Marak Pelecehan Online Dialami Warga Asia, Dampaknya Gak Main-main

pada dalam 5 jam - by
Advertising
Advertising

Uzone.id— Pelecehan onlinedan penyalahgunaan teknologi ternyata tidak hanya berdampak pada aktivitas didunia maya saja tapi juga menimbulkan dampak yang lebih serius bahkan hinggamerusak psikologis korban.

Laporan terbaru Kaspersky mengungkap bahwa empat dari limamasyarakat di Asia Pasifik mengalami dampak psikologis dan sosial akibatpenyalahgunaan teknologi, termasuk pelecehan di media sosial.

Dampak tersebut mulai dari trauma, stres berkepanjangan,hingga berkurangnya interaksi dengan orang-orang terdekat.

Survei yang dilakukan Kaspersky terhadap 7.600 responden di19 negara menunjukkan bahwa 80 persen responden di Asia Pasifik menyadaripenyalahgunaan teknologi dapat memicu masalah psikologis dan sosial.




Secara global, 79 persen responden menyebut depresi, trauma,dan stres jangka panjang sebagai dampak utama, sementara 73 persenmengaitkannya dengan rusaknya reputasi hingga isolasi sosial.

Pelecehan digital yang dialami para korban tidak berhenti dilayar ponsel atau komputer. Sebanyak 55 persen korban di Asia Pasifik mengakumenjadi lebih berhati-hati saat menggunakan internet.

25 persen lainnya memilih mengurangi aktivitas di duniadigital, 18 persen membatasi komunikasi dengan teman maupun keluarga, dansekitar 12 persen lainnya bahkan harus mengakhiri hubungan dengan orang lainakibat dari tindakan ini.

Dalam kasus yang lebih serius, 4 persen korban mengakukehilangan atau meninggalkan pekerjaan, sementara 3 persen terpaksa putussekolah akibat tekanan yang mereka alami.

Yang lebih mirisnya, kebanyakan dari korban pelecehan onlineini memilih untuk diam dan tidak mencari bantuan, sebanyak 13 persen korban diAsia Pasifik bahkan mengaku tidak melakukan tindakan apapun setelah mengalamipelecehan berbasis teknologi tersebut.




Orang-orang terdekat dan saksi yang mengetahui kondisi inipun memilih untuk tidak bertindak. Sebagian (32 persen) dari mereka mengakutidak tahu bagaimana cara membantu korban, sedangkan 23 persen merasa raguapakah mereka perlu ikut campur dalam situasi tersebut.

Pelecehan online sendiri bisa muncul dalam beberapatindakan, seperti penyebaran foto dan video pornografi secara online untukbalas dendam (revenge porn), memberi komentar di media sosial yang berbauseksual, manipulasi foto dengan AI dan banyak lagi.

Adanya hasil riset ini menunjukkan masih adanya kesenjanganantara kesadaran masyarakat dan tindakan nyata yang diakibatkan oleh tindakandi ruang digital, khususnya pelecehan digital.

Peneliti Keamanan Utama Kaspersky, Tatyana Shishkova,mengatakan bahwa banyak orang memahami bahwa pelecehan digital dapatmenimbulkan tekanan emosional, tetapi belum menyadari dampaknya terhadapkarier, pendidikan, maupun hubungan sosial. 




“Orang-orang menyadari rasa sakit emosional akibat pelecehandigital tetapi masih meremehkan seberapa jauh konsekuensinya dapat menjangkaukarier, pendidikan, dan hubungan di dunia nyata. Yang sama mengkhawatirkannyaadalah keheningan yang mengelilinginya,” katanya dalam keterangan yang diterimaUzone.id.

Senada dengan itu, Managing Director Kaspersky Asia PasifikAdrian Hia mengingatkan bahwa ruang digital kini telah menjadi bagian darikehidupan sehari-hari. Karena itu, keamanan siber harus menjadi tanggung jawabbersama agar internet tetap menjadi tempat yang aman bagi semua orang.

“Meningkatnya ancaman yang didukung teknologi adalahrealitas mendesak yang harus disadari dan dihadapi. Dengan meningkatkankesadaran, memperkuat pertahanan siber kita, dan menumbuhkan tanggung jawabkolektif, kita dapat bekerja untuk memastikan lingkungan digital yang lebihaman bagi kita semua,” ujar Adrian.

Melihat hal ini, Kaspersky menyarankan beberapa langkahsederhana untuk mengurangi risiko menjadi korban penyalahgunaan teknologiseperti mengenali tanda-tanda perilaku yang mengarah pada pelecehan digital.

Segera mengambil tindakan jika menemukan aktivitasmencurigakan, gunakan kata sandi yang kuat dan mengaktifkan autentikasi duafaktor (2FA), batasi akses ke perangkat dan akun pribadi.

Bagi korban yang mengalami pelecehan online, segera caribantuan kepada keluarga, teman, atau organisasi yang berwenang dan bagi saksidan orang sekitar, lebih berani untuk melakukan pelaporan dan bertindaksuportif pada korban.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap bahayapelecehan online ini diharapkan bisa mendorong lebih banyak korban untukmencari bantuan serta menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi semuapengguna.