Bahlil Klaim Indonesia Aman Meski Negara Tetangga Darurat BBM

pada 2 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id-Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan kepastian mengenai kondisi pasokan energi di Indonesia. 

Hal ini disampaikan menyusul penetapan status darurat energi oleh beberapa negara tetangga di Asia, sebuah dampak tidak terhindarkan dari konflik yang memanas di Timur Tengah.



Menegaskan bahwa situasi darurat energi belum terjadi di tanah air, Bahlil meyakinkan publik bahwa persediaan energi domestik berada dalam kondisi aman.

“Sekalipun dalam kondisi yang memang hampir semua dunia kena, tetapi kita bersyukur kepada Allah, hari ini BBM di negara kita tercinta, baik bensin, solar, maupun LPG, terpenuhi dengan baik,” ujar Bahlil kepada media, melansirAntara.

Bahlil menjelaskan bahwa cadangan minyak Indonesia masih memenuhi standar minimal nasional yang berkisar di angka 21–28 hari. Ia menekankan, cadangan tersebut bukan berarti bahan bakar Indonesia akan habis dalam waktu 28 hari.

Cadangan itu akan terus terisi kembali setelah minyaknya terdistribusi, sebab pemerintah mengoptimalkan fasilitas pengolahan minyak berupa kilang-kilang yang ada di Indonesia.

Bahlil juga menyampaikan pasokan minyak mentah yang nantinya akan diolah dalam kilang-kilang tersebut telah dipastikan dalam kondisi yang aman, sebab pemerintah sudah mencari alternatif impornya.

“Kita tahu bahwa 20 persen dari crude (minyak mentah) kita itu diambil dari Selat Hormuz. Sekarang, kami sudah ganti ke tempat lain dan pasokannya insyaallah sudah mulai membaik,” ujar Bahlil.



Indonesia sudah tidak impor solar

Selain itu, salah satu faktor utama yang mendukung jaminan tersebut adalah kebijakan penghentian impor bahan bakar minyak jenis solar. 

"Saya harus yakinkan kepada rakyat Indonesia bahwa solar kita Insyaallah tidak lagi kita lakukan impor. Jadi clear," ujar Bahlil.

Dengan tidak lagi bergantung pada pasokan solar dari luar negeri, kebutuhan solar di dalam negeri dipastikan tidak akan terpengaruh oleh gejolak perang di kawasan Timur Tengah.

Namun, terkait bahan bakar bensin, Indonesia masih mengimpor sekitar 50% dari total kebutuhan, sementara sisanya 50% dipenuhi melalui produksi dalam negeri.

Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa meskipun negara-negara lain menghadapi kesulitan, Indonesia telah mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas dan ketersediaan energi nasional.