok. Telkom Indonesia

Dengan pengelolaan yang lebih terfokus, aset infrastruktur tersebut diharapkan tidak hanya melayani kebutuhan internal grup, tetapi juga mampu dimanfaatkan oleh lebih banyak pelaku industri sehingga menciptakan efisiensi dan nilai ekonomi yang lebih besar.

Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf mengatakan capaian pada semester pertama tahun ini menunjukkan transformasi perusahaan mulai memberikan dampak terhadap daya saing bisnis.

"Pertumbuhan pendapatan eksternal dan kinerja positif InfraNexia menunjukkan bahwa proses bisnis yang kami jalankan mulai memperkuat daya saing InfraNexia. Selain memperbesar skala bisnis, fokus kami juga terus memastikan aset dan kapabilitas yang dimiliki dapat dikelola secara lebih produktif, efisien, dan relevan dengan kebutuhan industri," ujar Lukman dalam keterangan resminya yang diterima Uzone.

Bisnis wholesale jadi penopang utama

Dari sisi portofolio bisnis, segmen Wholesale Network menjadi salah satu penyumbang pertumbuhan terbesar. Segmen yang menaungi layanan Metronexia, Wavenexia, dan IP Nexia itu mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 12,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya kebutuhan kapasitas jaringan inti (core network) di tengah konsumsi layanan digital yang terus meningkat.

Permintaan terhadap konektivitas berkapasitas besar juga semakin tinggi, baik dari operator telekomunikasi maupun penyedia layanan digital.




Selain Wholesale Network, segmen FTTx & Infrastructure Sharing juga menjadi salah satu fokus pengembangan InfraNexia. Melalui layanan ini, perusahaan ingin mendorong pemanfaatan infrastruktur secara bersama-sama (infrastructure sharing) agar investasi jaringan menjadi lebih efisien sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di industri telekomunikasi.

Konsep berbagi infrastruktur sendiri dinilai semakin penting di tengah kebutuhan investasi jaringan yang terus meningkat.

Dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia, operator maupun penyedia layanan digital dapat mempercepat ekspansi tanpa harus membangun seluruh jaringan dari awal.

Efisiensi operasional dan skala bisnis

Tak hanya mencatat pertumbuhan pendapatan, InfraNexia juga menunjukkan peningkatan dari sisi profitabilitas.

Perusahaan membukukan margin EBITDA sebesar 54,5 persen pada semester I 2026. Angka tersebut ditopang oleh efisiensi operasional, optimalisasi biaya, digitalisasi proses bisnis, hingga pengelolaan aset yang lebih terintegrasi.

Di sisi lain, skala operasional perusahaan juga semakin besar. Jumlah karyawan InfraNexia meningkat dari 1.128 orang menjadi 1.338 orang sepanjang semester pertama tahun ini.

Penambahan sumber daya manusia dilakukan untuk mendukung kompleksitas operasional sekaligus mempercepat implementasi berbagai agenda transformasi yang tengah dijalankan perusahaan.





Menurut Lukman, semester pertama 2026 menjadi fondasi penting bagi InfraNexia untuk memperkuat posisinya sebagai perusahaan infrastruktur digital nasional.

Ia menambahkan bahwa perusahaan akan terus meningkatkan kualitas layanan melalui inovasi, modernisasi jaringan, serta memperluas kolaborasi dengan berbagai pelaku industri guna mengoptimalkan pemanfaatan aset infrastruktur yang dimiliki.

"Melalui sinergi bersama Danantara Indonesia, InfraNexia sebagai bagian dari TelkomGroup optimistis dapat terus memperkuat perannya sebagai penggerak ekosistem digital nasional. Dengan disiplin operasional dan eksekusi transformasi yang konsisten, kami berkomitmen menghadirkan infrastruktur digital yang andal, efisien, dan berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan," tutup Lukman.

Kinerja semester pertama ini juga menjadi indikator awal bahwa strategi transformasi TelkomGroup melalui pemisahan bisnis infrastruktur mulai menghasilkan dampak nyata.

Di tengah kebutuhan konektivitas yang terus meningkat, pengelolaan aset jaringan yang lebih fokus dinilai dapat menjadi modal penting bagi InfraNexia untuk memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi digital Indonesia.

FAQ Artikel

Apa itu PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia)?

InfraNexia adalah perusahaan yang dibentuk oleh TelkomGroup sebagai motor pengelolaan infrastruktur digital. Sejak 1 Januari 2026, InfraNexia mengelola sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

Bagaimana kinerja keuangan InfraNexia di semester pertama 2026?

Di semester I 2026, InfraNexia membukukan pendapatan sebesar Rp7,7 triliun. Pendapatan dari pelanggan eksternal juga meningkat 31% secara tahunan menjadi Rp939 miliar, dengan margin EBITDA mencapai 54,5%.

Apa yang menjadi penopang utama pertumbuhan bisnis InfraNexia?

Segmen Wholesale Network, yang mencakup layanan Metronexia, Wavenexia, dan IP Nexia, menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar. Hal ini didorong oleh peningkatan kebutuhan kapasitas jaringan inti di tengah konsumsi layanan digital yang terus meningkat.

Bagaimana InfraNexia mencapai efisiensi operasional?

Efisiensi operasional InfraNexia dicapai melalui optimalisasi biaya, digitalisasi proses bisnis, dan pengelolaan aset yang lebih terintegrasi. Ini terbukti dengan pencapaian margin EBITDA sebesar 54,5% pada semester I 2026.

populerRelated Article