Anak-anak Bisa Pakai VPN Kalau Medsos Dibatasi, Ini Kata Pakar

Uzone.id— Indonesia sudahresmi memberlakukan batasan akses untuk anak-anak di bawah usia 16 tahun ke 8platform seperti TikTok hingga Roblox. Pembatasan akses ini dilakukan demimelindungi anak-anak dari dampak negatif ruang digital.
Akan tetapi, pembatasan akses hingga penutupan ini tidakserta merta menyelesaikan masalah terkait perlindungan anak di ruang digital.
Alfons Tanujaya selaku pengamat siber dariVaksincommenyebut bahwa terlepas dari pembatasan internet, mendewasakan anak-anak agar‘melek digital’ adalah hal yang paling mungkin.
“Yang jadi sekarang masalah, ini internet ya mungkin nggakkita blokir 100 persen gitu? Tidak mungkin. Yang paling mungkin adalah kitamendewasakan anaknya. Sebenarnya itu kan, PP TUNAS iniall aboutanaknyajangan terpapar oleh konten yang jelek gitu,” katanya, sebagaimana dikutip dariakun resminya, Selasa, (31/03).
Ia melanjutkan, terlepas dari tugas orang tua dalamperkembangan anak, jaminan sesungguhnya agar anak-anak tidak mengakses situsadalah dirinya sendiri yang paham dan memiliki literasi digital yang mumpuni.
“Jadi anaknya tahu bahwa 'Oh, ini belum saatnya. Aku umur12, maka aku main yang ini aja. Nanti umur 15 aku main yang ini, aku udah umur18 aku udah bebas' gitu. Nah, kedewasaan seperti itu yang seharusnya diberikanke anak, bukannya dikekang. Kamu nggak mungkin bisa mengekang ini,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu yang dampak yang mungkin munculdalam kondisi seperti ini adalah anak-anak yang semakin cerdas dalam mencaricara untuk mengakses internet. Salah satunya kemungkinan penggunaan VPN agarlolos dari pemblokiran wilayah Indonesia.
Terkait kemungkinan adanya fenomena ini, Alfons sendiriberada di posisi netral, Ia menyebut bahwa dirinya tidak menentang dan setengahmendukung penggunaan VPN ini.
"Pakai VPN, saya setengah mendukung, saya tidakmenentang, setengah mendukung,” ujarnya.
Ia mengambil contoh negara besar seperti China yang tidakterlalu mengatur ketat soal VPN di tengah pembatasan akses ke beberapa aplikasiluar.
“Karena faktanya di China, apakah pemerintah China nggakbisa blokir VPN? Mereka punyaGreat Wall of China, mereka bisa blokirVPN, tetapi setengah tutup mata,” ujarnya.
Menurutnya, penggunaaan VPN ini menjadi tanda bahwaanak-anak atau siapapun yang memanfaatkannya sudah memiliki literasi digitalyang tinggi sehingga mereka akan lebihawaredengan kondisi di ruangdigital, termasuk soal hoaks, misinformasi dan bahaya lainnya.
“Karena jika anak bisa pakai VPN, artinya literasi digitaldia sudah di atas rata-rata. Kalau kita literasi digital di atas rata-rata,kita tidak mudah termakan oleh hoaks,fake news, dan bisa mengendalikandiri gitu loh. Jadi saya tidak terlalu khawatir dengan itu,” tambahnya.
Ia juga menyebut, kemungkinan jumlah anak-anak yang bisa danakan menggunakan VPN kemungkinan cenderung kecil, yaitu antara 10 sampai 20persen.
Sedangkan sisanya 80 persen kemungkinan tidak mengakses VPNakibat beberapa faktor, termasuk daerah yang tidak terjangkau dan juga literasimereka yang masih rendah.
Menurut Alfons, 80 persen anak-anak ini yang perludikhawatirkan karena mereka kemungkinan tidak memiliki pengetahuan memadaiterkait teknologi tersebut.
“Justru yang kita khawatirkan justru anak-anak yang 80persen ini. Yang 20 persen ini malah saya pikir malah ini positif kok. Jadisaya dukung, asalkan diarahkan,” jelasnya.
Ia menghimbau anak-anak ini agar tetap diarahkan oleh orangdewasa dalam menggunakan platform/aplikasi VPN yang terpercaya agar tidakterperangkap aplikasi yang berisi file berbahaya.
“Jangan pakai VPN abal-abal atau VPN gratisan, nanti malahdi-tapinformasinya atau malah diarahkan ke untuk instalasimalwaredan sejenisnya,” sarannya.