
Uzone.id — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk berhasil menutup tahun buku 2025 dengan satu pesan penting ke pasar: transformasi perseroan mulai menunjukkan hasil.
Bukan sekadar bicara soal laba atau pertumbuhan pelanggan, Telkom kini mencoba menggeser narasi perusahaan dari operator telekomunikasi konvensional menjadi strategic holding digital yang lebih ramping, efisien, dan fokus menciptakan nilai jangka panjang.Langkah itu terangkum dalam strategi besar bertajuk TLKM 30 yang mulai dieksekusi agresif sepanjang 2025.
Secara angka, Telkom mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,7 triliun. EBITDA perusahaan berada di level Rp72,2 triliun dengan margin 49,2 persen, sementara laba bersih tercatat Rp17,8 triliun.
Telkom mengakui adanya dampak dari percepatan depresiasi aset sebagai bagian dari agenda “total governance reset” yang diamanatkan Danantara Indonesia.
Langkah ini membuat Telkom harus melakukan penyesuaian kebijakan akuntansi, termasuk restatement laporan keuangan tahun 2023 dan 2024. Efeknya, laba bersih terkontraksi sekitar 9,5 persen secara tahunan akibat kenaikan beban depresiasi.
Meski begitu, pasar justru merespons positif arah transformasi yang dijalankan perusahaan. Itu terlihat dari Total Shareholder Return (TSR) Telkom yang mencapai 35,7 persen sepanjang 2025. Angka tersebut berasal dari capital gain sebesar 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen.
Bagi investor, ini menjadi sinyal penting bahwa pasar mulai percaya strategi restrukturisasi Telkom bukan sekadar kosmetik korporasi.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengatakan bahwa 2025 menjadi fase percepatan transformasi perusahaan melalui strategi TLKM 30.
“Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ungkap Dian dalam keterangannya yang diterima Uzone.
Salah satu langkah paling menarik datang dari agenda streamlining bisnis. Telkom mulai serius melepas bisnis yang dianggap tidak lagi sejalan dengan fokus utama perusahaan. Divestasi AdMedika dan TelkoMedika menjadi contoh paling konkret, yang kini sudah masuk tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA).
Di saat bersamaan, Telkom juga mulai membuka nilai dari aset infrastrukturnya lewat inisiatif fiber carve-out. Perusahaan memisahkan sebagian bisnis Wholesale Fiber Connectivity ke InfraNexia melalui skema spin-off bertahap.
Langkah ini penting karena selama bertahun-tahun aset fiber Telkom dinilai sangat besar, tetapi belum dimonetisasi secara optimal. Dengan model carve-out, Telkom berupaya meningkatkan utilisasi aset sekaligus membuka peluang valuasi baru di bisnis infrastruktur digital.
Transformasi lainnya juga terlihat dari perubahan struktur operasional perusahaan. Telkom mulai meninggalkan pendekatan operating holding dan bergerak menuju strategic holding dengan empat fokus utama bisnis: B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.
Pendekatan ini membuat setiap lini usaha memiliki fokus yang lebih jelas tanpa tumpang tindih bisnis seperti yang selama ini kerap menjadi kritik terhadap ekosistem TelkomGroup.
Di sisi bisnis konsumer, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat terutama pada semester kedua 2025. Telkomsel sebagai tulang punggung segmen B2C membukukan pendapatan Rp109,2 triliun secara konsolidasi.
Konsumsi data masyarakat masih menjadi mesin utama pertumbuhan. Trafik data meningkat 15 persen secara tahunan, sementara Average Revenue Per User (ARPU) mulai bergerak naik setelah sebelumnya terus tertekan akibat perang harga industri.
Pemulihan ARPU ini menjadi sinyal penting. Dalam beberapa tahun terakhir, industri seluler Indonesia berada dalam situasi kompetisi yang terlalu agresif hingga membuat monetisasi layanan data menjadi sulit. Kini, Telkom melihat pasar mulai bergerak ke arah yang lebih sehat.
Strategi Telkomsel ke depan tampaknya akan fokus menjaga kualitas jaringan sekaligus melakukan penyesuaian harga yang lebih terukur demi menjaga profitabilitas.
Sementara di bisnis infrastruktur, Telkom justru terlihat semakin agresif memperkuat posisi. Pendapatan segmen B2B Infrastructure tumbuh 9,2 persen menjadi Rp8,9 triliun, ditopang bisnis data center dan fiber.
Bisnis data center menjadi salah satu area yang paling strategis. Melalui NeutraDC, Telkom kini mengoperasikan hyperscale data center di Cikarang dan Singapura, ditambah jaringan edge data center NeuCentrIX yang tersebar di berbagai kota.
Momentum ini tidak lepas dari meningkatnya kebutuhan cloud, AI, dan layanan digital nasional yang membutuhkan kapasitas komputasi besar dengan latensi rendah.
Di sisi menara telekomunikasi, Mitratel juga tetap menjadi mesin profit yang solid. Anak usaha Telkom tersebut membukukan pendapatan Rp9,5 triliun dengan EBITDA margin fantastis di level 82,2 persen.
Dengan kepemilikan lebih dari 40 ribu menara dan rasio tenancy 1,57 kali, posisi Mitratel masih sangat dominan di Asia Tenggara.
Sementara itu, bisnis internasional Telkom melalui Telin juga terus diperkuat lewat kepemilikan 27 sistem kabel laut internasional. Infrastruktur ini menjadi fondasi penting untuk menopang lalu lintas data regional yang terus tumbuh.
Di tengah semua transformasi tersebut, satu hal yang terlihat jelas adalah Telkom kini sedang mencoba menjadi perusahaan yang lebih disiplin – baik dalam investasi, pengelolaan aset, maupun tata kelola bisnis.
Belanja modal perusahaan pada 2025 tercatat Rp27,5 triliun, dengan mayoritas dialokasikan untuk penguatan infrastruktur konektivitas dan digital.
Transformasi sebesar ini tentu tidak akan selesai dalam semalam. Namun jika melihat arah strategi yang mulai lebih fokus, perampingan bisnis yang makin agresif, dan respons pasar yang mulai positif, 2025 bisa jadi akan dikenang sebagai titik balik baru bagi Telkom.
“Dengan disiplin operasional, kami semakin yakin dapat memperkuat daya saing dan menciptakan nilai yang berkelanjutan. Ke depan, Telkom akan terus melangkah dengan arah yang lebih terstruktur untuk menghadirkan kinerja yang semakin solid serta memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Dian.