Digilife

Aib Facebook: Data Bocor hingga Sarang Hoaks, Pengguna Indonesia Peduli Gak Sih?

  • 14 October 2021
  • Bagikan :

    Foto: Unsplash

    Uzone.id -- Entah kenapa, pandangan publik terhadap Facebook seketika berubah sejak kasus Cambridge Analytica pada awal 2018, hingga sekarang di tahun 2021 pun masih bergulir drama seputar aib raksasa teknologi satu ini.

    Jika masih ingat skandal Cambridge Analytica yang menyeret perusahaan ke pengadilan, terungkap kalau data milik 87 juta pengguna diperjualbelikan untuk kepentingan kampanye Donald Trump hingga ia benar-benar memenangkan pemilu 2016.

    Belum lagi isu kesehatan mental terhadap pengguna remaja di platform naungannya, yakni Instagram.

    Kasus terbaru yang kembali menggemparkan dunia adalah pengakuan whistleblower bernama Frances Haugen, mantan data scientist Facebook yang bersaksi di depan para senator Amerika Serikat bahwa Facebook selama ini memanfaatkan algoritmanya untuk memperkuat penyebaran konten misinformasi, hoaks, dan hate speech.

    Baca juga: Whistleblower Tuding Facebook Berulang Kali Berbohong

    Salah satu dampak nyata dari aib tersebut, menurut klaim Haugen adalah kerusuhan pro-Trump di Capitol Hill, AS pada 6 Januari 2021 yang menolak hasil pemilu kemenangan Joe Biden. Hal ini dapat terjadi diklaim karena konten misinformasi dan hate speech yang berseliweran di Facebook.

    Sekian banyak kebobrokan atau aib Facebook Inc. sebagai perusahaan memang kerap terjadi di AS, negara yang jauh dari Indonesia. Namun, tetap saja kasus seperti ini bukan hal sepele.

    Berdasarkan data per Juli 2021, dari hampir tiga miliar pengguna Facebook di dunia, 140 jutanya berasal dari Indonesia. India menduduki posisi pertama, sedangkan Amerika yang merupakan tanah kelahiran Facebook ada di posisi kedua.

    Tim Uzone menanyakan pertanyaan langsung ke beberapa pengguna Facebook di Indonesia terkait skandal dan aib Facebook, dampaknya terhadap kesehatan mental, dan seberapa peduli mereka soal hal ini. Berikut jawaban-jawaban mereka.

    Uzone (U): Dilihat dari banyak kasus yang seakan akarnya dari Facebook, menurut kalian Facebook dan layanan lainnya seperti Instagram berbahaya atau enggak?

    TINI (T): Berbahaya, karena bikin orang jadi punya akses mudah ke konten hate speech, menyebar hoax, tanpa mikir konsekuensinya, padahal informasi yang tersebar lewat platform ini super impactful, maybe more than media mainstream. Bisa dibilang kayak Tuhannya society gitu, bisa mengontrol mindset, hasrat beli, dan lain-lain. Semua aspek kehidupan kita bahkan keputusan sehari-hari bisa dikontrol ama mereka.

    RIZKI (R): Sejujurnya kalo gue gak terlalu memikirkan hal itu, dan selama itu dari Facebook, ya sudah. Gue juga gratis pakainya.

    PRATAMA (P): Tergantung kebutuhan dan orientasi ketika memakainya. Kalau sekadar untuk "tahu" dunia luar, harusnya gak ada yang berbahaya.

    RANNY (N): Sejujurnya, makin ke sini makin kerasa bahaya banget sih, karena perusahaan yang gue kira sudah bagus segala sistem data dan operasionalnya yang bikin dia bisa sampai sebesar itu aja, ternyata banyak celahnya juga.

    AULIA (A): Lumayan, karena makin ke sini Facebook dipake buat tempat sharing berita yang gak bisa dibuktiin kredibilitasnya, sama seperti WhatsApp.

    Baca juga: 3 Konflik Menyeramkan di Dunia Melibatkan Facebook

    U: Kenapa masih mau pakai layanan milik Facebook Inc. seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp di tengah terungkapnya berbagai aib perusahaan?

    T: Karena those platforms yang paling convenient buat gue. Semua orang di sekitar gue pake WA, jadi gue harus ada di situ untuk interaksi sama mereka. Instagram juga gitu, they fu*ked up my mind to believe that it's so important to keep up with people's life and share parts of my life too. Before we know, kita jadi punya kultur FOMO gara-gara ada IG. Sekali FOMO, you cannot go back.

    R: Khusus Facebook sih karena gue lebih banyak main di forum/grup hobi sebagai pengganti Kaskus.

    P: Sempat ilfeel mungkin sekitar 5 tahun lalu, yang isinya cuma sampah politik. Tapi sekarang membaik kok dan banyak info gak terduga (terlepas itu akurat atau hoaks) di Facebook.

    N: Sering banget kepikiran soal ini sebenernya, kenapa ya masih pake aja. Apalagi pas gue sendiri tau ada kenalan gue kerja di FB dan dia bisa akses akun FB dan IG gue tanpa gue kasih passwordnya. Kacau banget tapi ternyata emang masih butuh.

    A: Jujur sekarang udah gak makai Facebook lagi. Instagram udah dikurang-kurangin banget.

    Ilustrasi: Unsplash

     U: Instagram dianggap mengganggu kesehatan mental pengguna, setuju atau nggak?

    T: Menurut gue IG itu bring out worst qualities of human: narsisme, riya, kompetitif, kena banget sama pressure. Tiap hari harus lihat orang-orang kayak gitu di IG dan jadi part of that community, pasti emang ngerusak mental.

    R: Not really sih, balik lagi ke filter diri masing-masing. Lo tau kapan harus stop.

    P: Balik lagi ke kebutuhan lo makenya. Kalo sekadar share apa yang lo suka atau alamin, tanpa expect apa-apa, ya justru bikin mental sehat. Tapi kalo niatnya cari perhatian karena kurang kerjaan mungkin, ya pasti bakal ganggu kesehatan mental.

    N: Setuju karena emang bener-bener bisa bikin mindset orang jadi beda karena penggunaan Instagram, bikin semua org butuh aktualisasi diri.

    A: Gak juga sih, semua tergantung usernya.

    U: Kalian sebenarnya peduli atau enggak soal masalah-masalah yang menerpa Facebook?

    T: Di tahap ini gue udah careless sih, karena terjadi berkali-kali, gak ada perubahan, dan pada akhirnya kita semua udah gak bisa lepas.

    R: Untuk gue pribadi, gue gak terlalu peduli masalah itu.

    P: Gak peduli, karena gak ada sangkut pautnya ama gue.

    N: Care banget. Karena makin ke depan, privasi jadi hal krusial di era serba digital. Dan kalau FB gak bisa atasin masalah negatif kayak gini, dampaknya bakal luas banget ke sektor atau industri lainnya deh.

    A: Peduli gak peduli. Soal data emang parah, tapi balik lagi, secara gak langsung konsumen yang menyerahkan data mereka dengan sendirinya ke Facebook, apalagi banyak yang malas baca Terms and Conditions. Dan gue sebenarnya miris juga, banyak yang merasa gak relevan karena kejadiannya itu di AS, jauh dari Indonesia. Jadi gara-gara ini sih kayaknya banyak yang gak peduli.