icon-category Travel

WAC 2017: Jejak Arkeologis Gunung Penanggungan

  • 04 May 2017 WIB
  • Bagikan :

    Gunung Penanggungan (1653 mdpl) adalah gunung berpuncak lima, mirip gunung keramat Mahameru di alam mitos.

    Situs Gunung Penanggungan menempati posisi yang terbilang istimewa dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Di gunung yang di masa lalu dianggap suci ini, banyak dijumpai bangunan purbakala dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Ia akhirnya menjadi gunung terkaya yang pernah dimiliki dunia arkeologi Indonesia.

    Kepurbakalaan yang ada seolah mengisi kekosongan catatan sejarah di masa peralihan, antara masa Majapahit Akhir hingga mulai berkembangnya pengaruh Islam di Nusantara.

    Bukti-bukti arkeologis itu tentunya tetap harus terjaga keberadaannya sebagai sumber kajian dala mupaya pengembangan pengetahuan sejarah-budaya pada masa-masa yang diwakilinya.

    Eksplorasi sistematis pertama kali dilakukan oleh Jawatan Purbakala Hindia Belanda tahun 1936 –1939, di bawah pimpinan WF Stutterheim. Tercatat 81 kepurbakalaan yang diberi angka Romawi I–XXXI. Hasil penelitian ini baru diterbitkan pada 1951, tetapi datanya tidak lengkap lagi.

    “Penanggungan merupakan dokumen sejarah amat penting, dengan ratusan peninggalan purbakala yang mewakili periode ±600 tahun, dari abad 10 sampai 16 Masehi,” ujar Ketua Tim Eksplorasi Ubaya (Universitas Surabaya), Kusworo Rahadyan.

    Eksplorasi merupakan salah satu kegiatan Ubaya Training Center (UTC) atau Unit Penanggungan Center (UPC) di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.


    Kusworo dalam lima tahun belakangan ini telah melakukan eksplorasi arkeologis di gunung yang juga disebut Pawitra tersebut. Ia dan timnya mulai meneliti Gunung Penanggungan sejak 2012 hingga sekarang, melihat ada apa di tiap jengkel tanahnya.

    “Gunung Penanggungan kelihatannya tidak seberapa, kecil, dan dulu tidak pernah diperhatikan. Kita hanya bisa melihat gunungnya, tapi coba kita lihat apa yang ada di dalamnya," kata dia saat menyampaikan hasil penelitiannya kepada peserta Women Adventure Camp (WAC) 2017 di Cemoro Kembar, Gunung Penanggungan, akhir April lalu.

    Penanggungan termasuk dalam kategori gunung api purba. Terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Surabaya, Ibukota Jawa Timur.

    Dalam beberapa catatan penting disebutkan bahwa Gunung Penanggungan adalah patokan masuk ke Jawa Timur dari arah laut. Gunung ini kaya dengan sumber kekayaan arkeologi. Bahkan terkaya di Indonesia.

    Tantu Pagelaran
    Sebagaimana gunung-gunung ternama di Indonesia, Gunung Penanggungan juga tak lepas dari mitos atau misteri.

    Sejarah gunung ini disebutkan kitab Tantu Pagelaran atau Tantu Panggelaran. Tantu Pagelaran adalah kitab Jawa kuno berbahasa Kawi yang berasal dari masa Majapahit, sekitar abad ke-15. Kitab ini berkisah tentang mitos asal mula Pulau Jawa.

    Dalam kitab itu, dikisahkan Batara Guru (Shiwa) memerintahkan Dewa Brahma dan Wishnu untuk mengisi pulau Jawa dengan manusia. Saat itu Pulau masih mengambang di lautan luas, terombang-ambing, dan senantiasa berguncang.

    Akhirnya para dewa memutuskan untuk memakukan pulau ini dengan cara memindahkan Gunung Mahameru di India ke atas Pulau Jawa.

    Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya. Sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular naga raksasa yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.

    Dewa-dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Namun, berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas.

    Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur Pulau Jawa. Ketika gunung Meru dibawa ke timur, serpihan gunung yang tercecer menciptakan jajaran pegunungan di Pulau Jawa yang memanjang dari barat ke timur. Mulai dari Gunung Katong, Lawu, Wilis, Kawi, Kelud, Arjuno dan Welirang.

    Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan ke timur, Pulau Jawa masih tetap miring. Para dewa lantas memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut.

    Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Penanggungan. Dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru.

    "Berdasarkan kidung Tantu Pagelaran itu, Gunung Penanggungan ini adalah puncak tertingginya Mahameru yang konon menjulang hingga ke langit dan dipotong," jelas Kusworo.

    Penelitian di Pawitra

    Sejumlah penelitian telah dilakukan oleh berbagai pihak di gunung yang juga disebut Pawitra ini. Pada 1975, Tim Proyek Pembinaan Kepurbakalaan dan Peninggalan Nasional melakukan survei lapangan di sisi utara Gunung Penanggungan.

    Selanjutnya, pada 1983, Tim Keluarga Mahasiswa Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (KAMA) juga melakukan urvei lapangan di sisi utara dan barat Gunung Penanggungan.

    Pada tahun yang sama, skripsi berjudul Punden Berundak di Gunung Penanggungan hasil penelitian di lapangan ditulis oleh Junus Satrio Atmodjo, dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI).

    Tujuh tahun kemudian, Agus Aris Munandar dari Fakultas Sastra UI menulis tesis berjudul Kegiatan Keagamaan di Pawitra. Setahun kemudian, pada 1991, terbit laporan penting berjudul Kegiatan Penentuan Batas Wilayah Cagar Budaya dalam rangka Penyelamatan Situs Gunung Penanggungan dan Sekitarnya. Laporan ini merupakan hasil survei tim gabungan di bawah pimpinan Maulana Ibrahim.

    Laporan ini menegaskan bahwa kawasan Penanggungan dalam konteks yang luas, termasuk lingkungan, merupakan aspek konservasi alam dan budaya serta faktor pariwisata. “Tercatat 55 buah kepurbakalaan di kawasan ini,” demikian laporan itu menyimpulkan.

    Hasil survei tim gabungan ini juga menyarankan instansi terkait dalam rangka penyelamatan peninggalan purbakala di situs Gunung Penanggungan dan sekitarnya untuk melakukan koordinasi terpadu.

    Dengan demikian, dapat dicapai upaya penyelamatan situs di gunung itu. Termasuk langkah-langkah pemanfaatannya untuk tujuan wisata, baik wisata budaya, maupun wisata alam.

    Selanjutnya, survei lapangan tim eksplorasi dari Ubaya pada 2012–2016 memperjuangkan gagasan Maulana Ibrahim dan kawan-kawan. Tujuannya untuk menggali potensi Gunung Penanggungan, baik sebagai lapangan penelitian bagi para ilmuwan maupun sebagai sarana pendidikan serta tujuan wisata.

    Aktivitasnya antara lain adalah menginventarisasi ulang situs-situs purbakalanya serta benda lepas yang kini tersebar di pelbagai museum dan koleksi lain. Hasilnya dipamerkan di gedung UPC di Tamiajeng, Trawas, Mojokerto.

    Benda purbakala dari Gunung Penanggungan yang tersebar di berbagai museum dan koleksi lain, berdasarkan pengamatan Tim Eksplorasi Ubaya:
    • Museum Trowulan:                40
    • Kantor BPCB Jawa Tengah:   12
    • Kantor BPCB Jawa Tengah:   12
    • Museum Nasional:                 10
    • Museum Taman Prambanan:  2
    • Museum Mpu Tantular:           1
    • Fakultas Seni Rupa ITB:         1

    Jalan kuno
    Dalam eksplorasi pada 2012-2015, tim UPC menemukan dan mencatat 120 peninggalan di sekitar Penanggungan. Hingga akhir 2016, ditemukan sebanyak 134 jejak arkeologi di gunung yang ramai didaki pecinta alam itu.

    Sekitar 40 persen dari temuan tersebut merupakan temuan baru. Sedangkan sisanya adalah eksplorasi terhadap data lama yang telah ditemukan sejak zaman Belanda dan penelitian-penelitian selanjutnya.

    Menurut Kusworo, informasi tentang Gunung Penanggungan sangat minim. Bahkan, timnya pernah melacak informasi terkait gunung ini hingga ke Univesitas Leiden di Belanda. Di sana, mereka menemukan setumpuk foto Gunung Penanggungan dan situs-situs di sekitarnya.

    Pada 2015, terjadi kebakaran di Gunung Penanggungan. Kejadian ini, menurut Kusworo, merupakan peringatan. Ternyata gunung ini menyimpan kekayaan arkeologis yang luar biasa. Tak hanya berupa punden berundak atau gua pertapaan, tapi juga jaringan jalan. Jaringan jalan ini melingkar dari dasar gunung hingga ke puncaknya.

    “Penemuan struktur jalan ini lantas mengubah sudut pandang kami. Dari melihat situs ke situs, satu bangunan ke bangunan yang lain, menjadi sudut pandang dari struktur jalan. Struktur jalan tersebut tak dapat dipisahkan dari gunungnya,” ungkap Kusworo.

    Struktur jalan ini, menurutnya, telah bertahan hampir selama 300 tahun. Hal ini berdasarkan jejak angka tahun yang terdapat di atas Gunung Penanggungan. Sebagaimana tradisi Majapahit yang selalu menulis angka tahun setelah membangun sesuatu.

    Dua pekan setelah Gunung Penanggungan terbakar, Tim Eksplorasi Ubaya berupaya naik dan memotret gunung itu lewat udara.

    "Ternyata benar. Terbukti apa yang ada di citra satelit, ada struktur jalan yang melingkar seperti bentuk obat nyamuk bakar. Jika kita perhatikan jalan pendakian yang sekarang dengan jalur kuno, terlihat bahwa jalan sekarang ini memotong alur jalan kuno," papar Kusworo.

    “Jalan kuno itu terbukti bertahan dari longsor, dari kebakaran maupun serangan alam lainnya. Jalan kuno itu juga bertahan dari ribuan kaki pendaki yang memotongnya,” ia menambahkan.

    Dokumen awal jalan kuno tersebut adalah peta buatan Belanda pada 1951. Peta ini juga digunakan oleh PT Perhutani sebagai alur batas peta hingga saat ini. Cuma, kata Kusworo, agak susah menemukan jalur kuno di bagian bawah gunung karena terjadi begitu banyak perubahan dan alih fungsi lahan.

    "Jalan kuno itu terlihat bertahan ratusan tahun lamanya. Bisa dibayangkan dengan apa mereka membangunnya."

    Tim UPC Ubaya mengaku khawatir dengan pelebaran rute pendakian di sisi selatan Gunung Penanggungan. Dengan rerata 700-an pendaki yang naik ke puncak setiap akhir pekannya, dikhawatirkan jalur kuno tersebut akan rusak akibat pelebaran rute.

    "Kita terus-menerus mencari solusi terbaik. Bagaimana agar rute pendakian tetap nyaman bagi pendaki, penduduk mendapat pemasukan (income), tapi jalur kunonya tetap terpelihara," harap Kusworo.

    Ia menegaskan, kepurbakalaan Gunung Penanggungan harus dilihat secara komprehensif. Tak bisa satu demi satu. Alam, cagar budaya dan kekayaan alam yang ada di Gunung Penanggungan harus dilihat secara menyeluruh.

    "Tidak hanya candinya saja, atau alamnya saja, tapi gunungnya juga perlu diselamatkan. Inilah yang mendasari tim eksplorasi kami dalam mengungkap apa yang ada di sini," ujarnya.

    Warisan nasional
    Salah satu rekomendasi Tim Eksplorasi Ubaya adalah Gunung Penanggungan menyimpan sesuatu yang sangat istimewa dan layak diangkat sebagai warisan nasional.

    "Jika kawasan ini telah diangkat sebagai warisan nasional, kita tidak akan muluk-muluk untuk mengejar ke World Heritage. Cukup National Heritage dulu saja. Jika sudah terawat dengan baik, masyarakat bisa menerima manfaatnya, silakan kalau lanjut ke World Heritage," kata Kusworo.

    Ia meminta semua pihak agar serius memikirkan strategi penyelamatan gunung ini demi pengembangan ilmu pengetahuan di masa depan. Gunung Penanggungan hendaknya dilihat secara utuh. Bukan hanya puncaknya, jalurnya yang indah, atau tempat yang bagus untuk selfie.

    "Gunung ini menyimpan kekayaan warisan yang sangat luar biasa. Harta karun kebendaan yang bisa diwariskan untuk keilmuan di masa mendatang," pungkas Kusworo.

     

     

     

     

     

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini