icon-category Travel

WAC 2017: Jalan Terjal Sang Pendaki

  • 29 Apr 2017 WIB
  • Bagikan :

    "Bukan gunung yang kami taklukkan, tapi diri kami sendiri." (Sir Edmund Hillary)

    Upacara pembukaan Women Adventure Camp (WAC) 2017 baru saja usai. Peserta yang seluruhnya perempuan itu pun mulai bergerak. Berjalan dari Pos 1 (GBR Tamiajeng) menuju Pos 2 sesuai kelompok.

    Anggota Tim EAST, Paimo, selaku penanggung jawab pemberangkatan, baru saja memberangkatkan Kelompok 1, ketika tiba-tiba hujan turun deras mengguyur Tamiajeng. Tepat seperti prediksi sebelumnya, pendakian ke Puncak Bayangan atau Cemoro Kembar bakal disertai hujan.

    Walau begitu, para ‘Kartini’ ini nampak tak terpengaruh oleh derasnya curah air yang menimpa tubuh mereka. Langkah-langkah mereka tetap tegak menyusuri jalan setapak dan berbatu, menuju pos yang berjarak sekitar dua kilometer dari GBR Tamiajeng.

    Di atas sana, sambaran kilat dan gemuruh petir bak orkestrasi yang mengiringi langkah para perempuan ‘perkasa’ ini. Mereka layak disebut perkasa, walau sebagian besar berbadan kecil, namun mereka mampu membawa beban berat di punggung. Padahal jalan yang dilalui tak bisa dianggap mulus.

    Jalan setapak penuh bebatuan itu makin berbahaya karena dilintasi air bercampur lumpur yang menerjang dari atas. Mereka berjalan beriring sambil bergandengan tangan dengan teman satu kelompok. Beberapa peserta bahkan berjalan sembari menancapkan-nancapkan tongkat di jalan yang dilalui.

    Cuaca yang kurang bersahabat memang agak menghambat perjalanan menuju Pos 2. Kecepatan langkah pun jauh berkurang dibandingkan dalam keadaan cerah. Pendakian dari Pos 1 hingga Puncak Bayangan diperkirakan bisa ditempuh dalam waktu dua jam dalam kondisi normal.

    Panitia memang meminta peserta agar tiba di Puncak Bayangan sebelum pukul 19.00 WIB. Hal ini untuk meminimalkan risiko pendakian karena cuaca dan gelapnya malam.

    Sekitar 30 menit kemudian, sebagian peserta pun tiba di Pos 2. Pos ini merupakan pos terbesar di antara semua pos pendakian. Di pos ini terdapat warung yang cukup besar dengan bale-bale yang dapat dijadikan tempat rehat.

    Beberapa orang peserta yang merasa masih kuat terus melanjutkan perjalanan ke Pos 3, sementara yang kelelahan mencoba rehat sejenak. Melepas penat sembari mengisi ‘baterai’ dengan minum dan mengemil makanan ringan.

    Rute pendakian dari Pos 2 ke Pos 3 kini tak lagi didominasi bebatuan, namun tanah biasa. Curah hujan yang tadi cukup deras menyisakan gerimis. Rintangan yang dihadapi pendaki berubah, dari jalanan berbatu menjadi jalan tanah nan licin.

    Masih terdapat sisa-sisa aliran air yang turun dari puncak gunung di sejumlah ruas jalan. Panitia dan relawan meminta seluruh peserta agar meningkatkan kehati-hatian selama mendaki.

    Walau medan yang ditempuh belum terlalu curam dan berbahaya, berhubung cuaca yang masih kurang bersahabat, perjalanan menuju Pos 3 ini tetap saja menyulitkan. Lebatnya pepohonan dan semak belukar di kiri dan kanan jalan setapak menjadikan hawa terasa begitu adem.

    Para relawan tiada henti-hentinya memperingatkan peserta agar tetap bersatu dalam kelompoknya dan tidak terpisah-pisah. Tim medis juga nampak siaga mengawasi para pendaki. “Jika merasa lelah, jangan ragu-ragu untuk istirahat sejenak. Jangan memaksakan diri!” teriak seorang anggota tim medis.

    Menjelang Pos 3, jalanan mulai curam dan menanjak. Bahkan, sebagian peserta ada yang merangkak karena tak kuat berjalan dengan beban di punggung. Yang masih kuat tetap berjalan dengan bantuan tongkat masing-masing. Walau demikian, mereka masih saja tampak semangat dan terlihat gembira.

    “Jalannya seru, euy!” tiba-tiba seorang peserta berteriak lantang.

    “Makanya hati-hati, jalan pelan-pelan saja. Jangan terburu-buru!” timpal seorang relawan.

    Tak berapa lama kemudian peserta tiba di Pos 3, sebuah gubuk sederhana yang lebih kecil dibandingkan gubuk di Pos 2. Di pos ini sebagian peserta melepas penat sejenak, sebagian lagi tetap melanjutkan perjalanan ke Pos 4.

    Brand Ambassador EIGER, Jessica Katharina, termasuk pendaki yang rehat di pos ini. Wajahnya terlihat lelah, namun masih terlihat ceria. Ia bahkan jadi sasaran peserta untuk diajak berswafoto. Dengan ramah, gadis cantik nan jangkung ini meladeni permintaan penggemarnya.

    Namun ada sosok yang membuat Jessica ‘keki’ dan enggan diajak wefie, yakni salah satu relawan. “Aku pokoknya nggak mau foto sama kamu,” kata presenter televisi itu dengan nada tinggi sambil menudingkan telunjuk ke seorang relawan.

    Namun, jika dilihat dari mimik wajahnya, Jessica sepertinya tengah bercanda. Kata-kata Jessica disambut tawa para gadis yang berhasil berfoto bersamanya.

    Sedangkan si relawan ‘apes’ hanya tersenyum kecut lantas minggir dari bangku pos yang dijadikan tempat swafoto. Entah apa yang membuat Jessica ogah berfoto bersama dengan lelaki itu.

    Usai rehat yang cukup singkat, peserta kembali melanjutkan pendakian menuju Pos 4. Perjalanan yang makin menantang dan melelahkan. Sebab, kemiringan jalan yang dilalui makin terjal, sekitar 40 derajat. Bahkan, di beberapa titik kemiringan jalur pendakian ini mencapai 50 derajat.

    Cukup berat memang. Langkah peserta pun makin lambat. Mereka harus ekstra waspada menjejak jalanan yang masih basah dan licin.

    Setiba di Pos 4, tampak beberapa peserta sedang istirahat di gubuk kecil nan sederhana. Pos ini adalah pos terkecil di antara seluruh pos pendakian. Dan jarak antara Pos 3 ke Pos 4 juga merupakan jarak terpendek dari antara semua pos.

    Jalur pendakian mulai Pos 4 hingga ke Puncak Bayangan atau Cemoro Kembar makin terjal. Jalan setapak kian menyempit, dihiasi bebatuan dan kerikil sisa longsoran kiriman dari puncak. Kewaspadaan dan kehati-hatian benar-benar ditingkatkan kala melewati jalur ini.

    Peserta yang makin kelelahan nampak tertatih-tatih melangkahkan kaki. Sebagian lagi malah hanya bisa merangkak. Hawa dingin terasa menusuk tubuh kala mendekati Puncak Bayangan.

    Usai perjuangan yang demikian melelahkan, seluruh peserta akhirnya jua tiba di Cemoro Kembar. Mereka berhasil tiba lokasi WAC 2017, setelah empat jam mendaki. Seluruh peserta lantas memasuki tenda sesuai kelompok, melepas penat dan bersiap-siap mengikuti rangkaian acara yang telah disiapkan panitia.

    Area datar yang terletak Cemoro Kembar ini lumayan luas, mampu menampung belasan tenda ukuran kecil dan sedang. Selain tenda peserta, Tim EAST juga telah mendirikan tenda kelas, dapur umum, dan tenda medis.

    Puncak bayangan berada di ketinggian 1200 mdpl, sekitar 400 meter di bawah titik tertinggi Gunung Penanggungan. Berdasarkan data yang ada, puncak Gunung Penanggungan mencapai 1653 mdpl. Tak terlalu tinggi memang.

    Namun, jalur pendakian di gunung ini cukup sulit. Tak heran jika sebagian pendaki menganggap trek Penanggungan adalah tempat yang cocok untuk berlatih sebelum mendaki Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa.

    Feby Anggi Wulandari, peserta dari Tuban, Jawa Timur mengakui medan pendakian Gunung Penanggungan sangat menantang. “Apalagi diguyur hujan,  jalannya semakin menantang dan membutuhkan kefokusan,” kata gadis yang masih mahasiswa ini.

    Dara yang bercita-cita jadi dosen itu merasakan manfaat mendaki bareng dalam WAC kali ini. Terutama dalam memupuk kekompakan di antara peserta. “Kita jadi saling menghargai satu sama lain. Dan rasa kebersamaan lebih terasa dan nyata,” ungkapnya.

    Sebelumnya, Feby pernah mendaki Gunung Penanggungan pada 2016 lalu bersama sang kakak. Walau telah mengenal medan, ia tak menampik jika trek penanggungan begitu menantang.

    Kegiatan WAC, menurut Feby, sangat menarik. “Keren, karena dengan acara ini dapat mengumpulkan para pencinta alam untuk saling berbagi pengalaman satu sama lain. Juga saling mengenal satu sama lain,” ujarnya.

    Pendapat berbeda diutarakan Stefani Wuri Handayani, peserta WAC asal Magelang. Menurutnya, jalur pendakian Gunung Penanggungan tak seberapa menantang, namun lebih sulit dibanding gunung yang terdapat di Magelang. 

    “Ada gunung di daerah tempat tinggal saya yang tingginya sekitar 1600-an, tapi track-nya beda banget dengan Gunung Pawitra (Penanggungan). Lebih sulit di sini. Dan menurut saya, tidak ada gunung yang bisa diremehkan,” kata perempuan yang telah mendaki beberapa gunung ini.

    Walau bertubuh mungil, kekuatan fisik Stefani termasuk mengagumkan. Karenanya, ia mengaku tak terlalu kesulitan mendaki Penanggungan.

    Sebelumnya, dara yang berprofesi sebaga guru Bahasa Inggris ini telah mendaki Gunung Andong, Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, Ciremai, Ungaran, Lawu, dan Semeru. Pengalaman yang sangat memukau untuk seorang gadis bertubuh ‘mini’.

    Melihat tubuhnya yang mungil, kadang Stefani merasa sedih karena kerap kesulitan mendapat barang atau peralatan berpetualang yang sesuai ukurannya. 

    “Kalau mampir di EIGER Store dan ingin beli sesuatu, sering nggak dapat karena ukurannya yang besar-besar. Jadi kedodoran deh,” ujar pecinta produk EIGER ini sembari tersenyum.

    Walau begitu, semangat petualangan perempuan kelahiran 1987 ini patut diacungi jempol. Ia mengaku sangat mencintai kegiatan di alam terbuka, dan berupaya agar selalu dapat mengikuti acara-acara yang digelar EIGER.

     

     

     

     

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini