Bikin Senjata Anti-Satelit, Kenapa Rusia 'Takut' Starlink?

Uzone.id— Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, ruang angkasa kini ikut menjadi arena persaingan baru. Bukan lagi sekadar soal roket atau eksplorasi, tapi soal siapa yang menguasai infrastruktur paling strategis di orbit Bumi.
Dalam konteks inilah, Starlink milik SpaceX muncul sebagai salah satu aset paling sensitif. Terlepas solusi yang ditawarkan Starlink yang kerap memberikan akses internet di daerah pelosok hingga area terkena dampak bencana atau perang, Starlink kemudian menjadi target potensial bagi Rusia.
Ada temuan intelijen terbaru menyebut Rusia tengah mengkaji pengembangan sistem senjata anti-satelit baru yang berpotensi melumpuhkan banyak satelit sekaligus. Meski detailnya masih spekulatif, satu hal cukup jelas: Starlink berada di posisi paling rentan sekaligus paling strategis dalam konflik ini.
Bagi banyak orang, Starlink hanyalah layanan internet satelit untuk daerah terpencil. Namun sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, peran Starlink berubah drastis.
Jaringan ini menjadi tulang punggung komunikasi Ukraina, baik untuk sipil maupun militer.
Mengutip berbagai sumber, di medan perang Starlink digunakan untuk:
- komunikasi unit militer
- pengoperasian drone
- koordinasi logistik
- penargetan senjata
Di wilayah sipil, Starlink menopang koneksi rumah sakit, layanan darurat, pemerintahan lokal, hingga warga biasa di daerah yang infrastrukturnya rusak akibat perang.
Artinya, Starlink bukan hanya jaringan teknologi, tapi sudah menjadi infrastruktur strategis perang modern.
Inilah yang membuat Rusia memandangnya bukan lagi sebagai layanan komersial, melainkan sebagai bagian dari sistem pendukung militer lawan.
Pejabat Rusia beberapa kali menyatakan bahwa satelit komersial yang membantu operasi militer Ukraina bisa dianggap sebagai target sah. Dalam perspektif Moskow, Starlink bukan lagi pihak netral.
Dari dimiliki perusahaan Amerika, membantu militer Ukraina secara langsung, hingga memengaruhi keseimbangan medan perang.
Dengan kata lain, Starlink dipersepsikan Rusia sebagai perpanjangan dari infrastruktur pertahanan Barat, meski secara hukum tetap perusahaan swasta.
Kenapa bukan menargetkan satelit GPS atau sistem komunikasi lain?
Dari prediksi beberapa sumber, kombinasi unik Starlink memiliki kombinasi unik karena jumlahnya sangat besar dengan fungsi yang sangat penting serta memberikan dampak luas.
Menyerang Starlink berarti mengganggu komunikasi militer, layanan sipil, ekonomi digital, hingga stabilitas sistem orbit itu sendiri. Efeknya bukan hanya militer, tapi juga politis, psikologis, dan ekonomi.
Itulah sebabnya para analis menyebut bahwa ancaman terhadap Starlink bisa berfungsi sebagai alat tekanan geopolitik, bahkan jika tidak pernah benar-benar digunakan.
Banyak pakar juga menilai sistem senjata anti-satelit semacam ini terlalu berbahaya untuk benar-benar digunakan. Puing di orbit bisa menciptakan efek domino yang merusak satelit negara lain, termasuk milik Rusia sendiri.
Senjata anti-satelit Rusia ini dijuluki sebagai “zone-effect” yang dirancang untuk membanjiri orbit Starlink dengan ratusan ribuhigh-density pelletsatau fragmen kecil berkerapatan tinggi yang berpotensi melumpuhkan banyak satelit sekaligus.
Analis keamanan antariksa dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Clayton Swope, menilai ukuranpelletsyang sangat kecil memang bisa menyulitkan penentuan siapa pelakunya, tetapi bukan berarti dampaknya tidak akan terlihat.
“Kalau satelit mulai mati satu per satu dengan pola kerusakan yang mirip, orang akan bisa menarik kesimpulan sendiri,” ujarnya mengutipTVP World.
Ia juga mengingatkan bahwa puing dari serangan semacam ini berpotensi membahayakan wahana lain di orbit, termasuk Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), sebelum akhirnya perlahan turun dan terbakar di atmosfer Bumi.
Karena itulah, Swope melihat konsep ini lebih sebagai alat penangkal ketimbang senjata yang benar-benar dirancang untuk dipakai.
“Rasanya ini lebih seperti senjata untuk menakut-nakuti,” katanya.