icon-category Travel

WAC 2017: Menggapai Puncak Pawitra

  • 27 Jun 2017 WIB
  • Bagikan :

     

     

    Walau tak seberapa tinggi, namun jalur pendakian ke puncak Penanggungan cukup menyulitkan.

    Siang itu cuaca di Cemoro Kembar nampak cerah. Sinar mentari yang menyapu Gunung Penanggungan terasa hangat, tak terlalu panas.

    Para peserta WAC 2017 baru saja menikmati makan siang di tenda masing-masing. Mereka lantas mempersiapkan diri untuk mendaki puncak Gunung Penanggungan di ketinggian 1653 mdpl. Cemoro Kembar, tempat peserta berkemah, berada di ketinggian 1300 mdpl.

    Saat itu, waktu menunjukkan pukul 13.30 WIB. Di tenda kelas, pemandu Women Adventure Camp (WAC) 2017 Galih Donikara sibuk mengatur keberangkatan peserta.

    Ia berteriak-teriak melalui pengeras suara, “Ingat, mendaki harus bersama kelompok masing-masing. Bawa peralatan yang lengkap. Jangan pakai sandal, tapi pakai sepatu. Jangan lupa juga bawa jas hujan.”

    Mendengar suara lelaki tinggi besar itu, peserta pun segera berhamburan dari tenda masing-masing. Mereka kemudian berbaris berdasarkan urutan kelompok. Kelompok 1 berada di barisan paling depan, demikian seterusnya.

    Kang Galih, demikian panggilan akrabnya, juga meminta para mentor dan relawan yang terpilih untuk mengawal peserta per kelompok.

    Setelah mengabsen anggota kelompok masing-masing, peserta pun bergerak beriringan menuju Puncak Pawitra, nama lain Gunung Penanggungan.

    Alunan lagu ‘Mentari’ versi akustik dari penyanyi balada Iwan Abdurachman yang menggema dari pengeras suara, seolah melepas keberangkatan para ‘Kartini’ itu.

    Tak semua peserta ikut mendaki ke puncak karena kondisi fisik yang tak memungkinkan. Panitia juga tidak memaksa mereka harus ikut. Walau tak seberapa tinggi, namun jalur pendakian ke puncak Penanggungan cukup menyulitkan.

    Selain sempit dan berbatu, tingkat kecuraman jalur tersebut cukup menantang, sekitar 50-60 derajat. Belum lagi jika terjadi perubahan cuaca, hujan misalnya, maka jalur ini akan semakin sulit didaki.

    Selain menghadapi curah air disertai kerikil yang jatuh dari atas, ancaman petir juga menjadi momok yang menakutkan bagi pendaki.

    “Tahun lalu saya pernah ‘diuber-uber’ petir saat mendaki ke puncak bareng kakak,” tutur Feby Anggi Wulandari, seorang peserta dari Tuban.

    “Benar-benar mengerikan,” sambungnya. “Alhamdulillah, kami selamat sampai bawah setelah berlarian sambil terus berdoa.”

    Feby mengaku lupa mematikan ponselnya saat itu. Ia dan kakaknya tak mengerti jika sinyal telepon genggam dapat ‘mengundang’ petir. Pengalaman itu benar-benar menyadarkan dirinya betapa pentingnya pengetahuan mendasar tentang medan pendakian dan antisipasi perubahan cuaca.

    Feby termasuk peserta WAC yang hobi naik gunung. Dara yang masih berstatus mahasiswi ini telah mendaki beberapa gunung di Jawa Timur.  Walau begitu, ia mengaku hanya sekadar ‘mendaki’. Bukan pendakian ala profesional.

    Karenanya, Feby mengaku bersyukur dapat mengikuti acara WAC 2017 kali ini. Banyak pengetahuan yang ia peroleh dari para mentor maupun pendaki profesional yang terlibat dalam acara ini.

    Legenda mountaineering Djukardi Adriana alias Kang Bongkeng dan pendaki Seven Summits Iwan ‘Kweeceng’ Irawan, turut mengawal peserta. Kehadiran mereka seolah melecut semangat kaum ‘Kartini’ tersebut kala berupaya menggapai puncak.

    Sesekali Kang Bongkeng dan Kweeceng memberi petunjuk pada peserta tentang bagaimana mengatur napas dan langkah kaki agar tak mudah lelah.

    Hampir dua jam menaklukkan jalur yang cukup curam dan menantang, peserta dari kelompok-kelompok terdepan tiba di Puncak Gunung Penanggungan. Sebagian dari mereka langsung berfoto bersama di dekat tiang bendera Merah Putih yang tertancap di sana. Yang lain asyik menikmati indahnya pemandangan yang terpampang sejauh mata memandang.

    Puncak Gunung Arjuno-Welirang di sebelah selatan, nampak menyembul dari balik awan. Uap plumpur Lapindo di sebelah timur menyembur ke atas, membentuk gugusan-gugusan putih kelabu di angkasa.

    Hawa sore menjelang senja itu tak terlalu dingin karena cahaya mentari tertutup kabut yang membungkus Puncak Penanggungan. Setelah berswafoto maupun berfoto bersama, peserta kemudian menikmati keindahan puncak dengan duduk-duduk dan bercengkrama dengan teman-teman satu kelompok.

    Tak berapa lama kemudian, kabul tebal tiba-tiba menutupi seluruh Puncak Pawitra, menghalangi cahaya mentari yang menyinari sekitarnya. Suhu udara berubah drastis dari hangat menjadi dingin. Beberapa pendaki lantas mengenakan jaket atau jas hujan untuk menahan hawa dingin yang seolah menusuk tulang.

    Kenangan peserta

    Puas menikmati keindahan Puncak Penanggungan, peserta kemudian diminta berkumpul di tengah tanah lapang dekat tak jauh dari tiang bendera untuk berfoto bersama.

    Usai mengabadikan gambar seluruh peserta, panitia meminta mereka untuk bersiap-siap kembali turun ke Cemoro Kembar. Dan kala mentari mulai tenggelam di ufuk barat, satu per satu peserta WAC 2017 beranjak turun dari Puncak Gunung Penanggungan.

    Tutut Nofita Sari, peserta dari Pasuruan, Jawa Timur mengaku terkesan dan senang mengikuti acara ini. Apalagi ia termasuk peserta yang berhasil mencapai puncak.

    “Para pendaki yang berpengalaman sangat dermawan dalam membagi pengalaman kepada semua peserta,” ungkapnya. “Selain itu, teman-teman yang baru saya benar-benar saling menjaga satu sama lain.”

    Menurut Tutut, yang paling menarik dari acara ini adalah peserta yang seluruhnya wanita. Ia mengaku baru kali ini mendaki gunung dengan kawan-kawan yang seluruhnya wanita.

    “Tidak ada yang back up kita. Saya jatuh, ya jatuh sendiri. Saya jungkir balik, ya bangun-bangun sendiri. Bawa air juga bawa sendiri. Di sini kami semua dilatih mandiri tanpa ketergantungan dari seorang pria,” kata perempuan yang hobi mendaki gunung ini.

    Choryana Muntiya juga mengaku bahagia dapat mengikuti WAC 2017 di Gunung Penanggungan. Menurut perempuan kelahiran 1997 ini, ia senang dapat dipertemukan dengan wanita-wanita pecinta alam yang tangguh dan mengagumkan. 

    “Bertemu orang-orang hebat yang memberi wawasan tentang alam tentang pendakian sungguh bermanfaat bagi saya,” akunya.

    Bagi dara yang telah dua kali mendaki Gunung Penanggungan ini, kegiatan WAC sarat dengan pengalaman dan petualangan. Walau begitu, ia mengakui medan pendakian tidak begitu sulit.

    “Saya sebelumnya sudah dua kali naik gunung ini. Tetapi pas acara WAC naiknya saat hujan. Jadi seperti ada tantangan karena baru kali ini lihat medan yang seperti  itu pas hujan,” kata dara asal Sidoarjo, Jawa Timur ini.

    Sementara bagi Fatmawati Sinta Dewi, peserta asal Malang, acara WAC yang dibarengi dengan peringatan Hari Kartini ini merupakan pengalaman yang luar biasa.

    “Kita disemangati bahwa kita adalah ‘Kartini-Kartini’ masa kini. Wanita-wanita tangguh. Jadi sungguh berkesan dan bermanfaat,” ucapnya. “Pendakian yang seru dan asyik. Kita mendaki sambil saling menyemangati. Tidak terasa capeknya.”

    Gadis petualang yang telah mendaki beberapa gunung ini mengaku sangat termotivasi mengikuti WAC 2017 yang digelar EAST/EIGER. Sebab, baru kali ini ia mendaki gunung bareng 75 orang cewek. Sinta juga mengakui kegiatan yang diadakan EIGER ini sangat sangat cocok untuknya.

    “Acaranya keren banget. Banyak hal kita dapatkan di sini. Kebetulan pas turun dari puncak bareng Mas Kweeceng, aku sempat sharing sama dia soal teknik-teknik pendakian dan segala macam,” tuturnya.

    Peserta dari Bandung, Susi Septiani, juga menyuarakan hal serupa. Baginya, pendakian bareng EAST/EIGER tak hanya melulu soal petualangan, tapi juga edukasi. “Banyak ilmu yang didapatkan. Sepulang dari sini, kita bisa berbagi dengan teman-teman lain yang tidak ikut acara ini,” katanya.

    Memang, sambung Susi, perjalanan dari base camp ke Cemoro Kembar cukup berat dan melelahkan. Namun, semua itu terbayarkan saat dirinya berhasil mencapai puncak.

    “Pemandangan dari puncak sungguh indah. Bahkan saya bisa melihat keluarnya lumpur Lapindo dari atas. Capeknya jadi hilang semua,” ia mengungkapkan.

    Yang muda dan yang tua

    Peserta termuda dalam WAC kali ini adalah Jopita, siswa Kelas IV Sekolah Dasar (SD) berumur 10 tahun. Bocah yang sekolah di SD Petemon 1 Surabaya ini mengaku senang bisa mencapai puncak Gunung Penanggungan bareng peserta lain yang usianya jauh lebih tua.

    “Saya sering kok mendaki gunung ini bersama ayah,” tuturnya mengawali percakapan.

    Ia mengaku memang hobi mendaki gunung. Meniru jejak sang ayah yang memang pecinta alam. Walau masih cilik, Jopita telah lima kali mendaki Gunung Penanggungan.

    Sejak masih duduk di kelas 3  SD, bocah ini memang kerap diajak naik gunung oleh ayahnya. “Kita bisa melihat dan membentuk kepribadian anak ketika kita mengajak dia mendaki gunung. Kita melatih mental dan kemandiriannya,” kata Hanbali, ayah Jopita, menimpali sang putri.

    Hanbali mengungkapkan, gunung yang pertama kali didaki Jopita adalah Gunung Lawu. Itu terjadi pada 2015 lalu. Sejak saat itu, kata dia, Jopita jadi ketagihan mendaki gunung. “Jika dalam dua bulan kami tidak mendaki, dia pasti akan tanya terus, ‘kapan naik lagi Yah’,” tutur lelaki yang berprofesi sebagai penjaga SPBU ini.

    Jopita, perempuan kelahiran 2002, berencana mendaki Gunung Semeru bareng ayahnya usai Lebaran nanti. Pendakian di Gunung Penanggungan ini bagian dari latihan mereka sebelum mendaki gunung tertinggi di Tanah Jawa itu.

    Hanbali memang menularkan hobi dan semangatnya mendaki gunung pada anak-anaknya. Sayang, dari ketiga anaknya, cuma Jopita yang antusias mengikuti jejak petualangnya.

    Sementara peserta tertua atau pendaki tertua dalam WAC 2017 kali ini adalah Wiwit Ratna Djuwita. Perempuan kelahiran Bandung, 7 Juni 1957.

    Nenek 60 tahun ini mengaku senang mengikuti acara yang digelar EIGER. “Apalagi gunung ini menyimpan khazanah berupa situs-situs sejarah yang luar biasa dan mengagumkan,” ujarnya.

    Wiwit mendapat informasi tentang WAC 2107 dari pusat EIGER di Bandung. Kebetulan di toko tersebut terdapat arena panjat dinding. Wiwit biasa berlatih di sana pada hari Rabu dan Jumat.

    Ia mengaku tak terlalu mempersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan ini. "Paling hanya lari-lari saja," ungkapnya.

    Bahkan sepekan sebelum mendaki Gunung Penanggungan, Wiwit sempat mendaki Gunung Batur, Bali. Kebetulan saat peserta mendaki Penanggungan, cuaca hujan. Namun hal itu, kata Wiwit, tak menjadi halangan.

    Ibu dua putra dan satu putri ini memang tergabung dalam Persatuan Atletik Master Indonesia (PAMI). Ia adalah pelari marathon dan pelari gunung (trail runner) yang cukup andal. Baru-baru ini, ia finish di urutan ke-14 dalam lomba trail runner di Gunung Guntur, Jawa Barat di ketinggian 2.000-2.2000 mdpl.

    Sebelum mengikuti WAC 2017, ia bahkan sempat mengikuti trail runner di Gunung Merbabu dan Gunung Andong di Magelang, Jawa Tengah.

    Wiwit mulai menyukai dunia petualangan sejak masih duduk di bangku SMA, sekitar tahun 1974. Dimulai dengan marathon, panjat tebing (rock climbing) dan mendaki gunung (mountaineering).

    Hampir semua gunung tertinggi di Indonesia telah ia daki. Jika ada gunung yang belum didaki, ia merasa penasaran. “Saya tak tahu mengapa saya begitu mencintai gunung. Kalau sudah dengar kata gunung, kok rasanya ingin pergi ke sana,” ungkapnya.

    Wiwit mengaku beruntung didukung suami dalam tiap kegiatan yang ia jalani. Ia menyatakan bakal terus melakukan kegiatan luar ruang atau petualangan sampai tubuhnya tak mampu bergerak lagi. "Kalau saya sudah pikun, baru saya berhenti," tandasnya.*

     

    Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini