Modus Scam Online Makin Kreatif, Ngaku Jadi Interpol hingga Hitmen

pada 7 bulan lalu - by
Advertising
Advertising

Uzone.idModuspenipuan online semakin hari semakin ‘cerdas’ saja, setelah bosan denganpenipuan biasa-biasa saja, kini penipu online melakukan cara yang lebihekstrim, yaitu nyamar jadi peretas hingga hitman alias pembunuh bayaran.

Yap, konsepnya memang agak aneh ya, bisa-bisanya peretasnyamar jadi ‘peretas’. Meski nyeleneh tapi modus ini benar-benar terjadi. Haltersebut diungkap oleh Kaspersky, Senin, (17/11).

Pelaku penipuan ini menyamar sebagai peretas yang mengancamakan menyebarluaskan data pribadi, penegak hukum seperti pengadilan hinggakepolisian yang mengedarkan surat panggilan palsu, atau bahkan pembunuh bayaranyang menuntut tebusan.




Biar makin meyakinkan, mereka memasukkan detail pribadiseperti nama lengkap dan nomor telepon dalam email palsu agar tampak kredibeldan memicu kepanikan di calon korbannya.

Skema paling umum, mereka mengaku telah menyusup keperangkat korban dan memiliki akses ke kamera, mikrofon, riwayat penelusuran,dan berkas sensitif. Setelah itu mereka mengancam akan merilis konten eksplisityang diambil melalui webcam atau rekaman layar yang diduga diambil saat korbansedang menonton konten-konten dewasa. 

Agar semakin panik, email-email ini juga menyertakan narasiterperinci tentang dugaan pelanggaran, termasuk penjelasan jenis malware dansaran tentang keamanan yang lebih baik.

Biasanya, uang diminta berkisar ratusan dollar Amerika dandiminta dalam bentuk kripto. Sebagai tebusan, mereka berjanji untuk menghapusdata setelah pembayaran. 

Modus yang tak kalah bikin panik adalah penipuan email yangmenyamar sebagai pembunuh bayaran (hitmen).

Dalam skema ini, pelaku menyebut mereka sudah membuatkontrak dengan pihak tertentu untuk ‘menargetkan’ si korban. Tapi, demi lolosdari target hitmen, penipu akan mengampuni dan membebaskan mereka asalkanmemberi tebusan dengan harga yang lebih tinggi.

Email palsu ini menyertakan dompet aset kripto untuktebusan, membingkai penipu tersebut sebagai perantara yang ‘baik hati’.




Sama seperti yang sebelumnya, mereka mengandalkan rasa takutcalon korban dengan menjanjikan nyawa korban sebagai imbalan pembayaran.

Ada pula skema penipuan yang mengaku menjadi Interpol,Europol hingga pihak berwajib. Mereka mengirimkan dokumen ‘panggilan’ berupaPDF atau DOC yang menuduh calon korbannya melakukan kejahatan serius sepertieksploitasi anak, eksibisionisme, atau perdagangan manusia. 

Dokumen-dokumen ini mengutip pasal-pasal hukum, menampilkantanda tangan dan stempel palsu, dan mendesak si calon korban untuk segeramenanggapi email tersebut.

Setelah itu, calon korban akan diminta untuk membayar dendaberupa kripto demi menghindari tuntutan hukum, yang seringkali berujung padatransfer kripto.

Modus ini sangat umum di Eropa, dengan pesan dalam bahasaseperti Prancis, Spanyol, dan Portugis. Namun, hal ini bisa jadi terjadi kenegara-negara lainnya termasuk ke Indonesia.

Anna Lazaricheva, Analis Spam Senior Kaspersky para penipuini menggunakan berbagai taktik untuk menghindari solusi perlindungan.

“Ini termasuk menyematkan ancaman utama dalam lampiran untukmenghindari pemindaian teks isi, mencampur huruf dari alfabet yang berbeda(misalnya, mengganti huruf Latin dengan huruf Sirilik yang serupa), menambahkantanda diakritik melalui kode HTML, memvariasikan font dalam markup HTML,menyisipkan simbol acak atau tanda baca di antara kata, dan menyembunyikan teksdalam tabel HTML yang tidak terlihat,” tambahnya.

Demi menghindari penipuan seperti ini, Kaspersky menghimbaupengguna untuk verifikasi pengirim, mengabaikan lampiran dan tautan file yangtidak jelas, jangan klik tautan yang mencurigakan karena dapat mengarah kesitus phishing atau penipuan.

Cari format teks yang tidak biasa, huruf campuran darialfabet yang berbeda, atau simbol acak karena biasanya ini adalah tanda bahayaspam dan jangan mudah percaya karena biasanya, lembaga penegak hukum yang sahkemungkinan besar tidak akan mengirimkan surat panggilan melalui email ataumeminta pembayaran kripto.