UNDIP Jajaki Kolaborasi Teknologi Satelit, Siapkan Talenta Antariksa
UNDIP menjajaki kolaborasi pengembangan teknologi satelit bersama BRIN dan industri untuk memperkuat riset dan talenta keantariksaan.

Uzone.id – Pengembangan teknologi satelit dan keantariksaan di Indonesia tak hanya menjadi pekerjaan pemerintah dan industri. Perguruan tinggi pun mulai didorong untuk mengambil peran lebih besar, mulai dari riset, pengembangan komponen satelit, hingga menyiapkan sumber daya manusia untuk industri antariksa masa depan.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Audiensi dan Diskusi Penguatan Kolaborasi Inovasi Teknologi Satelit dan Keantariksaan yang digelar Universitas Diponegoro (UNDIP) di Kampus Tembalang, Semarang.Forum ini mempertemukan unsur perguruan tinggi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), industri, hingga mitra internasional untuk menjajaki berbagai peluang kolaborasi di bidang keantariksaan.
Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., mengatakan bahwa kolaborasi menjadi kunci untuk mengembangkan inovasi teknologi yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat.
"Intinya adalah kolaborasi. Hari gini masih cara sendiri-sendiri itu kayaknya kurang. Harusnya bisa kita optimalkan. Kita punya apa, mereka punya apa, kemudian menjadi satu sinergi," ujarnya dalam keterangan di dalam situs resmi UNDIP.
Ia berharap diskusi tersebut tidak berhenti sebagai forum pertemuan semata, melainkan dapat ditindaklanjuti menjadi berbagai bentuk kerja sama di bidang penelitian dan pengembangan inovasi.
Tak hanya melibatkan UNDIP dan BRIN, audiensi ini juga dihadiri Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI New Delhi Prof. Fuad, Ph.D. serta Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Prof. Joga Dharma Setiawan, Ph.D., yang mengikuti kegiatan secara daring.
Prof. Fuad menjelaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari komunikasi yang telah terbangun melalui berbagai forum internasional di bidang antariksa.
Menurutnya, teknologi satelit memiliki potensi besar untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan bangsa sehingga membutuhkan kolaborasi lintas institusi dan lintas disiplin ilmu.
Teknologi satelit butuh banyak disiplin ilmu
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Prof. Dr.-Ing. Ir. Wahyudi Hasbi, S.Si., M.Kom., memaparkan sejumlah peluang kolaborasi yang dapat dimanfaatkan perguruan tinggi. Mulai dari riset bersama, pemanfaatan laboratorium, program magang, hingga pengembangan talenta melalui berbagai program pendidikan di bidang keantariksaan.
Menurutnya, UNDIP memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan bidang tersebut karena didukung oleh berbagai disiplin ilmu yang saling melengkapi.
"Kalau UNDIP punya gagasan untuk mengembangkan bidang keantariksaan, menurut saya itu sangat mungkin. Satelit ini multidisiplin. Tidak bisa hanya elektro sendiri. Harus ada orang mekanik, elektronika, komunikasi, software, sampai aspek hukum. Jadi ini satu sistem yang utuh," jelas Wahyudi.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan teknologi satelit tidak hanya menjadi ranah para insinyur elektronika atau telekomunikasi. Di balik sebuah satelit, terdapat ekosistem yang melibatkan berbagai keahlian mulai dari desain mekanik, perangkat lunak, komunikasi data, hingga regulasi dan hukum keantariksaan.
Karena itu, perguruan tinggi dinilai memiliki posisi strategis dalam menyiapkan talenta yang dibutuhkan industri antariksa nasional di masa depan.
Wahyudi juga mengatakan bahwa BRIN siap mendukung pengembangan riset yang dilakukan perguruan tinggi melalui berbagai fasilitas yang telah dimiliki.
"Nggak usah beli peralatan dulu, kami sudah punya. Datang saja ke laboratorium antariksa. Itu menurut saya lebih efisien dan kita bisa bikin kolaborasi yang lebih intens," katanya.
Perkuat ekosistem industri satelit nasional
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Prof. Joga Dharma Setiawan, turut memaparkan perkembangan industri satelit nasional dan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, lembaga riset, industri, dan pemerintah.
Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung kemandirian bangsa, termasuk dalam pengembangan teknologi satelit nasional.
Diskusi yang berlangsung secara interaktif tersebut juga melibatkan para pimpinan fakultas dan dosen dari berbagai bidang keilmuan di lingkungan UNDIP.
Berbagai topik yang dibahas pun cukup beragam, mulai dari peluang pengembangan satelit perguruan tinggi, pemanfaatan data satelit untuk penelitian, pengembangan komponen satelit, akses terhadap fasilitas riset BRIN, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan, dan kolaborasi internasional.
Kolaborasi semacam ini menjadi penting mengingat teknologi satelit kini tak hanya dimanfaatkan untuk komunikasi, tetapi juga untuk pengamatan bumi, mitigasi bencana, navigasi, hingga mendukung transformasi digital di berbagai sektor.
Melalui sinergi antara kampus, lembaga riset, industri, dan pemerintah, pengembangan teknologi keantariksaan Indonesia diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi baru, tetapi juga mampu melahirkan talenta-talenta yang siap berkontribusi dalam ekosistem antariksa nasional.


