Meta dan YouTube Belum Mau Hapus Akun Anak di RI, Ini Alasannya

Uzone.id— Dari 8 platformmedia sosial yang diminta Komdigi untuk membatasi pengguna di bawah umur,YouTube dan platform milik Meta (Facebook, Instagram dan Threads) disebut belumsepenuhnya patuh pada ketentuan yang ditetapkan Komdigi berdasarkan PP Tunas.
Menanggapi hal ini, perwakilan YouTube maupun Meta punmenyampaikan pernyataannya terkait implementasi PP Tunas yang sudah berlakusemenjak 28 Maret 2026 kemarin.
Dalam pernyataannya, Meta Indonesia mengatakan bahwapihaknya mendukung penerapan PP Tunas, namun akan terus berdiskusi denganKomdigi selama beberapa bulan kedepan terkait penilaian mandiri dalam platformmereka.
“Meta berkomitmen untuk melindungi remaja di platform kamidan mendukung implementasi yang dapat diterapkan dari PP Tunas. Kami akan terusberdiskusi dengan KOMDIGI dalam beberapa bulan ke depan, termasuk mengenaipenilaian mandiri berbasis risiko dan akan mempersiapkan untuk hasil akhirnya,”kata Berni Moestafa, Kepala Kebijakan Publik Meta Indonesia dan Filipina.
Alih-alih memenuhi permintaan Komdigi untuk menonaktifkanakun anak-anak, Meta sendiri menyebut bahwa semenjak tahun pihaknya sudahmeluncurkan Akun Remaja di Indonesia baik itu di Facebook maupun di Instagram.Peluncuran akun khusus untuk anak remaja ini bertujuan untuk memberikan yanglebih aman dan melindungi anak-anak.
Termasuk untuk mengatasi kekhawatiran utama para orang tuadan mengatur dengan siapa mereka berinteraksi secara online. Akun khusus inijuga akan mengatur konten apa saja yang mereka lihat, serta apakah waktu merekadigunakan secara produktif. Semua pengalaman ini diaktifkan secara otomatis.
“Kami telah menempatkan puluhan juta remaja Indonesia diFacebook dan Instagram ke dalam Akun Remaja, yang kami yakini memberikanpengalaman berisiko rendah sebagaimana dimaksud dalam PP Tunas. Kami jugaberkomitmen untuk terus memberikan edukasi kepada orang tua dan wali agarmereka mengetahui tentang Akun Remaja dan fitur-fitur keamanan yang tersedia,”tambah Berni.
Di sisi lain, YouTube menyebut bahwa pembatasan akun secaramenyeluruh pada pengguna di bawah 16 tahun akan membuat mereka kehilanganberbagai perlindungan hingga fitur keamanan.
“Pembatasan akun secara menyeluruh bagi pengguna di bawah 16tahun justru akan membuat kaum muda yang mengakses YouTube kehilangan berbagaiperlindungan, kontrol orang tua, serta fitur keamanan yang telah kamiintegrasikan ke dalam akun yang diawasi(supervised accounts),” kataperwakilan YouTube.
Mereka percaya bahwa anak-anak sendiri layak untukmendapatkan ruang untuk belajar, tumbuh dan juga melakukan eksplorasi secaraaman di ruang digital. YouTube juga menyebut bahwa pihaknya telah banyakberinvestasi dalam berbagai teknologi dan sistem perlindungan untuk menjagaanak-anak di ruang digital.
“Itulah sebabnya kami selaras dengan tujuan PemerintahIndonesia dalam PP Tunas, dan mengapresiasi pendekatan penilaian mandiriberbasis risiko(risk-based self-assessment)yang diusungnya,” katanya.
Hingga saat ini, Google mengklaim kalau 92 persen orang tuadi Indonesia yang menggunakan fitur pengawasan mereka sepakat bahwa fiturtersebut menghadirkan lingkungan digital yang lebih aman dan terkontrol.
Fitur-fitur tersebut antara lain pengaturan waktu tayangandi YouTube Shorts hingga nol, verifikasi usia, penguncian waktu layar lewatFamily Link, hingga perlindungan kesejahteraan.
Untuk mendukung penerapan PP Tunas, YouTube juga akanmeluncurkan teknologi inferensi usia berbasis AI di Indonesia. Fitur inirencananya akan dirilis sesegera mungkin, jauh sebelum tenggat waktu penerapanPP Tunas pada Maret 2027.
“Teknologi ini memungkinkan kita untuk memberikanperlindungan yang tepat untuk remaja secara otomatis,” ujar mereka.