Digilife

Usai Ditandai Cek Fakta di Twitter, Donald Trump Ancam Bakal Atur Media Sosial

  • 28 May 2020
  • Bagikan :

    Ilustrasi. (Foto: Unsplash)

    Uzone.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan meregulasi atau bahkan menutup platform media sosial melalui rangkaian cuitan di Twitter, kemarin. Hal tersebut disampaikan Trump karena Twitter menandai cuitannya dengan tanda cek fakta.

    Menurut CNN, Trump bisa saja meregulasi media sosial, namun isinya belum tentu akan sesuai dengan kemauannya. Cara lainnya adalah dengan merevisi Undang-Undang-Undang Kesusilaan Komunikasi atau Communication Decency Act, yang melindungi platform media sosial dari kewajiban hukum atas beragam konten online.

    Baca juga: Selama Pandemi, Harta Bos Facebook Naik jadi Orang Terkaya Ketiga di Dunia

    Ahli hukum dari Benton Institute for Broadband and Society kepada CNN mengatakan, revisi atas undang-undang itu juga menjadi agenda Kementerian Hukum dan fraksi Partai Republik di Kongres Amerika Serikat. Namun, revisi ini tak akan mudah bahkan bisa berujung jalan buntu di Kongres. Selain itu, undang-undang yang mengatur platfrom media sosial tersebut pun berpotensi bertentangan konstitusi Amerika Serikat.

    "Ini hanya contoh lain dari pemikiran Trump bahwa Konstitusi membuatnya menjadi raja, tetapi sebenarnya tidak begitu," kata David Vladeck, profesor hukum Universitas Georgetown.

    Opsi lainnya, Trump bisa saja menekan Komisi Perdagangan Federal (FTC) dan Komisi Komunikasi Federal (FCC) untuk menindak perusahaan media sosial. Meskipun, sudah ada preseden FTC pernah menolak tekanan dari Gedung Putih jika terkait dengan topik politik.

    Baca juga: Facebook Luncurkan Aplikasi Panggilan Audio Bernama Catchup

    Sebagai informasi, FCC mengatur ponsel dan infrastruktur broadband, dan tak punya kewenangan mengatur perusahaan semacam Twitter atau Facebook.

    "Saya pikir walaupun (Ketua FCC) Ajit Pai berhubungan baik dengan presiden, dan mereka bekerja sama dalam beberapa hal, saya pikir dia masih menjaga independensinya," kata salah seorang petinggi indursti telekomunikasi yang dikutip CNN secara anonim.

    Sebelumnya, Donald Trump sempat mencuitkan terkait rencana pemilihan umum atau pengumpulan suara pemilu melalui pos. Dalam cuitannya itu, Trump menentang pengiriman sura suara yang sudah dicoblos melalui pos karena berpotensi adanya kecurangan. Cuitan itu pun langsung dilabeli 'cek fakta' oleh Twitter, meminta pengguna Twitter untuk mencari lebih lanjut terkait fakta pemilu melalui pos.