icon-category Travel

WAC 2017: Kisah Tiga Legenda, Iwan Kweeceng

  • 26 May 2017 WIB
  • Bagikan :

    Bagi pendaki kelahiran Bandung ini, mendaki gunung bukan melulu tentang petualangan, tapi juga soal spiritualitas.

    Nama lengkapnya cukup keren; Iwan Irawan. Tapi ia biasa dipanggil Kweeceng. Sebutan ini muncul gara-gara rambut gondrongnya yang mencapai pinggang. Dan kebetulan, saat itu—tahun 1990-an—sedang merebak serial film silat Mandarin berjudul Pendekar Pemanah Rajawali di Indonesia.

    “Ketika diikat ke belakang, rambut saya dianggap mirip dengan Kwee Ceng, tokoh utama di film tersebut. Jadilah saya dipanggil Kweeceng sampai sekarang,” tuturnya.

    Kweeceng dikenal sebagai salah satu pendaki Indonesia yang berhasil mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di dunia atau Seven Summits. Ia masuk dalam kelompok 8 orang Seven Summiteers (pendaki Seven Summits) Tanah Air.

    Mulai mendaki gunung sejak 1992 hingga kini, Kweeceng pun jadi bagian dari pendaki senior di Indonesia. Gunung yang pertama kali ia daki adalah Gunung Gede (Jawa Barat). Itu pun mendaki tanpa pengetahuan yang memadai.

    Sayang, Kweeceng tak berhasil mencapai puncak utama Gunung Gede waktu itu. Sebab, kondisi fisiknya tak memungkinkan. Walau begitu, ia merasa mendapat pengalaman berharga. Ternyata untuk mendaki gunung butuh pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Tak cukup hanya bondo nekad (bonek).

    Saat itu, menurut Kweeceng, terjadi banyak kecelakaan di beberapa gunung, baik Indonesia maupun di luar negeri. Di luar negeri, yang sedang ramai adalah pemberitaan tentang meninggalnya Norman Edwin, pendaki gunung anggota Mapala Universitas Indonesia (UI), di Puncak Aconcagua (Argentina). Aconcagua merupakan salah satu dari Seven Summits.

    Setelah tragedi yang menimpa Norman tersebut, Kweeceng merasa harus banyak belajar tentang pendakian. Ia pun mencari informasi terkait kelompok atau orang-orang yang paham dunia petualangan.

    “Sebagai orang rumahan yang tak terlalu banyak bergaul di luar, tak mudah bagi saya untuk mewujudkan keinginan,” ujar lelaki kelahiran Bandung ini.

    Akhirnya, ia mendapat informasi tentang Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri—biasa disingkat Wanadri—di kota kelahirannya. Kebetulan di awal 1993 itu, Wanadri Bandung tengah membuka pendaftaran anggota baru. Kweeceng mendaftar dan diterima di Wanadri.

    Walau mendapat mendapatkan pengetahuan dasar tentang pendakian, namun Kweeceng merasa belum mendapatkan pemahaman tentang esensi pendakian. Ia pun bermimpi dan bercita-cita dapat mencapai Puncak Everest (8.848 mdpl) suatu saat nanti.

    "Itu (Puncak Everest) juga merupakan impian Wanadri secara organisasi, tak hanya impian personal. Akhirnya, kami mulai terangsang untuk mendaki Everest," ujarnya.

    Kweeceng lantas mulai mencari informasi tentang pendakian di gunung es. Ia juga giat latihan fisik selama bertahun-tahun sembari terus mengasah pemahaman tentang pendakian.

    Pendakian Everest
    Pada 1996, Kweeceng mendapatkan tawaran dari Kopassus (TNI) untuk ikut dalam tim nasional pendakian Everest. Awalnya ia tak terlalu tertarik, dan tetap berlatih sebagaimana biasa. Ia sadar mencapai Puncak Everest bukan soal kecil.

    Gunung itu adalah gunung tertinggi di dunia dengan tantangan yang sangat besar. Dan butuh biaya besar. Namun, sepekan kemudian ia disusul ke tempat latihan oleh tim Kopassus. Mereka kemudian membawa Kweeceng ke Jakarta.

    “Saya minta izin kepada orangtua untuk berangkat ke Jakarta. Tapi belum memberitahukan soal pendakian Everest kepada mereka,” ia mengenang.



    Tiba di Jakarta, Kweeceng langsung mengikuti tes di training centre tim pendakian Everest di Cijantung. Tim ekspedisi Everest dilatih selama tiga bulan oleh Kopassus, baik latihan fisik maupun pemahaman tentang gunung es. Sementara latihan lapangan digelar di Gunung Gede dan Gunung Pangrango.

    Usai latihan dan seleksi di Jakarta, tim pun langsung berangkat menuju Himalaya, melanjutkan latihan di sana. Tim yang berjumlah 34 orang tersebut terdiri dari anggota militer dan sipil.

    "Awalnya kita mau latihan di Cartenz (Puncak Jayawijaya). Namun karena kondisi yang tak memungkinkan, akhirnya diputuskan untuk langsung berangkat ke Himalaya," kata Kweeceng.

    Di Himalaya, tim tidak hanya latihan semata, namun diiringi seleksi lanjutan. Latihan dengan mendaki Puncak Paldor (5.896 mdpl) ini berlangsung selama tiga pekan.

    "Yang membuat lama adalah penyesuaian dengan lingkungan sekitar (aklimatisasi). Alhamdulillah, saya bisa mencapai puncak Paldor dan masuk ke seleksi tahap berikutnya," tutur Kweeceng.

    Soal suhu, seluruh peserta tak terlalu khawatir. Sebab, mereka telah dilengkapi peralatan yang mampu menahan suhu hingga minus 40 derajat Celcius. Yang paling berat, menurut Kweeceng, adalah aklimatisasi di ketinggian. Sebab, orang Indonesia terbiasa menghadapi kondisi tropis, dan tinggal di bawah 1.000 mdpl.

    Berhasil dengan pendakian pertama, tim kemudian turun ke Kota Kathmandu untuk latihan berikutnya. Usai latihan di Kathmandu, tim kemudian kembali mendaki. Target kali ini adalah Island Peak atau Imja Tse (6.189 mdpl). Dan Kweeceng lagi-lagi berhasil mencapai puncak.

    Hingga pendakian Everest, yang tersisa dari tim tersebut hanya 16 orang dengan komposisi militer 10 dan sipil 6 orang. Mereka yang lolos seleksi pendakian Everest ini lalu dibagi menjadi dua tim; 6 orang dari sisi utara dan 10 orang dari sisi selatan.

    Rencananya, tim akan mencapai Puncak Everest dari dua sisi dan bertemu di puncak. Yang berhasil mencapai puncak saat itu adalah tim dari jalur selatan.

    Tim dari jalur utara gagal mencapai puncak karena terserang badai. Pendakian Kweeceng yang termasuk dalam tim jalur utara terhenti di ketinggian sekitar 7.000 mdpl. "Saya kembali turun, namun berjanji akan kembali mencapai puncak (Everest) suatu saat nanti," tekadnya.

    Zona kematian
    Di Everest dikenal istilah Death Zone (Zona Kematian). Tempat orang meregang nyawa karena kekurangan oksigen. Tak banyak orang yang bisa bertahan hidup di ketinggian 8.000 mdpl dalam jangka waktu lama tanpa bantuan oksigen.

    Bagi orang tropis—seperti Indonesia—yang berkelimpahan oksigen, cukup berat menghadapi kondisi ketinggian yang minim oksigen.

    Kweeceng menuturkan, disebabkan susahnya mendaki Everest, akhirnya pendakian di Himalaya dibagi dalam beberapa kamp. Kamp-kamp ini dirintis oleh orang-orang Sherpa yang menjadi guide atau porter bagi para pendaki. Kamp ini terbagi empat; mulai dari Base Camp, Kamp 1, Kamp 2, Kamp 3, dan Kamp 4.

    "Misalnya di hari pertama kita mendaki dari Base Camp hingga Kamp 1, maka pendaki harus turun ke Base Camp untuk istirahat. Selanjutnya, mendaki lagi dari Base Camp hingga Kamp 2, lalu turun istirahat di Kamp 1. Demikian seterusnya. Hal ini untuk menjaga tubuh agar dapat beradaptasi dengan lingkungan," jelasnya.

    Dan ketika pendakian sudah mencapai ketinggian 7.000 mdpl, maka pendaki harus menggunakan masker oksigen. Sebab, oksigen yang tersisa di ketinggian seperti ini tinggal 30 persen. Dan tiap perjalanan 1.000 meter, akan mengurangi 10 persen oksigen.

    Seven Summiteers
    Kegagalan pada 1996 melecut semangat Kweeceng untuk kembali mendaki Everest di kemudian hari. Akhirnya, kesempatan itu tiba enam tahun kemudian. Ketika ia bergabung dalam tim Indonesia 7 Summits Expedition 2010-2012. Tim ekspedisi kali ini terdiri dari beberapa lembaga seperti Wanadri, Gema Nusantara, Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad), UPT ITB, dan media.

    "Soal biaya kita cari sendiri. Mencari sponsor masing-masing. Selama Seven Summits dana yang dihabiskan sekitar Rp 12 miliar untuk enam orang," beber Kweeceng.

    Ia mengatakan, penggagas Seven Summits dari Indonesia adalah Norman Edwin. Sayang, pendakian Norman berakhir di Aconcagua. "Kami ingin meneruskan semangat Norman. Kami bermimpi menggapai Puncak Everest."

    Ekspedisi perdana tim ini dimulai pada 2010, dengan mendaki Carstensz Pyramid (4.884 mdpl) di Papua. Di sana mereka tak hanya mendaki, tapi juga latihan berjalan di atas es dan melatih kemampuan technical pro climbing.

    Usai pendakian di Papua, perjalanan selanjutnya menuju Kilimanjaro di Afrika (5.895 mdpl), dan Elbrus di Rusia (5.642 mdpl). Setelah mendaki Elbrus, tim kemudian pulang ke Indonesia untuk rehat sejenak.

    Beberapa waktu kemudian, pendakian pun berlanjut ke Aconcagua di Argentina (6.962 mdpl), Denali di Amerika Utara (6.194 mdpl), dan Vinson di Antartika (4.897 mdpl). “Terakhir baru mendaki Everest (8.848 mdpl),” ujar Kweeceng.

    Kweeceng dan rekan satu timnya, Nurhuda, berhasil mencapai Puncak Everest pada Sabtu 19 Mei 2012, pukul 07.49 waktu setempat. Mereka mengabarkan keberhasilan itu lewat telepon satelit dari puncak.

    Kweeceng lebih dulu mencapai puncak tertinggi di dunia itu, disusul Nurhuda beberapa menit kemudian. Mereka didampingi seorang pemandu dari Mountain Experience dan dua orang Sherpa. Ia beruntung dapat menikmati waktu yang lumayan lama di Puncak Everest, hampir 30 menit. Kebetulan, kata dia, cuaca saat itu sedang bagus.

    Kweeceng dan Nurhuda pun laik ditabalkan sebagai Seven Summiteers karena keberhasilan mereka mencapai puncak tertinggi di dunia dan menancapkan Bendera Merah Putih di sana. Seven Summiteers, sebuah sebutan yang mengundang kebanggaan tersendiri. Idaman para pendaki di seluruh dunia.

    Perjalanan spiritual
    “Saya banyak mendapatkan pelajaran dalam pendakian. Mendaki itu melatih saya menghadapi dan menerima kondisi terburuk. Selain itu, melatih kejujuran dan menghilangkan sikap angkuh atau arogan.” Begitu jawaban Kweeceng ketika ditanya kenapa ia mencintai gunung?

    Contohnya, kata dia, walau puncak sudah di depan mata, namun jika kondisi tidak memungkinkan untuk meneruskan perjalanan, maka pendaki harus mundur. "Selain itu, mendaki adalah satu jalan untuk menikmati keindahan alam dan mensyukuri anugerah Tuhan."

    Kweeceng termasuk salah satu di antara sedikit orang yang benar-benar menggantungkan hidup di dunia pendakian. Baginya, dunia pendakian adalah ajang penghidupan, tempat mencari nafkah. Juga pengabdian pada bangsa dan negara.

    "Jarang sekali orang yang menggantungkan hidup dari mendaki gunung. Karena itu, saya memilih jalan ini," tegasnya.

    Bagi Kweeceng, mendaki Everest adalah pengalamannya paling berharga dan paling menarik. Perjalanan mendaki Everest tak hanya tentang petualangan, tapi juga spiritual.

    "Saya banyak mendapatkan pengalaman spiritual dengan bimbingan para Sherpa. Meskipun Sherpa mayoritas beragama Buddha, tapi mereka menjelaskan tentang falsafah hidup yang ada korelasinya dengan pendakian," ungkapnya.

    Menurut, Kweeceng, Sherpa yang menyertainya tak pernah membahas soal teknis-teknis pendakian. Lebih banyak berbicara tentang filosofi hidup tanpa menyinggung agama, tentang napak tilas kehidupan. "Ini yang membuat saya kerap termenung dan berpikir. Bagaimana esensi sebenarnya dari sebuah pendakian."

    Itu sebabnya, dalam tiap me-mentoring suatu pendakian, Kweeceng kerap menyisipkan ‘ujaran-ujaran’ Sherpa yang ia dapatkan di Himalaya. Bahwa mendaki itu bukan ajang unjuk kekuatan, kegagahan, atau sikap jumawa. Tapi belajar mengenal diri sendiri dalam meniti perjalanan.

    EAST
    Dunia petualangan di Tanah Air kini makin marak. Tak lagi didominasi pecinta alam, tapi mulai digandrungi masyarakat umum. Sayang, kata Kweeceng, kondisi ini turut menyebabkan terjadinya pergeseran orientasi. Para pendaki tak lagi ‘menikmati’ pendakian, namun lebih mengejar swafoto.

    Baginya, kondisi ini cukup memprihatinkan. Mereka yang mulai suka mendaki gunung tersebut kurang dibekali dengan pengetahuan dan skill yang mumpuni. Akibatnya, banyak terjadi kecelakaan di atas gunung.

    "Jadi kesannya mereka hanya ikut-ikutan tren saja. Bukan kita yang menyesuaikan diri dengan gunung, malah gunung disuruh 'menyesuaikan' diri dengan si pendaki," kata pria 45 tahun ini.

    Akhirnya, para pendaki tidak memerhatikan standar keselamatan dan kelengkapan peralatan. Karena itu, Kweeceng berpesan kepada para petualang muda atau mereka yang baru terjun ke dunia pendakian agar peduli soal ini.

    "Mereka hendaknya menggali informasi sebanyak-banyaknya atau belajar lagi tentang teknik mountaineering pada para pakar atau profesional yang memang ahli.”

    Oleh sebab itu, ia menegaskan, EAST (EIGER Adventure Service Team) sangat berkepentingan menyebarkan 'virus' pendakian yang baik pada masyarakat. Semangat ini pula yang turut melatari ketertarikannya bergabung dengan EAST. Selain untuk belajar, juga sarana berbagi ilmu dan pengalaman.

    Bergabung dengan EAST sejak awal, tepatnya pada 2010, Kweeceng diminta merancang sebuah ekspedisi (perjalanan). Namun ia belum dapat berbuat banyak, karena sedang aktif di Wanadri dan tengah menjalani rangkaian pendakian Everest.

    Walau begitu, setiap ada kegiatan EAST ia pasti dilibatkan. Kweeceng dianggap memiliki kualifikasi teknis di panjat tebing dan pendakian gunung. Kini ia menjadi salah satu mentor andalan EAST, bersama dengan Mamay S Salim dan Djukardi Adriana (Kang Bongkeng).

    "Saya harus terus meningkatkan kemampuan, terus berproses, terus belajar. Apalagi visi dan misi EAST sejalan dengan prinsip saya," pungkasnya.*

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini