30 Tahun Vivo, Saat Inovasi dan ESG Jalan Beriringan

Uzone.id-Di usianya yang menginjak kepala tiga, Vivo tidak hanya merayakan pencapaian teknologinya saja, tapi juga memastikan komitmennya untuk selalu membawa inovasi yang bermanfaat bagi manusia, planet, dan masyarakat, terus berlanjut. Hal ini mereka paparkan lebih jelas dalam laporan tahunannya, 2024 Sustainability Report.
"Di usia tiga puluh, Vivo menjadi versi yang lebih baik dari dirinya sendiri," ujar Pendiri, Presiden, dan CEO Vivo, Shen Wei, dalam keterangan resmi yang kami terima.
Baginya, kunci selama tiga dekade Vivo berjalan di industri adalah kembali ke hal-hal mendasar, yakni menciptakan nilai nyata bagi pengguna, memimpin dengan inovasi yang bermakna, dan membangun fondasi yang kokoh untuk jangka panjang.
Saat teknologi merangkul semua kalangan
Vivo menerapkan pendekatan holistik terhadap keberlanjutan yang menggabungkan keterlibatan komunitas, inovasi teknologi, pengelolaan lingkungan, dan kemitraan yang berorientasi pada manusia. Pabrikan asal China ini juga mengembangkan program untuk menjembatani kesenjangan digital dan memperluas akses teknologi.
Salah satu buktinya adalah inisiatif ‘AI for All’. Program ini melahirkan proyek Smart Visual Assistance yang bahkan diganjar penghargaan oleh International Telecommunication Union karena dinilai berhasil membuat teknologi lebih mudah diakses oleh semua orang.
DNA ini semakin kental terasa pada strategi Blue AI yang diperkenalkan tahun ini. Vivo mengintegrasikan large language model(LLM) ke dalam perangkatnya. Hasilnya? Pengalaman pengguna yang lebih personal, aman, dan inklusif.
Fitur-fitur seperti Vivo Sight, Vivo Score Reading, Sign Language Interpreter, dan Vivo Listening & Speaking, yang dirancang khusus untuk membantu pengguna tunanetra maupun pengguna dengan gangguan pendengaran untuk bisa berinteraksi dengan dunia digital secara lebih mandiri.
Tak hanya itu, kepedulian perusahaan ini juga menyentuh komunitas secara langsung. Di Asia Tenggara, mereka sigap turun tangan saat terjadi bencana, seperti mengirimkan pasokan darurat dan alat komunikasi ke wilayah banjir di Thailand atau gempa bumi di Myanmar.
Bukan cuma manusia, Bumi juga diperhatikan
Kepedulian Vivo tidak berhenti pada manusia, tetapi juga meluas ke planet yang kita tinggali. Melalui program bernama Green Symbiosis, mereka menunjukkan aksi nyata dalam menjaga lingkungan.
Sepanjang tahun 2024, Vivo berhasil memanfaatkan 74,76 ton material ramah lingkungan berbasis hayati dan 30 persen kaca daur ulang dalam produksi perangkatnya.
Di sisi lain, Vivo juga memasang panel surya yang mampu menghasilkan 6.016,3 megawatt-jam listrik bersih. Jika dikonversi, upaya ini setara dengan mengurangi lebih dari 3.600 ton emisi karbon dioksida. Penghematan air pun tak luput dari perhatian, dengan total 22.765 ton air berhasil dihemat.
Visi global ini juga diterapkan dengan kuat di Indonesia. Gary Huang, CEO Vivo Indonesia, menegaskan komitmen mereka untuk menjadi bagian dari transformasi digital dan keberlanjutan di tanah air.
"Kami berkomitmen untuk menghadirkan inovasi teknologi yang inklusif, mendukung inisiatif lingkungan, dan memperkuat kemitraan dengan berbagai pihak," kata Gary.
Komitmen ini bukan isapan jempol. Pabrik Vivo di Indonesia bahkan berhasil meraih penghargaan Provincial Zero-Accident Factory Award. Ini adalah bukti nyata bahwa keselamatan dan kesejahteraan karyawan menjadi prioritas utama, sejalan dengan lebih dari 223.000 jam pelatihan yang diberikan kepada karyawan di seluruh dunia.
“Upaya-upaya ini sejalan dengan visi kami untuk menjadi mitra jangka panjang dalam mendukung transformasi digital dan keberlanjutan di Indonesia,” pungkas Gary.