Ekonomi Digital RI Tembus Rp1.656 Triliun, Terbesar di ASEAN

pada 7 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id- Pertumbuhan nilaiekonomi digital Indonesia diprediksi mengalami kenaikan hingga 2030 nanti.Bahkan, pertumbuhan dari tahun lalu mencapai 14 persen secarayear on year.Halini tercatat dalam laporan eConomy SEA 2025 yang dirilis oleh Google, Temasek,dan Bain & Company yang dirilis Kamis, (13/11). 

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa nilai ekonomi digitalIndonesia atau GMV-nya mencapai hampir USD99 miliar (Rp1.656 triliun) di tahun2025 ini, dan diperkirakan akan bertumbuh hingga 2030 dengan proyeksi angkaUSD180 hingga USD340 miliar dolar atau Rp3.010 hingga Rp5.686 triliun.

Dengan pertumbuhan yang mencapai dua digit ini, Indonesiadisebut masih menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar se-Asia Tenggara.

"Indonesia masih tetap menjadi ekonomi digital palingbesar se-Asia Tenggara dan GMV-nya sekarang mencapai hampir 100 miliar dolarAS. Yang menarik, seluruh sektor kunci ekonomi digital kita juga mencatatkanpertumbuhan global," jelas Veronica Utami, Country Director GoogleIndonesia dalam acara peluncuran eConomy SEA 2025, Kamis, (13/11).




Berikut rangkaian pertumbuhan ekonomi digital Indonesia daritahun 2023 hingga 2030:

Tahun 2023: USD80 miliar atau Rp1.338 triliun

Tahun 2024: USD87 miliar atau Rp1.455 triliun

Tahun 2025: USD99 miliar atau Rp1.656 triliun

Tahun 2030: Diproyeksikan USD180 hingga USD340 miliar dolarAS atau Rp3.010 - Rp5.686 triliun

Beberapa sektor menjadi ‘tulang punggung’ dalam pertumbuhanekonomi digital RI. Sektor e-commerce mencatat nilai yang paling besar denganpertumbuhan kenaikan mencapai 14 persen dari tahun lalu menjadi USD71 miliaratau Rp1.187 triliun.

Pertumbuhan sektor e-commerce ini disokong oleh transaksibelanja online, khususnya melalui fitur video atau biasa disebut videocommerce. Google mencatat jumlah penjual yang menggunakan konten video melonjakhingga 75 persen secara year-on-year menjadi 800 ribu penjual, sertapeningkatan volume transaksi 90 persen menjadi 2,6 miliar selama setahun.




Lalu disusul oleh sektor perjalanan online alias onlinetravel agent (OTA) yang mengalami pertumbuhan hingga 9 persen menjadi USD9miliar atau Rp150,53 triliun.

Selain itu, sektor transportasi dan makanan seperti taksionline dan ojol naik juga ikut menjadi penopang dengan kenaikan sebanyak USD10miliar atau Rp167,2 triliun.

Sektor media online seperti gaming hingga platform streamingonline  juga naik 16 persen menjadi  USD9 miliar dolar AS Rp150,53triliun, disusul pembayaran digital naik 27 persen, pinjaman daring aliaspinjol naik 29 persen, investasi online naik 25 persen, dan asuransi onlinenaik 18 persen.