Indonesia Harus Bersiap Hadapi Krisis BBM!

pada 2 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.id-Sejumlah negara, termasuk negara tetangga, seperti Filipina dan Bangladesh, sudah menyatakan krisis BBM. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Indonesia harus bersiap menghadapi krisis tersebut.

Purbaya menyampaikan krisis BBM terjadi bukan karena anggaran tidak mampu membelanjakan bahan baku minyak, melainkan dari suplainya. 



Apabila kondisi seperti ini terus terjadi, maka Indonesia harus siap-siap mengalami krisis energi.

“Darurat energi itu bukan di APBN. Darurat energi adalah kalau misalnya suplainya berhenti, itu yang saya takut. Bukan harganya, (tetapi) suplainya nggak ada, ini kan masih ada suplainya. Jadi kalau dibilang darurat, enggak, tetapi kita mesti siap-siap terus ke depan,” kata Purbaya dikutip dariAntara.

Seperti diketahui, Filipina telah menetapkan status darurat energi nasional, pada 24 Maret 2026, akibat krisis pasokan bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah. 

Menkeu memastikan hingga saat ini kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menyerap tekanan kenaikan harga BBM.

Purbaya mengatakan anggaran belanja dan pendapatan negara (APBN) hingga saat ini masih mampu menghadapi kenaikan harga minyak dunia. Kendati begitu, keputusan akhir tetap ada di Presiden Prabowo Subianto.

“APBN kita masih tahan. Saya enggak akan ubah APBN atau subsidi yang ada, sampai titik yang mungkin nanti harga minyaknya tinggi sekali,” ujarnya.

Menkeu mengungkapkan saat ini harga minyak mentah Indonesia (ICP) berada di kisaran 74 dolar AS per barel. Angka tersebut berada sedikit di atas asumsi awal APBN sekitar 70 dolar AS per barel.

“Iya (74 dolar AS per barel) sampai sekarang. Jadi kan melewati (asumsi APBN) 4 dolar kira-kira, kan? Itu yang dihitung. Nanti kalau naiknya ini (tinggi) baru kita hitung lagi berapa,” tuturnya.



Harga BBM di Amerika Melonjak 

Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat juga ikut melonjak tajam seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Bahkan harga solar per galonnya sudah tembus setara Rp90 ribuan dan bensin Rp65 ribuan.

Berdasarkan laporan Reuters, harga BBM eceran di Amerika Serikat sudah naik lebih dari 30 persen sejak akhir Februari, atau sejak eskalasi konflik mulai memukul pasar energi.

Saat itu rata-rata nasional harga bensin di SPBU Amerika sudah mencapai 3,88 dolar per galon atau setara Rp65.552. Artinya jika satu galon berisikan sekitar 3,7 liter maka harga per liter menyentuh Rp17 ribuan.

Kenaikan harga sejalan dengan lonjakan bahan bakunya. Minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) naik hampir 43 persen, dari 67,02 dolar (Rp1,132 juta) per barel menjadi 96,14 dolar (Rp1,624 juta) per barel dalam periode yang sama.

Lonjakan harga minyak mentah ini langsung mendorong ongkos produksi dan distribusi BBM, sehingga konsumen di Amerika harus membayar jauh lebih mahal saat mengisi tangki kendaraan mereka.