icon-category Digilife

5 Rencana Aneh Elon Musk Untuk Twitter

  • 02 Nov 2022 WIB
Bagikan :
Ilustrasi foto: Edgar Moran ymoran/Unsplash

Uzone.id - Sebenarnya, dari awal adanya pemberitaan soal Elon Musk yang berniat membeli Twitter saja sudah bikin geger warganet. Tak ada hujan, tak ada badai, sang CEO Tesla ini tiba-tiba ingin meminang Twitter seharga USD44 miliar atau sekitar Rp617 triliun.

Banyak yang mengira (termasuk saya) kalau kesepakatan ini akan berjalan dengan mulus. Tapi ternyata tidak, butuh sekitar 6 bulan beserta berbagai drama di dalamnya sampai Elon Musk resmi menjadi pemilik Twitter.

Elon Musk diam-diam punya banyak rencana buat Twitter. Rencana-rencananya cukup ambisius dan sedikit nyeleneh. Ya, namanya juga Elon Musk, apa saja bisa dilakukan oleh salah satu orang terkaya di dunia ini.

Pecat CEO lama, lalu unjuk diri sebagai CEO

Ini mungkin bukan rencana aneh, namun bisa dibilang jadi ambisi Musk semenjak membidik Twitter sebagai targetnya. Di hari pertama jadi pemilik Twitter, Elon Musk langsung memecat pimpinan lama Parag Agrawal dan beberapa pejabat lain, seperti kepala keuangan Ned Segal.

Karena sudah menjadi pemilik resmi, Musk bebas untuk melakukan apa saja. Termasuk menunjuk dirinya sendiri sebagai CEO baru Twitter. Dilansir dari Digital Trends, pengajuan terbaru di Komisi Sekuritas dan Pertukaran (Securities and Exchange Commission) mengungkapkan kalau Musk telah memecat semua dewan Twitter dan meninggalkan gelar “Direktur tunggal” padanya. 

Baca juga: Setelah Jadi Owner Twitter, Elon Musk Mau Ngapain?

Sementara itu, laporan lain dari Washington Post juga mengungkapkan kalau kini Musk berstatus sebagai CEO Twitter.

Dengan status barunya, Elon Musk menjabat sebagai CEO di 4 persuahaan sekaligus, yaitu Twitter, Tesla, SpaceX, dan juga The Boring Company.

Sementara itu, dewan dan pejabat Twitter yang diberhentikan Musk adalah Agrawal, Bret Taylor, Omid Kordestani, David Rosenblatt, Martha Lane Fox, Patrick Pichette, Egon Durban, Fei-Fei Li, dan Mimi Alemayehou.

Ya, ambisi Musk untuk jadi Twitter akhirnya terlaksana juga ya, walaupun harus mengorbankan banyak jabatan demi mendapatkan posisi tersebut.

Berencana ‘bangkitkan’ akun Trump

Bukan hal yang tak mungkin bagi Musk untuk membawa kembali Mantan Presiden AS tersebut ke Twitter. Apalagi saat ini Musk sudah berhasil memecat pejabat yang ikut andil dalam penangguhan permanen Trump di Twitter.

Musk jadi salah satu pihak yang kurang setuju dengan penangguhan akun media sosial Trump. 

Dilansir dari Vox Mei lalu, ia mengatakan, “melarang Trump dari Twitter takkan mengakhiri suaranya. Ini justru akan memperkuat dirinya berada di pihak yang benar, dan itulah sebabnya (penangguhan) ini secara moral salah dan bodoh.”

Masalah Trump ini menyambung pada keinginan Musk soal Twitter yang menjadi platform bebas bersuara. Untuk mewujudkan hal tersebut, bukan tak mungkin kalau Donald Trump yang selama ini dibungkam dari media sosial, akan ‘dibebaskan’ kembali di Twitter olehnya.

Sebelumnya, Trump sudah dilarang muncul di Twitter semenjak Januari tahun lalu karena cuitannya soal insiden kerusuhan Capitol. Tak hanya di Twitter sebenarnya, akun-akunnya ditangguhkan secara permanen dari Facebook hingga YouTube.

Jadikan Twitter sebagai SuperApp X

Musk mengatakan kalau dirinya ingin memaksimalkan potensi Twitter dengan menjadikan platform ini lebih dari sekadar media sosial. Salah satu superapp yang sudah ada dan berhasil adalah WeChat, dimana platform ini menghadirkan berbagai layanan, mulai dari pembayaran hingga bisa food delivery.

“Pada dasarnya, kalian menggunakan WeChat di China karena sangat berguna dan sangat membantu kehidupan sehari-hari. Saya pikir jika Twitter bisa mencapai itu, atau bahkan mendekatinya, ini akan menjadi sukses besar,” kata Musk.

Rencana ini adalah rencana yang paling ambisius di antara rencana lainnya. Dalam memonya, ia juga ingin Twitter tak bergantung pada iklan dan menghasilkan lebih banyak uang dengan berlangganan. Salah satu potensi mendapatkan uang dari cara lain ya dengan adanya SuperApp ini.

Pemilik Centang Biru harus bayar

Salah satu rencana yang cukup bikin geger adalah penerapan biaya langganan pada akun bercentang biru. Ya, Musk sepertinya mau men-cuan-kan fitur ini lewat salah satu layanan berbayarnya, Twitter Blue.

Rencana Musk untuk Twitter adalah menagih USD20 atau sekitar Rp300 ribu per bulan bagi akun verified atau centang biru.

Arahan Musk mengarah ke Twitter Blue, dimana ia ingin layanan premium ini juga mengatur soal akun centang biru.

Pengguna centang biru juga punya waktu sekitar 2 bulan untuk berlangganan, jika tidak mereka akan kehilangan tanda verified mereka. Jadi, gak ada opsi lain bagi akun verified untuk ikut berlangganan agar centang biru mereka tak hilang.

Baca juga: Bos Lama Dipecat, Elon Musk Unjuk Diri Jadi CEO Twitter

Selain itu, Musk juga dikabarkan akan mengubah persyaratan bagi akun yang ingin memiliki tanda verifikasi.

Kita tahu kalau akun dengan centang biru biasanya merupakan akun-akun yang dikenal luas oleh publik, akun ‘asli’ atau akun terpercaya. Jika wacana soal siapapun yang bisa membeli centang biru di Twitter terlaksana, hal ini tentu akan memudarkan ‘konsep’ centang biru yang sedari awal digagas oleh bos Twitter terdahulu.

Freedom of Speech berujung Hate Speech

Musk punya ambisi untuk menjadikan Twitter sebagai wadah atau tempat yang menjunjung tinggi kebebasan bersuara atau freedom of speech. Tapi nyatanya, baru juga dipimpin, akun troll penyebar kata-kata kebencian muncul di Twitter.

Hal ini dilaporkan oleh The Washington Post dimana “tweet tentang penghinaan rasial muncul secara merajalela dalam waktu semalam,” tepat beberapa jam setelah Musk menjadi bos baru Twitter.

Analisis lain dari Network Contagion Research Institute (NCRI), sebuah organisasi nirlaba yang mempelajari disinformasi di platform sosial, mengatakan bahwa mereka telah mengamati peningkatan tajam dalam istilah N (merujuk pada kata berkonotasi negatif ‘Nigga’)  di Twitter.

Adanya peningkatan ujaran kebencian ini semakin memicu kekhawatiran bahwa upaya selama bertahun-tahun untuk membersihkan platform Twitter dari hal-hal negatif dapat dengan mudah di putar balikkkan oleh Musk. 

Apalagi dia telah memecat eksekutif kebijakan puncak perusahaan, Vijaya Gadde, yang memainkan peran sentral dalam membentuk aturan konten perusahaan.

"Bahayanya di sini adalah bahwa atas nama 'kebebasan berbicara', Musk akan memutar balik waktu dan membuat Twitter menjadi mesin kebencian, perpecahan, dan informasi yang salah tentang pemilu, kebijakan kesehatan masyarakat, dan urusan internasional yang lebih kuat," kata Paul Barrett, wakil direktur Pusat Bisnis dan Hak Asasi Manusia Stern NYU.

PHK massal karyawan Twitter 

Salah satu rencana aneh dari Musk adalah melakukan PHK massal karyawan Twitter disaat dia sendiri memiliki ambisi besar untuk platform tersebut. Logikanya, jika ingin membangun rencananya, Musk seharusnya mempertahankan karyawan yang sudah terjun lama di perusahaan, ya kan?

Namun, Musk sendiri tak segan-segan untuk memangkas lebih dari 50 persen karyawan lama Twitter tanpa menjelaskan secara detail alasannya.

Terlepas benar atau tidaknya kabar pemecatan tersebut, tetapi bersih-bersih ala Elon Musk ini memang menimbulkan drama besar di internal perusahaan. Bahkan setelah dirinya memberi pernyataan berisi bantahan soal PHK besar-besaran tersebut, para karyawan segera menulis surat pertanyaan untuknya.

Hingga saat ini, kabar soal PHK massal ini masih menjadi kekalutan para pegawai Twitter. Bahkan ada yang sudah siap-siap untuk pindah ke perusahaan lain menyusul adanya rencana pemangkasan karyawan dalam jumlah besar ini.

Cek informasi menarik lainnya di Google News

Bantu kami agar dapat mengenal kalian lebih baik dengan mengisi survei di sini