
Uzone.id – Penggunaan eSIM semakin meningkat di berbagai negara. Di Asia Pasifik misalnya, peningkatan eSIM terjadi seiring dengan bangkitnya sektor pariwisata pasca pandemi.
Dalam laporan Kaspersky, pertumbuhan eSIM untuk perjalanan khususnya di wilayah Asia semakin meningkat dimana saat ini dominasinya mencapai 56 persen di pasar global dan menghasilkan pendapatan sekitar USD11,5 juta pada tahun 2024.Tingkat pertumbuhan tahunan pun diprediksi akan mencapai angka 11 persen dan 21 persen di tahun-tahun yang akan datang.
Lonjakan ini didorong oleh gelombang wisatawan dimana tahun 2025 ini saja, kawasan Asia Pasifik menerima 316 juta pengunjung internasional dan perjalanan keluar diprediksi melonjak 20–25 persen.
Sayangnya, peningkatan ini juga berimbas pada modus kejahatan baru yang memanfaatkan gelombang pariwisata yang terus meningkat.
Kaspersky menemukan adanya situs online abal-abal yang meniru
perusahaan telekomunikasi terkemuka termasuk Singtel, Smart, dan Telstra.
Situs ini dirancang sedemikian rupa agar terlihat resmi, lalu mengelabui pengguna untuk memasukkan data pribadi mereka seperti nomor telepon, data pribadi, kredensial login atau jawaban pertanyaan keamanan.
Penjahat siber kemudian menggunakan informasi pengguna untuk mengakses akun keuangan atau dompet kripto mereka, terutama jika mereka juga mendapatkan kredensial masuk atau pertanyaan keamanan.
Selain karena populer dan banyak digunakan masyarakat, salah
satu alasan penipu menggunakan modus ini adalah karena akses yang dilakukan
secara online.
Mereka kemudian menggunakan berbagai trik seperti link palsu, email atau pesan WhatsApp palsu, dan kode QR berbahaya.
Oleh karena itu, para wisatawan atau siapapun yang ingin mengaktifkan eSIM diminta agar membeli eSIM dari situs resmi operator, dan juga memeriksa URL situs sebelum melakukan pembelian atau mendaftaran eSIM.