icon-category Travel

WAC 2017: Kisah Tiga Legenda, Abah Bongkeng

  • 30 May 2017 WIB
  • Bagikan :

    Julukan ‘Bongkeng’ yang ditabalkan pada Djukardi Adriana merupakan singkatan ‘bongkok kerempeng’. Julukan ini diberikan teman-teman-nya di Wanadri dulu karena kondisi fisiknya yang agak bongkok dan kerempeng.

    Djukardi Adriana adalah pendaki gunung kawakan di Indonesia. Di usia menginjak 67 tahun ia masih aktif mendaki dan menyebarkan nilai-nilai petualangan yang baik pada generasi muda.

    Pendiri EIGER Adventure Service Team (EAST) yang akrab disapa Kang Bongkeng atau Abah Bongkeng ini mulai menyukai gunung dan kegiatan alam sejak masih bocah.

    Hal ini tak lepas dari pengaruh pekerjaan ayahnya sebagai pejabat di PT Perkebunan Nusantara (PTP) di Bandung. “Saya sering dibawa ayah tur, keliling perkebunan teh dan hutan-hutan. Sejak itu saya menyukai alam,” tuturnya.

    Bongkeng mulai agak serius mendaki gunung ketika duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia kerap diajak kemping oleh teman-temannya yang rata-rata tergabung dalam kelompok pecinta alam.

    Sekitar 1971, ketika kuliah di Akademi Seni Rupa (ASRI) Yogyakarta sekitar, ia mulai rutin mendaki gunung. Tak mau kalah dengan teman-temannya yang pecinta alam, Bongkeng bertekad menimba ilmu secara secara benar.

    Akhirnya, dua tahun kemudian ia masuk Wanadri atau Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri yang memang berkedudukan di Bandung. “Setelah ikut Wanadri, saya mulai berani bermain di kegiatan pendakian yang sebenarnya,” ia menuturkan.

    Ia pun mulai menyasar gunung-gunung yang terdapat di luar Pulau Jawa. Gunung pertama yang ia daki adalah gunung Bawakaraeng di Makassar, Sulawesi Selatan. Setelah itu, petualangan Kang Bongkeng pun dimulai.

    Ia menjelajah hampir semua gunung tertinggi di Tanah Air. Menjelang tahun 2000, Bongkeng ikut dalam ekspedisi Wanadri ke Pegunungan Alpen, Swiss. Usai menaklukkan Alpen, ia kemudian menjelajah sejumlah gunung tertinggi di Eropa Barat seperti di Prancis, Austria, Jerman, dan Italia.

    “Saya juga mendaki Gunung Eiger di Swiss. Nama gunung yang dijadikan nama produk-produk alat petualangan,” ungkapnya.

    EIGER adalah nama produk alat-alat kegiatan luar ruang yang telah memiliki nama besar, baik di Indonesia maupun Mancanegara. Bongkeng dan Mamay S Salim (Kang Mamay) adalah pendiri perusahaan ini, bersama pengusaha Ronny Lukito.

    Walau termasuk pendaki senior di Indonesia, Abah Bongkeng mengaku tak berniat menaklukkan Seven Summits, tujuh puncak gunung tertinggi di dunia. “Tujuan saya bukan itu,” ujarnya. “Saya cukup dengan apa adanya saja.”

    Dari tujuh puncak tertinggi itu, Bongkeng hanya mendaki empat di antaranya; Cartensz Pyramid (Papua), Elbrus (Rusia), Kilimanjaro (Afrika), dan Aconcagua (Argentina).

    Mimpi si abah
    Sebagai pendaki, ada satu mimpi Bongkeng yang kini belum jua terwujud; mendaki Puncak Everest. Menggapai puncak Everest, kata dia, adalah impian tiap pendaki. Walau bermimpi menaklukkan puncak tertinggi di dunia, namun ia berpikir realistis.

    “Di sisa umur yang sekarang, agak berat untuk menggapai mimpi itu. Walau begitu, saya bersyukur bisa mendaki hampir semua gunung tertinggi di Indonesia dan Eropa,” ungkap kakek kelahiran Bandung ini.

    Walau demikian, Abah Bongkeng merasa bangga karena salah satu ‘anak didiknya’, berhasil mendaki Seven Summits. Ia adalah Iwan ‘Kweeceng’ Irawan. Keberhasilan Kweeceng mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di dunia itu menyisakan kebahagiaan tak terkira di hati Bongkeng.

    Iwan Kweeceng adalah satu di antara delapan orang Seven Summiteers—pendaki Seven Summits—di Indonesia. Bagi Kweeceng, selain ‘guru’, Bongkeng adalah sosok sahabat yang rendah hati dan tak pelit berbagi ilmu. Sebagaimana mentornya, Kweeceng juga mengikuti jejak Bongkeng; memilih pendakian sebagai jalan hidup.

    Menurut Bongkeng, menjadi pendaki adalah untuk menaklukkan diri sendiri, di dunia yang penuh tantangan dan keinginan. Keinginan manusia yang kadang membuatnya lupa diri adalah tantangan terbesar pendaki. Karena itu, Bongkeng ingin hidup apa adanya. Dan mensyukuri apa yang telah didapatnya selama ini.

    Julukan sebagai pendaki senior sebenarnya merupakan jaminan bagi seseorang untuk mendapatkan keuntungan secara materi. Namun, Bongkeng tidak mau menggunakan kesempatan tersebut.

    “Jika hanya mencari kekayaan, saya sudah kaya dari dulu. Namun, saya lebih suka hidup seperti ini,” ia menegaskan.

    Dengan keahliannya, Bongkeng pernah terlibat dalam pembuatan film beberapa tahun lampau. Ia menjadi stuntman (pemeran pengganti) Rano Karno dalam film Ranjau-Ranjau Cinta yang sempat meledak di tahun 1980-an.

    Dunia yang berbeda
    Menurut Bongkeng, dunia pendakian saat ini berbeda dengan pada zamannya dulu. Dulu para pendaki benar-benar berpetualang. Seperti yang dilakukan Mamay S Salim ketika mendaki Gunung Rinjani. Ia harus mencegat truk berkali-kali agar sampai di Pulau Lombok.

    Bongkeng bahkan sempat jadi kuli pembersih dek kapal demi dapat berlayar ke Makassar dan mendaki gunung-gunung yang terdapat di sana. Ketika kehabisan bekal di jalan, ia mendatangi kantor-kantor pemerintahan. Mengenalkan diri, meminta izin untuk mendaki gunung setempat.

    “Bahkan, saya justru banyak dapat uang bekal dari kantor-kantor pemerintah yang saya datangi,” ujarnya terkekeh.

    “Justru model petualangan yang seperti ini jarang sekali ditemui di masa sekarang. Semua serba mudah. Pengalaman pahit yang kami alami dulu justru menempa kami menjadi tahan banting,” sambungnya.

    Kini Bongkeng baru merasakan dampak petualangannya dulu. Jika dulu ia berpetualang dengan mengeluarkan modal yang lumayan, kini ia justru dibayar tiap mendaki gunung.

    Dunia petualangan atau kegiatan luar ruang yang mulai berkembang saat ini, menggembirakan hati Abah Bongkeng. Ia bersyukur, karena inilah harapannya dulu.

    “Dulu saya sering menikmati gunung sendirian. Ingin sekali agar gunung ini didatangi orang ramai. Sayang, di balik keramaian pendakian saat ini, gunung-gunung malah banyak yang rusak oleh kaki tangan pendaki,” ujarnya.

    Ia berharap para pecinta alam atau petualang agar tetap menjaga kelestarian alam saat menikmati gunung. “Jagalah agar alam ini tetap bersih, nyaman dan lestari. Jangan dikotori, jangan dirusak!” pesannya.

    Kadang ia merenung sendiri, merasa seolah-olah rusaknya gunung itu karena dosanya. Karena itu, seumur-umur ia harus menebus ‘dosa’ itu. Salah satu caranya adalah dengan mengadakan kegiatan Women Adventure Camp (WAC).

    Maraknya aktivitas petualangan saat ini tak hanya diminati kaum pria, tapi juga remaja putri. Namun sayang, kata Bongkeng, banyak di antara mereka yang mendaki tanpa dibarengi dasar-dasar dan pemahaman pendakian yang benar.

    Mereka, menurut Bongkeng, mungkin hanya mengikuti tren atau terpengaruh oleh tayangan-tayangan film atau televisi. Namun, tayangan-tayang tersebut tidak edukatif. Tidak menayangkan bagaimana sebenarnya teknik mendaki gunung yang baik. “Akhirnya cuma dramatisasi saja,” katanya.

    Yang terekam di benak orang, seolah-olah mendaki gunung itu adalah pekerjaan mudah. Karena itu, tegas Bongkeng, sebagai pelaku (pendaki) ia merasa amat prihatin. Apalagi maraknya petualangan itu juga dibarengi dengan banyaknya kecelakaan di gunung. Bahkan, mengakibatkan korban jiwa.

    Tak hanya prihatin, namun Bongkeng juga bertindak. Ia pun—melalui EAST—membuat sejumlah program atau kegiatan terkait petualangan di alam terbuka. Salah satunya adalah WAC.

    Sebagai Ketua Bidang Adventure Training di EAST tugas Bongkeng adalah menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pembekalan dalam aktivitas petualangan. Misalnya, teknik-teknik pendakian atau mountaineering, susur gua, panjat tebing, hingga bersepeda (Gowes Bareng Paimo).

    Tim inti EAST terdiri dari enam orang. Namun, dalam tiap kegiatan lapangan, mereka juga menyewa orang yang ahli di bidang masing-masing untuk membantu kegiatan-kegiatan EAST.

    Misalnya Mamay yang berlatar belakang pemanjat tebing, Bongkeng pendaki gunung, dan Bambang Hertadi Mas (Paimo) pesepeda. Ada pula pakar paralayang, arung jeram, maupun susur gua.

    “Semuanya dikemas dalam kegiatan rutin yang diselenggarakan EAST. Para ahli ini sengaja kami kumpulkan untuk bersama-sama berkarya demi kepentingan dunia petualangan di Tanah Air,” ujar Bongkeng.

    Pentingnya acara ini untuk mendukung promosi dan publikasi EIGER sebagai sebuah merek. Selain itu, kegiatan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab (CSR) EIGER untuk mengembangkan kegiatan alam terbuka. Inilah sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman para ahli kepada masyarakat sesuai bidang masing-masing.

    Sejak berdiri pada 2000, EAST yang merupakan lembaga di bawah EIGER telah menggelar segala macam bentuk kegiatan alam terbuka. Dari situ EIGER menilai kegiatan apa saja yang memiliki daya tarik tinggi. Inilah yang kemudian terus digelar hingga kini.

    Misalnya, mountaineering yang diasuh Abah Bongkeng, menerapkan sistem atau metode sekolah pendaki gunung. Program ini dinamakan Mountaineering and Jungle Course (MJC) yang digelar rutin tiap tahun. Biasanya MJC digelar saat liburan sekolah.

    MJC
    Awalnya, Bongkeng berniat mendirikan Sekolah Pendaki Gunung (SPG) untuk mereka-mereka yang bukan pecinta alam tapi menyukai dunia petualangan. Mereka ini enggan masuk ke dunia Mapala (mahasiswa pecinta alam) karena ketatnya pendidikan yang dibarengi hukuman (punishment) yang juga keras.

    “Di kampus-kampus banyak mahasiswa seperti ini. Mereka mencintai alam tapi enggan masuk Mapala. Inilah target atau sasaran dari program-progam EAST,” ungkap Bongkeng.

     

    Ternyata peminat MJC tak hanya dari kalangan non pecinta alam. Bahkan, sebagian besar justru dari Mapala. Untuk mengikuti MJC, calon peserta akan dites secara tertulis, terutama yang berkaitan dengan standar pendakian. Misalnya, navigasi dasar.

    Berdasarkan hasil tes tersebut, ternyata jawaban anak-anak Mapala banyak yang tak sesuai dengan harapan panitia MJC. Karenanya, kata Bongkeng, setelah dilakukan analisa secara mendalam, ternyata pendidikan Mapala itu lebih banyak berkutat di punishment ketimbang pendidikan dasar tentang petualangan di alam terbuka.

    “Metode yang digunakan EAST bersifat bimbingan. Bentuknya, diskusi, sharing, praktik, lantas dibimbing di lapangan,” tegas dia.

    Dalam sistem pendidikan EAST memang terdapat punishment, namun hal ini berdasarkan kesepakatan panitia dengan calon peserta di awal. Jika nanti terdapat protes dari peserta yang tak setuju dengan punishment tersebut, maka penyelenggara akan menanyakan di mana letak penolakannya.

    Sebab, menurut Bongkeng, punishment tetap dibutuhkan untuk melihat sejauhmana efektivitas program yang dijalankan dan seberapa besar respons peserta terhadap materi yang ada. Namun, sanksi yang dijatuhkan tak ‘seseram’ yang dibayangkan.

    Kegiatan EAST digelar di seluruh Indonesia, digarap secara bergilir. WAC termasuk kegiatan yang paling diminati. Kegiatan ini bersifat pengenalan tentang mountaineering maupun program EAST lainnya. Pendidikan tentang pendakian yang mendalam terdapat di MJC.

    Bermain di hutan atau mendaki gunung itu adalah kegiatan yang berbahaya. Penuh dengan risiko. “Makanya harus diimbangi dengan pengetahuan dan kemampuan terkait teknik bertahan di alam terbuka,” pungkas Bongkeng.*

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini