
-
Tren rokok kini berkembang ke rokok elektronik dikenal dengan vape atau vaping. Vape semakin digandrungi lantaran dianggap tidak seberbahaya rokok tembakau.
Namun, penelitian terbaru dari New York University School of Medicine membantah hal itu. Merokok elektrik justru bisa merusak DNA dan meningkatkan risiko kanker dan serangan jantung. Riset itu menyatakan meski dianggap tidak berbahaya ketimbang merokok, vape masih mengancam dan tidak bisa dikatakan aman.
Dalam tes laboratorium dengan bantuan tikus, studi itu menemukan bahwa tikus yang terpapar asap rokok elektrik memiliki tingkat kerusakan DNA yang lebih tinggi di jantung, paru-paru dan kandung kemih daripada yang menghirup udara normal.
Diberitakan The Independent, studi itu juga menyorot, kandungan vape yang diolah tubuh dan dibuang melalui urine masih tersisa sekitar 10 persen di tubuh. Zat sisa ini juga bisa memicu munculnya kanker.